KUPI BEUNGOH
Selesai dengan Diri Sendiri
DALAM diskursus spiritualitas modern, sering kita dengar ungkapan "ia sudah selesai dengan dirinya sendiri."
*) Oleh: Mustafa Husen Woyla
DALAM diskursus spiritualitas modern, sering kita dengar ungkapan "ia sudah selesai dengan dirinya sendiri."
Frasa ini kerap dialamatkan kepada sosok yang tampak tenang, tidak lagi meledak-ledak oleh ambisi duniawi, dan memiliki ketahanan mental yang luar biasa terhadap dinamika kehidupan.
Namun, jika kita bedah lebih dalam melalui kacamata Tasawuf, khususnya dalam dialektika sifat Mahmudah (terpuji) dan Mazmumah (tercela), ungkapan ini sebenarnya adalah manifestasi dari puncak perjuangan batin yang kita kenal sebagai Mujahadah an-Nafs.
Selesai dengan diri sendiri bagi seorang Muslim bukanlah berarti ia berhenti bertindak atau menarik diri dari realitas sosial (uzlah pasif). Sebaliknya, ini adalah sebuah kondisi di mana ego atau nafs tidak lagi menjadi pemandu utama dalam setiap helaan napas dan tindakannya.
Kondisi ini dicapai setelah seseorang melewati fase Takhalli, yakni proses masif ketika pengosongan jiwa dari residu sifat-sifat buruk yang selama ini membelenggu kejernihan berpikir dan kemurnian iman.
Melampaui Syahwat Validasi: Merdeka dari Pandangan Makhluk
Pilar pertama dari kondisi "selesai" ini adalah lepasnya ketergantungan pada validasi eksternal. Dalam ilmu Tasawuf, musuh terbesar bagi keikhlasan adalah Riya (pamer) dan Sum’ah (ingin didengar atau dipuji).
Seorang Muslim yang batinnya belum selesai akan selalu merasa haus akan pengakuan. Setiap amal ibadah, sedekah, hingga aktivitas sosialnya seringkali disisipi harapan halus agar dipandang sebagai orang shaleh, dermawan, atau berilmu.
Inilah yang disebut dengan "syahwat tersembunyi" (syahwat al-khafiyyah) yang seringkali lebih berbahaya daripada kemaksiatan lahiriah.
Ketika seorang Muslim telah bermigrasi dari dominasi sifat Mazmumah menuju Mahmudah berupa Ikhlas, ia mencapai derajat batin di mana pujian dan cercaan berada pada timbangan yang sama.
Dalam tradisi tasawuf, ini disebut istawa al-madhu wa al-dzammu. Bagi pribadi yang telah selesai, pujian tidak lagi membuat egonya melambung, dan cercaan tidak membuatnya jatuh dalam keputusasaan.
Inilah kemerdekaan sejati. Ia beribadah bukan untuk membangun citra diri di hati manusia, melainkan sebagai bentuk penghambaan murni kepada Sang Khalik. Ia tidak lagi menjadi budak dari "apa kata orang", melainkan hamba yang hanya peduli pada "apa kata Allah".
Ketika batin sudah tuntas pada titik ini, seseorang tidak akan lagi merasa lelah karena mengharap balasan manusia, sebab ia telah menemukan "kecukupan" hanya dengan pandangan Allah.
Rekonsiliasi dengan Takdir: Menemukan Kedamaian dalam Ridha
Selesai dengan diri sendiri juga berarti tuntasnya konflik batin terhadap masa lalu, kekurangan diri, maupun ketetapan nasib.
Sifat Ananiah (egoisme) dan Hasad (iri hati) seringkali muncul karena seorang hamba tidak mampu berdamai dengan ketetapan hidupnya. Kegelisahan batin ini muncul dari penolakan terhadap pembagian (qismah) yang telah Allah gariskan.
Dalam ajaran Tauhid dan Tasawuf, konflik ini diselesaikan melalui sifat Ridha. Muslim yang sudah selesai dengan dirinya menerima segala kekurangan, kegagalan masa lalu, dan keterbatasan fisiknya sebagai bagian dari skenario agung Sang Pencipta yang penuh hikmah.
Ia tidak lagi menghabiskan energi spiritualnya untuk meratapi "apa yang sekiranya terjadi jika..." atau menyalahkan takdir yang telah berlalu.
Kedamaian batin (tathmainnul qulub) muncul karena ia yakin bahwa Allah adalah Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana) dan Al-Latif (Yang Maha Lembut).
Pribadi muslim semacam ini percaya bahwa apa yang telah ditakdirkan untuknya tidak akan pernah melewatkannya, dan apa yang melewatkannya memang tidak pernah ditakdirkan untuknya.
Dengan keyakinan ini, ia melangkah dengan langkah yang ringan, tanpa beban dendam pada masa lalu atau kecemasan yang berlebihan pada masa depan. Ia telah selesai dengan egonya yang selalu ingin mendikte kehendak Tuhan.
Transformasi Energi: Dari Ego Menuju Khidmah
Seringkali, energi spiritual manusia habis tersedot hanya untuk mengurusi "urusan internal" jiwanya yang penuh gejolak; rasa tidak puas, ambisi yang liar, hingga rasa takut kehilangan kenyamanan duniawi.
Sifat Hubbud-Dunya (cinta dunia berlebih) dan Syuhh (kikir yang disertai ketamakan) adalah penghalang utama seseorang untuk bisa mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Namun, ketika urusan internal ini sudah "diselesaikan" melalui proses Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa), energi yang melimpah itu kini beralih menjadi kekuatan Khidmah (pengabdian).
Seorang Muslim yang sudah selesai dengan dirinya adalah pribadi yang paling dermawan (Sakhawah) dan mampu mempraktikkan Itsar, mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya sendiri.
Ia memberi bukan untuk mendapatkan imbalan atau balasan budi, melainkan karena ia merasa sudah "genap" dan "utuh" di dalam.
Ia tidak lagi mencari sesuatu di luar sana untuk mengisi kekosongan jiwanya. Baginya, kebahagiaan sejati bukanlah saat ia menerima, melainkan saat ia mampu menjadi saluran rahmat bagi makhluk Allah yang lain.
Mengatasi Penyakit Hati yang Halus
Rintangan terbesar untuk "selesai dengan diri sendiri" bukan terletak pada kemaksiatan yang tampak, melainkan pada penyakit hati yang halus seperti Ujub (bangga diri) dan Kibir (sombong).
Seorang Muslim mungkin merasa sudah shaleh karena ibadahnya, namun justru perasaan "merasa shaleh" itulah yang menandakan ia belum selesai dengan egonya.
Pribadi yang telah selesai senantiasa merasa fakir di hadapan Allah. Ia tidak melihat amal ibadahnya sebagai hasil upayanya sendiri, melainkan sebagai taufik dan hidayah dari Allah semata.
Hal ini melahirkan sifat Tawadhu (rendah hati) yang alami. Ia tidak merasa lebih baik dari siapapun, bahkan terhadap orang yang bermaksiat sekalipun, karena ia tahu bahwa hatinya pun berada di antara jari-jemari Sang Rahman yang bisa membolak-balikkannya kapan saja.
Ketuntasan diri ini membuatnya menjadi pribadi yang lapang. Ia mudah memaafkan karena ia tidak memiliki ego yang perlu dibela mati-matian. Ia tidak mudah tersinggung karena ia telah meniadakan dirinya (fana) di hadapan kebesaran Allah.
Wushul: Puncak Perjalanan Sang Hamba
Pada akhirnya, perjalanan "selesai dengan diri sendiri" ini bermuara pada apa yang dalam tradisi tasawuf disebut sebagai Wushul, sebuah kondisi batin yang telah "sampai" dan terhubung secara utuh kepada Allah SWT.
Seseorang tidak akan pernah bisa mencapai derajat Wushul jika jiwanya masih disibukkan oleh tuntutan egonya sendiri. Ego, ambisi, dan penyakit hati adalah hijab (penghalang) yang paling tebal antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Ketika hijab-hijab itu tersingkap melalui mujahadah yang sungguh-sungguh, maka seorang Muslim akan meraih kemerdekaan batin yang hakiki.
Inilah maqam Nafs al-Mutmainnah (jiwa yang tenang), kondisi jiwa yang dipanggil Allah dalam keadaan rida dan diridai. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, menemukan kedamaian di dalam diri adalah kemenangan paling agung.
Sebagaimana pesan luhur: "Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu" (Siapa yang mengenal hakikat dirinya yang fana, ia akan mengenal Tuhannya yang Maha Sempurna).
Dan ketika seorang Muslim sudah benar-benar mengenal Tuhannya melalui jalan Wushul, maka selesailah pencariannya pada selain-Nya. Ia akan hidup di dunia sebagai pengembara yang tenang, tubuhnya berinteraksi dengan sesama manusia, namun hatinya senantiasa tertambat erat pada rida Tuhannya.
Inilah puncak integritas pribadi Muslim, di mana lahir dan batin telah selaras dalam satu tujuan tunggal: Ilahi anta maqsudi wa ridhaka mathlubi (Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan rida-Mu lah yang kucari).
Sebab pada akhirnya, tanyoe sadar semua ini "donya mandum". Kemerdekaan sejati bukan tentang seberapa banyak dunia yang kita genggam, melainkan tentang seberapa banyak 'keakuan' yang mampu kita lepaskan di hadapan Kebesaran-Nya.
Untuk kita renungkan, sudahkah kita benar-benar selesai dengan diri sendiri, ataukah kita masih menjadi budak dari ego yang kita pertuhankan? (*)
*) PENULIS adalah Ketua Umum DPP ISAD Aceh, Wakil Pimpinan Dayah Abu Krueng Kalee, dan Guru Tauhid/Tasawuf.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Buya-Woyla-Mustafa-Husen.jpg)