Jumat, 5 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Iran vs Amerika: Ketahanan yang Tidak Biasa dan Kegagalan Strategi Superpower

Setiap serangan AS, sekadar meningkatkan ketangguhan Teheran dan memperkuat posisi regionalnya. 

Tayang:
Editor: Zaenal
Serambinews.com/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Sisanya berakhir dengan pemerintah baru dan negara yang rapuh, konflik berulang, atau kekacauan total. 

Bahkan Bosnia, yang relatif sukses, memerlukan diplomasi internasional yang rapi dan intervensi minimal. 

Irak, Libya, dan Afghanistan menunjukkan sisi lain: negara bisa hancur, pemerintahan runtuh, dan kekacauan merajalela, meski AS menguasai udara dan darat.

Akhirnya mereka mundur dan keluar secara memalukan.

Iran, berbeda dengan negara-negara itu, menonjol sebagai negara berperadaban yang tangguh. 

Struktur politiknya stabil, legitimasi domestik relatif kuat, dan jaringan regional melalui Islamic Revolutionary Guard Corps memungkinkan Teheran menahan gempuran luar. 

Superioritas militer lawan tidak mengubah fakta bahwa Iran mampu bertahan, merespons setiap tekanan, dan bahkan mengubah serangan menjadi alat memperkuat posisi. 

Rudal, drone, dan kemampuan cyber bukan sekadar pertahanan - mereka adalah simbol kecerdikan strategis yang membuat setiap klaim kemenangan AS atau Israel rapuh dan sementara.

Baca juga: Perang Iran–AS Berkecamuk, Sosiolog Aceh Kupas Arti Sebenarnya Kata “Menang” bagi Amerika

Baca juga: Ulama Aceh Kecam Penyerangan AS-Israel ke Iran, Minta Pemimpin Muslim Bantu Teheran

Prabowo, Diplomasi Simbolik, dan Ketahanan Iran

Di tengah situasi ini, inisiatif diplomasi pihak ketiga seperti tawaran Presiden Prabowo Subianto terlihat lebih sebagai gesture simbolik daripada langkah nyata. 

Meski secara domestik bisa meningkatkan citra Indonesia sebagai aktor global, realitasnya pahit: AS tidak pernah menerima mediasi pihak ketiga dalam konflik strategis yang menyangkut kepentingannya.

Di pihak lain, Iran akan menaruh keraguan serius terhadap peran Indonesia karena posisi Jakarta yang dianggap berpihak kepada Washington melalui “Board of Peace” era Trump. 

Gesture diplomasi ini penting untuk opini publik, tetapi tidak mengubah realitas kekuatan atau arah konflik. 

Gesture diplomasi seperti tawaran Prabowo hanya memperlihatkan batas pengaruh pihak ketiga dalam konflik global: simbol penting, tetapi praktis tidak berdaya.

Kemenangan dalam konteks ini bersifat relatif dan sangat terbatas. 

Tekanan untuk menunda program nuklir atau melemahkan jaringan proksi hanya kemenangan simbolik, karena Teheran tetap memegang kendali strategis dan mampu menanggapi di berbagai front. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved