Selasa, 14 April 2026

Pojok Humam Hamid

Iran vs Amerika: Ketahanan yang Tidak Biasa dan Kegagalan Strategi Superpower

Setiap serangan AS, sekadar meningkatkan ketangguhan Teheran dan memperkuat posisi regionalnya. 

Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

KONFLIK terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memperlihatkan satu kenyataan keras: kekuatan militer superior tidak otomatis berarti kemenangan. 

Serangan udara AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Teheran mungkin terlihat dramatis di media, tetapi pertanyaannya tetap sama - siapa yang benar-benar menang? 

Iran, dengan jaringan proksi yang tersebar dari Irak hingga Yaman dan kemampuan militer mandiri yang terus dikembangkan sejak Revolusi 1979, membuktikan bahwa mereka bukan korban pasif. 

Setiap serangan AS, sekadar meningkatkan ketangguhan Teheran dan memperkuat posisi regionalnya. 

Sementara AS mengandalkan pesawat dan rudal, Iran mengandalkan strategi bertahan yang telah teruji puluhan tahun menghadapi sanksi, isolasi, dan tekanan global.

Iran melancarkan balasan kilat, rudal dan drone membelah langit Timur Tengah hanya beberapa jam setelah serangan awal.

27 pangkalan AS di berbagai negara Teluk dan Timur Tengah lainnya bergetar, hangar hancur, radar terbakar, sementara bandara sipil di Abu Dhabi tercekik asap dan puing. 

Di Tel Aviv, bangunan berderak, jendela pecah, belasan tewas, warga berlari menyelamatkan diri. 

Debu dan kobaran api menyelimuti pelabuhan Dubai, korban sipil terserak, ketakutan merayap di jalanan. 

Pangkalan Israel dan fasilitas militer AS menjadi sasaran presisi, ledakan menggema. 

Balasan Iran bukan sekadar perhitungan; ia adalah amukan yang menandai babak baru konflik, di mana setiap detik berarti kehancuran dan ketegangan semakin mencekam.

Dari Bosnia Hingga Bagdad: Mengapa Iran Bertahan?

Sejarah intervensi militer AS tidak menguntungkan klaim superioritas mereka. 

Dari Bosnia hingga Irak, Libya, Suriah, dan Afghanistan, hasil nyata jarang mencerminkan kemenangan politik. 

Secara probabilitas statistik, hanya sekitar 20-30 persen intervensi jangka panjang yang bisa dianggap berhasil. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved