Kupi Beungoh
Wakaf Teungku Anjong
Salah satu bentuk wakaf yang jejak historisnya masih dapat ditelusuri hingga kini ialah Wakaf Teungku Anjong (dalam bahasa Aceh disebut...
Sayid Abu Bakar bin Husein Balfaqih masyhur dengan laqab Teungku Anjong di Aceh atau di Tanah Melayu lainnya beliau dikenal dengan Tuan Besar Aceh. Berdasarkan referensi yang penulis dapati, laqab Teungku Anjong berasal dari kegiatan berkhalwat oleh Sayid Abu Bakar bin Husein Balfaqih di anjong rumahnya yang dilakukan secara istiqamah menyebabkan masyarakat Aceh mengenal beliau dengan sebutan itu. Sedangkan bagi masyarakat diluar Aceh, beliau dikenal dengan sebutan Tuan Besar Aceh karena kemasyhuran beliau dalam mensyiarkan Islam serta karamah-karamah beliau yang banyak disebutkan dalam naskah-naskah kuno di Aceh.
Pertalian keilmuan Teungku Anjong sejauh ini tampak kuat terhubung dengan para ulama-ulama yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Namun, tidak tertutup kemungkinan bahwa beliau juga memiliki sanad keilmuan melalui jalur ulama di luar wilayah Hadramaut. Jika menilik riwayat perjalanan keilmuan keluarga Balfaqih yang dikenal aktif menuntut ilmu ke berbagai wilayah, sangat mungkin Teungku Anjong juga menjalin hubungan keilmuan dengan para ulama di Haramain dan pusat-pusat keilmuan lainnya. Hasil data yang penulis dapatkan bahwa pertalian keilmuan Teungku Anjong bersambung kepada sejumlah ulama diantaranya, Sayid Husein bin Umar Balfaqih (w.1157 H), Sayid Abdurahman bin Abdullah Balfaqih (w.1162 H), Sayid Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Hadad (w.1188 H) dan Sayid Muhammad bin Hamid Al-Wahad (w.1160 H).
Dari data-data yang berhasil dihimpun, penulis mendapati setidaknya ada empat orang murid Teungku Anjong. Murid-murid beliau yang penulis dapati adalah Sayid Husein bin Abdurrahman Aidid di Pulau Pinang, Teungku Ja’far atau masyhur dikenal Leubai Dhafa di Trumon, Syekh Abdullah bin Umar Bagharib dan Sayid Husein bin Abdullah Balfaqih di Hadramaut. Dimana tidak menutup kemungkinan masih banyak murid-murid Teungku Anjong yang masih perlu dilakukan penelusuran dan dikaji lebih mendalam.
Sejumlah situs-situs yang berhubungan dengan Teungku Anjong adalah masjid atau dayah beliau serta komplek makam Teungku Anjong. Mesjid Teungku Anjong merupakan mesjid sekaligus Dayah Teungku Anjong yang didirikan oleh Sayid Abu Bakar bin Husein Balfaqih pada pertengahan abad ke-18 M/12 H. Menurut sebagian riwayat menyebutkan bahwa sebelum berdiri menjadi mesjid, tempat tersebut adalah zawiyah atau dayah yang berfungsi sebagai pusat pendidikan agama. Seiring berjalannya waktu dan hilangnya fungsi dayah, maka tinggallah sebuah mesjid yang sekarang dikenal dengan nama Mesjid Teungku Anjong. Mesjid ini telah berusia lebih dari dua abad sejak didirikan, walaupun bangunan fisiknya telah berubah secara material, tetapi design utama masjid tidak banyak berubah.
Selain sebagai sarana ibadah dan belajar mengajar, Mesjid Teungku Anjong juga menjadi tempat saksi sejarah perjuangan kaum muslimin melawan kafir Belanda. Mesjid ini dijadikan pusat perjuangan kaum muslimin pada saat perang Belanda di Aceh pada tahun 1873 M. Para pejuang Aceh mengatur kekuatan, strategi serangan dan mengobarkan semangat jihad melawan Belanda dari mesjid tersebut. Selain itu, mesjid Teungku Anjong pernah juga digunakan sebagai ikon dan logo dalam MTQ ke-30 se-Kota Banda Aceh pada tahun 2008.
Makam Teungku Anjong terletak di samping mesjidnya. Bersebelahan dengan makam beliau terdapat makam isterinya, dimana kedua makam tersebut adalah batu Aceh tipologi abad ke-18 M. Pada makam keduanya terdapat ornamen, inskripsi dan juga epitaf. Kedua makam tersebut terdiri dari bagian batu badan, bagian batu kepala dan bagian batu kaki. Pada bagian ornamen, kedua makam tersebut dihiasi dengan Seni Ornamen Aceh (SOA), sedangkan pada bagian inskripsi keduanya dihiasai dengan Seni Khat Islam Aceh (SKIA). Pada bagian epitaf makam Teungku Anjong disebutkan bahwa beliau kembali kerahmatullah pada 14 Ramadhan 1196 H. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Sayed-Murthada-Al-Aydrus-Ketua-Yayasan-Asyraf-Aceh-Darussalam-foto-terbaru.jpg)