Kupi Beungoh
Belajar Tanpa Garis Akhir
Seolah-olah pendidikan memiliki garis akhir yang jelas, dan setelah mencapai titik itu, perjalanan belajar seharusnya berhenti.
*) Oleh: Dr. Aishah, M.Pd
DI TENGAH masyarakat yang sering memandang pendidikan sebagai tangga menuju status sosial, tidak jarang muncul keheranan ketika seseorang tetap memilih melanjutkan studi setelah meraih gelar doktor.
Bagi sebagian orang, keputusan itu terasa janggal. Pertanyaan seperti “untuk apa belajar lagi?” atau “bukankah sudah cukup?” kerap muncul dalam percakapan sehari-hari.
Seolah-olah pendidikan memiliki garis akhir yang jelas, dan setelah mencapai titik itu, perjalanan belajar seharusnya berhenti.
Namun di dalam tradisi intelektual, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya tepat. Bagi banyak akademisi, pendidikan bukan sekadar tahapan formal yang berakhir pada satu gelar tertentu. Ia lebih menyerupai perjalanan panjang yang terus berkembang seiring dengan rasa ingin tahu manusia.
Karena itu, tidak sedikit orang yang telah menyelesaikan program doktor tetap memilih duduk kembali di ruang kelas, mengambil program studi baru, memperdalam bidang lain, atau sekadar memuaskan keinginan intelektual yang belum selesai.
Di lingkungan akademik, fenomena ini bukan sesuatu yang aneh. Justru sebaliknya, hal tersebut sering dipahami sebagai bagian dari dinamika intelektual yang sehat.
Seorang dokter yang kembali belajar tidak selalu didorong oleh kebutuhan akan jabatan, pengakuan, atau ambisi karier.
Ada yang belajar karena ingin memperluas perspektif, ada yang ingin memahami bidang yang berbeda dari disiplin awalnya, dan ada pula yang sekadar menikmati proses belajar itu sendiri.
Sebaliknya, komentar yang paling nyaring di ruang sosial sering kali datang dari pemahaman yang lebih sempit tentang makna pendidikan.
Ketika pendidikan dipandang semata-mata sebagai sarana mobilitas sosial, maka setelah seseorang mencapai gelar tertinggi, proses tersebut dianggap selesai. Dalam kerangka pikir seperti ini, keputusan untuk belajar lagi tampak seperti sesuatu yang tidak masuk akal.
Menariknya, mereka yang akrab dengan dunia akademik justru cenderung tidak banyak berkomentar. Mereka memahami bahwa rasa ingin tahu intelektual tidak selalu berhenti pada pencapaian formal. Bahkan, semakin dalam seseorang terlibat dalam dunia pengetahuan, semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum dipahami.
Pandangan ini sebenarnya selaras dengan gagasan klasik dalam tradisi filsafat. Filsuf Yunani kuno seperti Socrates pernah menegaskan bahwa kebijaksanaan justru berawal dari kesadaran akan keterbatasan pengetahuan manusia.
Kesadaran semacam inilah yang membuat seseorang tetap terbuka untuk belajar, bahkan setelah mencapai pencapaian akademik yang tinggi.
Dalam ilmu pendidikan modern, gagasan tersebut dikenal sebagai lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Konsep ini menekankan bahwa proses belajar tidak berhenti pada usia atau jenjang pendidikan tertentu.
Penelitian tentang pendidikan orang dewasa menunjukkan bahwa motivasi belajar pada tahap kehidupan yang lebih matang sering kali bersifat intrinsik didorong oleh rasa ingin tahu, kepuasan intelektual, dan keinginan memahami dunia dengan lebih luas.
Sejumlah studi bahkan menunjukkan pola yang menarik, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin besar pula kecenderungannya untuk terus belajar. Pendidikan tidak selalu berakhir dengan gelar, justru bagi sebagian orang, gelar sering menjadi pintu yang membuka keinginan belajar yang lebih luas.
Di titik inilah kontras itu terlihat. Di satu sisi ada mereka yang menghabiskan waktu untuk membaca, meneliti, berdiskusi, dan memperdalam pengetahuan. Di sisi lain ada mereka yang lebih sibuk menilai atau mengomentari pilihan tersebut dari luar.
Bagi seseorang yang telah melalui perjalanan akademik panjang, tentu tidak sulit membaca kualitas sebuah komentar. Namun banyak akademisi memilih tidak menanggapi.
Bukan karena tidak mampu, tetapi karena mereka memahami bahwa diskusi intelektual tidak selalu perlu berlangsung di setiap ruang percakapan.
Fenomena ini mengingatkan kita pada pertanyaan yang lebih mendasar, bagaimana kita memaknai pendidikan. Apakah pendidikan dipahami sebagai tujuan akhir yang berhenti pada satu gelar tertentu, atau sebagai perjalanan panjang yang terus berkembang sepanjang hidup.
Ketika seorang doktor kembali duduk di bangku kuliah, sebenarnya ia sedang menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi mendalam, bahwa pengetahuan tidak pernah benar-benar selesai dipelajari.
Sebab pada akhirnya, yang membedakan bukanlah siapa yang memiliki gelar paling tinggi, melainkan siapa yang tetap menjaga rasa ingin tahunya tetap hidup.
Dalam dunia yang terus berubah, mereka yang tidak pernah merasa selesai belajar sering kali justru menjadi orang-orang yang mampu menjaga kejernihan cara pandang terhadap kehidupan.
*) PENULIS adalah pegawai di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Artikel KUPI BEUNGOH lainnya baca DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pegawai-di-Dinas-Pendidikan-dan-Kebudayaan-Kota-Banda-Aceh-Dr-Aishah-MPd.jpg)