Kamis, 14 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

79 Tahun HMI: Masih Relevankah Sintesis Islam dan Nasionalisme?

Ketika Lafran Pane mendirikan HMI pada 1947, Indonesia bahkan belum sepenuhnya yakin ingin menjadi apa.

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Yang ia tawarkan bukan teriakan revolusioner, melainkan “sintesis sunyi”. 

Islam diposisikan sebagai sumber nilai dan etika, nasionalisme sebagai tanggung jawab sejarah. 

Keislaman tidak dilawankan dengan keindonesiaan, dan keindonesiaan tidak dibersihkan dari nilai keimanan. 

Sintesis ini bersifat praksis, bukan ideologis sempit. 

Ia tidak menuntut keseragaman, tetapi kedewasaan. Tidak mencetak massa, tetapi kader.

Cak Nur dan Tantangan yang Berubah

Beberapa dekade kemudian, sintesis ini tidak ditinggalkan, tetapi “diperdalam dan diperluas” oleh Nurcholish Madjid

Cak Nur hadir ketika tantangan berubah. 

Indonesia relatif stabil secara politik, tetapi Islam menghadapi bahaya baru: penyempitan makna. 

Islam mulai direduksi menjadi identitas politik, slogan, dan kendaraan kekuasaan. 

Di titik ini, fondasi Lafran Pane masih kokoh, tetapi membutuhkan pendalaman intelektual agar tidak membeku menjadi rutinitas organisasi.

Cak Nur melakukan apa yang jarang dilakukan tokoh gerakan: ia mengajak berpikir ke dalam. 

Tauhid ia tafsirkan sebagai “pembebasan”, iman sebagai “etika publik”, dan Islam sebagai sumber nilai kemanusiaan, bukan ideologi kekuasaan.

Slogan terkenalnya, “Islam yes, partai Islam no”, bukan penolakan politik, melainkan penolakan terhadap penyempitan Islam. 

Islam terlalu besar jika dipenjarakan dalam satu kendaraan politik jangka pendek.

Jika Lafran Pane membangun fondasi historis dan moral HMI, maka Cak Nur menaikkan “arsitektur pemikiran Islam Indonesia modern”. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved