Jurnalisme Warga
Ihwal Terbentuknya Kerajaan Aceh Darussalam
Pada artikel ke delapan ini, barulah saya menukik ke dalam kisah sejarah yang mengawali bedirinya Kerajaan Aceh Darussalam.
T.A. SAKTI, penulis, peminat naskah lama dan sastra Aceh, melaporkan dari Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar
TUJUH artikel mengenai Hikayat Aceh sudah saya dedahkan dalam rubrik “Jurnalisme Warga” Harian Serambi Indonesia sejak hikayat itu diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (Memory of the World) lebih dua tahun lalu.
Walaupun sudah “segantang” kata (sukatan Aceh: dua ruas bambu), saya membahas Hikayat Aceh, tapi belumlah terjankau asoe dalam (isi dalam) dari kisah yang dikandungi hikayat itu. Semuanya masih menyangkut sisi luar. Semisal, kondisi Hikayat Aceh ketika berada di Belanda tahun 1847, pembahasan untuk memahami Hikyat Aceh, halaman-halaman yang hilang lebih dua pertiga naskah, menurut perkiraan saya, berbagai kekurangan lain, dan beberapa kelebihannya sehingga diakui UNESCO, badan resmi PBB, sebagai Warisan Budaya Dunia.
Pada artikel ke delapan ini, barulah saya menukik ke dalam kisah sejarah yang mengawali bedirinya Kerajaan Aceh Darussalam.
Setelah isi Hikayat Aceh melewati cerita-cerita sejarah bercampur mitos dan legenda, berdirilah dua buah kerajaan, yang sekarang termasuk dalam wilayah Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Kedua kerajaan itu adalah Kerajaan Makuta Alam (Aceh: Meukuta Alam) yang dipimpin raja Muzaffar Syah dan Kerajaan Darul Kamal yang rajanya bernama Inayat Syah.
Batas kedua pemerintahan itu adalah Krueng Aceh (Sungai Aceh). Meukuta Alam di bagian utara, sedangkan Darul Kamal di sebelah selatan.
“Kentut api”
Meukuta Alam, Muzaffar Syah adalah kakek buyut (dalam Hikayat Aceh disebut: datu Perkasa ‘Alam)) Sultan Iskandar Muda dari sebelah ayah. Sedangkan Sultan Inayat Syah merupakan datu Sultan Iskandar Muda di pihak ibu. Kedua kerajaan kecil itu saling berperang sepanjang masa sampai berpuluh kali atau puluhan tahun.
Tujuan peperangan itu untuk memperluas wilayah masing-masing, tetapi tak pernah kalah bagi kedua belah pihak.
Sultan Muzaffar Syah memiliki senjata canggih berupa sebuah meriam hasil rampasan di Teluk Lamuri dari pasukan Portugis. Sebelum pindah ke Meukuta Alam (sekarang Kuta Alam), Sultan Muzaffar Syah adalah raja terakhir di Kerajaan Lamuri, dekat Krueng Raya sekarang.
Ketika para hulubalang dan rakyat Darul Kamal mendengar bahwa pihak Makota Alam memiliki senjata meriam, mereka menyatakan tidak merasa takut serta menertawakannya.
Dalam Hikayat Aceh disebut mereka mengatakan, ”Apa kita takutkan akan kentut api itu?” Kata teman yang sudah mengenal meriam, “Betapa perinya kamu tiada takut? Bahwa bedil itu buahnya besi, besarnya seperti buah kelambir (kelapa –TA).
Maka, sambung si pemberani itu, “Jika demikian, baik kita perbuat raga (keranjang). Apabila buah bedil itu datang, maka kita tahan dengan raga tersebut.”
Saat perang terjadi, pihak pasukan Darul Kamal memang telah menyiapkan puluhan keranjang untuk menangkap peluru meriam. Puluhan orang berderet menanti tembakan meriam sambil memegang raga bersama-sama.
“ Pucuk dicinta ulam tiba,” pihak penembak siap mendorong pelatuk meriam, sementara di sebelah sana para penunggu terjangan peluru sudah cukup bersiaga.
“Tuumm...tum...tumm,” bunyi dentuman meriam. Masyaallah, puluhan pasukan Darul Kamal bersimbah darah. Ada yang kepalanya putus, dadanya robek, pahanya diterbangkan peluru meriam, dan sebagainya.
Peristiwa serupa berulang kali terjadi. Namun, pihak Darul Kamal tetap tidak terkalahkan. “Maka, dalam demikian itu pun tiada jua tewas dan alah hulubalang Darul Kamal itu daripada tegar hati dan berani mereka itu,” begitu cuplikan Hikayat Aceh.
Pengarang Hikayat Aceh memang menuliskan, kenapa hal demikian bisa terjadi?
Kata pengarang, hal itu boleh berlaku, karena mereka berani hati dan disebabkan mereka tinggal di hulu sungai alias pedalaman dekat gunung. Sementara rakyat Meukuta Alam menjadi luas wawasan mereka lantaran berdomisili di hilir sungai hampir laut. “Niscaya ada jua manusia pulang pergi kepadanya, berolehlah ia bicara (pengalaman –TA) yang sempurna.”
Strategi licik
Setelah sekian lama waktu berlalu, timbullah strategi licik di batin Muzaffar Syah, Raja Meukuta Alam. Rahasia negara itu disimpan sang raja dalam batinnya.
Ia mengirim para hulubalangnya sebagai utusan ke Darul Kamal untuk membuka jalan (Aceh: cah rot), karena hendak berbesan dengan Inayat Syah, Raja Darul Kamal.
Para utusan terdiri atas orang-orang yang bijak dan betah berbicara dengan lemah lembut dan mampu merebut hati pihak lawan bicara. Bawaan hadiah pun merupakan barang-barang yang sangat berharga dan mulia, menggiurkan siapa pun yang melihatnya.
Sambutan dari pihak tuan rumah pun amat meriah. Isi pembicaraan kedua pihak belumlah terfokus kepada perihal lamaran. Pertemuan itu boleh disebut sebagai antaran obat penyembuh luka lama, setelah puluhan tahun mereka saling berperang.
Perutusan dari Raja Muzaffar Syah bukan hanya sekali berkunjung ke Darul Kamal, melainkan beberapa kali dengan bawaan dan hadiah yang semakin berlipat ganda.
Meminang menantu
Setelah rasa persahabatan antara dua kerajaan itu terajut kuat dan melekat, maka sampailah pembicaraan resmi mengenai pertunangan (Aceh: me tanda) putra Raja Meukuta Alam dengan putri Raja Darul Kamal yang bernama Putri Setia Indera. Ditentukanlah hari “H” lamaran tersebut.
Sejak itu, kedua pihak terus mempersiapkan diri. Kedua istana yang diselangi sebuah sungai besar, siang-malam para hulubalang dan rakyat bekerja memperindah sekitar dan istana raja mereka.
Raja Muzaffar Syah mempersiapkan strategi liciknya. Ke dalam tempat kotak panjang berisi bahan bawaan pertunangan disuruh isi dengan beragam senjata. Dalam Hikayat Aceh disebutkan, ”Segala senjata, daripada tombak dan lembing dan perisai dan utar-utar dan pedang dan syamsir dan beberapa daripada senjata yang lain. Maka ditutupnya dengan kain kekuningan yang bertelapuk emas seperti kelengkapan raja mengarak daf’a.” (bawaan tunangan – TA).
(Lihat: Seri Penerbitan Museum Aceh Nomor 17 yang berjudul “Hikayat Aceh” (Kisah Kepahlawanan Sultan Iskandarmuda), yang merupakan disertasi Teuku Iskandar di Universitas Leiden, Belanda, yang telah diterjemahkan oleh Aboe Bakar Bsf, 1986, halaman 79- 81).
Sementara itu, di pihak Raja Inayat Syah, para hulubalang, dan para pembesar kerajaan sudah berbaris di depan istana untuk menyambut kedatangan rombongan telangkai (teulangke, pelamar).
Ketika rombongan pihak calon ‘linto baro’ sampai di halaman istana, para hulubalang Raja Inayat Syah beranjak secara tertib untuk menyambutnya.
Di saat penyambutan baru dimulai, para hulubalang Raja Muzaffar Syah segera mengambil senjata dalam kotak bawaan dan menyerbu semua hulubalang Raja Inayat Syah. Perang yang terjadi tak disangka itu membuat hulubalang Raja Inayat Syah kalah telak dan Raja Inayat Syah pun menyerah kalah. Gabungan Kerajaan Meukuta Alam dan Kerajaan Darul Kamal itu diberi nama Kerajaan Aceh Darussalam (1514–1904 M).
Boleh jadi, pepatah Aceh yang berbunyi, “Suara mameh bek tapeucaya, akhe masa keunong tipee (suara manis jangan dipercaya, pada akhirnya bisa saja itu tipuan), saya rasa bersumberkan pada peristiwa sejarah yang tak diduga-duga tersebut. Wallahu’alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)