Jumat, 12 Juni 2026

Kupi Beungoh

Nahkoda Baru dan USK dalam Peta Kampus Dunia

Seperti yang dicatat para sejarawan pendidikan tinggi, momen seperti inilah yang kerap menentukan arah sebuah institusi selama puluhan tahun ke depan.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Mailizar, S.Pd., M.Pd., Guru Besar Teknologi Pembelajaran Matematika, Universitas Syiah Kuala 

*) Oleh: Prof Mailizar

PADA  9 Maret 2026, Universitas Syiah Kuala (USK) memasuki babak baru perjalanannya. Profesor Mirza Tabrani dilantik sebagai rektor, menjadi nahkoda baru bagi kampus yang selama ini dikenal sebagai jantong hate — jantung hati — masyarakat Aceh.

Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar peristiwa administratif. Seperti yang dicatat para sejarawan pendidikan tinggi, momen seperti inilah yang kerap menentukan arah sebuah institusi selama puluhan tahun ke depan.

Saya sengaja memilih kata "peta" alih-alih "peringkat" dalam tulisan ini, karena peta memberi dua makna sekaligus.

Pertama, peta memungkinkan orang lain melihat posisi kita di antara universitas-universitas lain.

Kedua, dan ini yang lebih penting, peta adalah alat navigasi, penunjuk arah ke mana langkah berikutnya harus diayunkan.

Pertanyaannya kini bukan hanya di mana posisi USK? tetapi juga: ke mana rektor baru akan membawa USK?

Lanskap Global yang Berubah

Dunia akademik global tidak berdiam diri. Universitas-universitas Cina kini tengah mengguncang tatanan yang selama puluhan tahun didominasi Amerika Serikat dan Eropa.

Tsinghua University, Peking University, Fudan University, dan Shanghai Jiao Tong University bukan hanya meroket dalam peringkat THE dan QS, tetapi juga mulai menyaingi universitas-universitas barat dalam produksi riset, kolaborasi internasional, dan inovasi teknologi. 

Medan persaingan akademik global sedang bergeser, dan institusi yang bergerak tanpa visi yang jelas akan tergilas oleh arus perubahan ini.

Dalam lanskap inilah USK harus menemukan dan mempertajam posisinya, bukan dengan meniru begitu saja universitas-universitas besar, tetapi dengan membangun keunggulan yang berakar pada kekuatan dan keunikan Aceh sendiri.

Dalam dunia pendidikan tinggi global, dua lembaga pemeringkatan yang paling banyak dijadikan rujukan adalah Times Higher Education (THE) dan Quacquarelli Symonds (QS), keduanya berbasis di Inggris.

Tentu, sistem pemeringkatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagian pihak menilai pemeringkatan terlalu menekankan aspek riset dan internasionalisasi, sehingga kurang merepresentasikan kontribusi universitas terhadap masyarakat.

Namun demikian, pemeringkatan tetap berguna sebagai cermin objektif dan kompas strategis, ia memberi gambaran tentang posisi kita sekaligus panduan ke mana kita ingin melangkah.

Warisan yang Menjadi Pijakan

Rektor baru tidak memulai dari lembar kosong. Kepemimpinan sebelumnya telah menorehkan sejumlah capaian yang patut dijadikan pijakan. Saat ini USK menjadi satu-satunya universitas di Aceh yang berhasil masuk dalam THE World University Rankings (posisi 1500+) dan QS World University Rankings (posisi 1401+).

Tahun ini pun menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya USK berhasil menembus QS World Ranking, setelah empat tahun sebelumnya hanya hadir dalam QS Asia Ranking.

Lebih jauh dari itu, dalam THE Impact Ranking, pemeringkatan yang mengukur kontribusi universitas terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), USK menempati posisi 601–800 dari 2.526 universitas dunia.

Dua bidang USK bahkan masuk Top 100 dunia: Quality Education (peringkat 66) dan Life Below Water (peringkat 79). Sementara itu, Climate Action dan Partnership for the Goals masuk dalam kelompok 200 besar dunia. Capaian ini bukan sekadar angka, ini adalah bukti bahwa USK telah memberi kontribusi nyata di panggung global.

Warisan ini adalah modal, bukan beban. Nahkoda baru mewarisi kapal yang sudah berlayar, yang perlu dilakukan adalah memperjelas peta, memperkuat mesin, dan menetapkan pelabuhan tujuan yang lebih jauh.

Reset, Refresh, Renew, Restart: Agenda Nahkoda Baru

Tantangan yang dihadapi Prof. Mirza Tabrani bukan sekadar menjaga momentum.

Dalam dunia yang berubah secepat ini, di mana teknologi digital mengubah cara manusia mengakses dan memproduksi pengetahuan, kecerdasan buatan menggeser batas-batas metode pembelajaran yang selama ini dianggap mapan, dan krisis iklim menuntut jawaban ilmiah yang konkret, universitas yang lamban beradaptasi tidak sekadar tertinggal, melainkan kehilangan relevansinya.

Dalam sebuah tulisan yang terbit bertepatan dengan hari pelantikan, Guru Besar USK Prof. Ahmad Humam Hamid mengajukan empat kata kunci yang ia anggap menentukan masa depan USK di bawah kepemimpinan baru: agenda reset, refresh, renew, dan restart yang mengiringi pelantikan rektor baru.

Bagi Prof. Humam, keempat kata itu bukan sekadar jargon manajemen, melainkan tuntutan nyata bagi sebuah universitas yang tidak ingin menjadi apa yang ia sebut sebagai “museum intelektual.”

Saya sepakat, dan ingin membaca ulang keempat kata itu. Reset berarti keberanian memutus rantai kebiasaan birokrasi yang terlalu lama dianggap normal.

Refresh adalah ‘pemberontakan’ terhadap ‘kelelahan’ akademik, kampus harus kembali menjadi ruang yang hidup oleh gagasan, bukan sekadar mesin pencetak ijazah yang sibuk namun kehilangan jiwa intelektualnya.

Renew berarti memperbarui isi universitas itu sendiri: kurikulum yang relevan dengan era kecerdasan buatan, riset yang menjawab persoalan nyata, dan kolaborasi internasional yang menghasilkan pengetahuan, bukan sekadar tanda tangan nota kesepahaman.

Terakhir, restart adalah langkah paling radikal, momen ketika USK memutuskan tidak lagi cukup puas berdiam dalam zona kenyamanan sebagai kampus daerah, tetapi berani menjadi pusat intelektual yang relevan bagi Aceh, Indonesia, dan dunia.

Tantangan Nyata di Hadapan Nahkoda Baru

Capaian ranking USK, meski membanggakan, menyimpan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Salah satu tantangan utama adalah pada aspek riset. Dengan lebih dari 1.800 dosen, potensi kontribusi riset USK sangat besar.

Namun hanya Sebagian kecil dosen terlibat secara aktif dan produktif dalam penelitian. Sudah saatnya USK mendorong dan memfasilitasi seluruh dosen agar lebih aktif berkontribusi dalam riset, terutama riset yang relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat Aceh dan Indonesia.

Salah satu langkah penting adalah mendukung dosen yang masih bergelar S2 untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Jumlah dosen S2 di USK masih cukup banyak, dan peningkatan kualifikasi ini akan berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas penelitian.

Selain itu, USK perlu menambah dan memperkuat program doktor yang ada, agar semakin banyak peneliti handal yang lahir dari kampus ini.

Tak kalah penting, USK harus membangun ekosistem riset yang lebih kondusif dan memperluas kolaborasi dengan institusi internasional. Kolaborasi global bukan sekadar prestise, melainkan pintu menuju riset bersama, akses pendanaan, dan penguatan reputasi USK di mata dunia.

Selain itu, satu hal lain yang sering luput dari diskusi tentang peringkat dan riset, tetapi sesungguhnya sangat menentukan citra kampus, adalah kondisi fisik lingkungan USK, khususnya kawasan di luar pagar kampus.

Siapa pun yang pernah melintas di sekitar Darussalam tentu merasakan kontras yang mencolok: di dalam kampus terdapat gedung-gedung yang terus berkembang, sementara di luar, kawasan sekitarnya kerap tampil kumuh, semrawut, dan tidak tertata.

Warung-warung liar, reklame yang tidak teratur, trotoar yang rusak, dan drainase yang buruk menciptakan kesan pertama yang kurang baik bagi siapa pun yang datang mengunjungi USK.

Kesan pertama itu penting. Universitas yang ingin masuk peta kampus dunia tidak bisa mengabaikan wajah yang ditampilkannya kepada dunia.

Kampus-kampus kelas dunia seperti Stanford atau MIT tidak hanya dikenal karena riset dan publikasinya, mereka juga berhasil mentransformasi kawasan di sekitarnya menjadi ekosistem inovasi yang hidup: penuh dengan ruang-ruang publik yang tertata, dan usaha rintisan yang tumbuh dari ilmu pengetahuan.  

Inilah standar yang layak dijadikan rujukan. Nahkoda baru perlu membangun sinergi dengan pemerintah kota dan kabupaten, serta melibatkan komunitas lokal, untuk menata kawasan penyangga kampus Darussalam menjadi ruang yang bersih, nyaman, dan mencerminkan semangat intelektual yang hidup di dalamnya.

Kampus yang besar bukan hanya diukur dari publikasi ilmiahnya, tetapi juga dari kemampuannya mengangkat martabat ruang — dan manusia — di sekitarnya.

Satu Perahu, Semua Mendayung

Peta, dalam konteks ini, bukan sekadar alat ukur. Ia adalah pegangan agar kita tahu posisi dan arah langkah ke depan. Pelantikan Prof. Mirza Tabrani adalah momen yang tepat untuk menegaskan kembali: USK bukan hanya milik rektorat. Ia milik seluruh sivitas akademika.

Jika USK adalah perahu dayung besar, maka perahu ini tidak akan bergerak ke arah yang diinginkan jika hanya nahkoda yang menginginkannya.

Semua, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni, perlu bergerak Bersama dan saling mendukung. Setiap langkah kecil yang dilakukan bersama akan membawa perubahan besar bagi kemajuan USK di masa depan.

Di tengah pergeseran besar dalam lanskap akademik global, USK berdiri di titik yang penuh potensi. Capaian yang telah diraih menjadi pondasi. Kepemimpinan baru menjadi momentum. Tantangan yang ada menjadi alasan untuk bergerak lebih cepat dan lebih jauh.

Jalan untuk semakin tampak dalam peta kampus dunia memang panjang dan menantang, tetapi bukan mustahil jika ada komitmen bersama yang dipimpin oleh nahkoda yang berani.

Selamat bertugas, Prof. Mirza. Peta sudah terbuka. Layar sudah berkembang. Kini saatnya USK berlayar lebih jauh. (*)

*) Penulis adalag Guru Besar FKIP USK dan Alumni James Madison University, USA

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved