Sabtu, 18 April 2026

KUPI BEUNGOH

Mineral, Daur Ulang & Realitas Tambang Baru: Batasan Ekonomi Sirkular : Bagian 2

Dunia membutuhkan mineral dalam jumlah besar untuk mendukung transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta perkembangan teknologi. 

Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Ir. Izzan Nur Aslam, S.T., M.Eng - Dosen Pertambangan USK, Mahasiswa S3 di Colorado School of Mines, USA, dan Industry – Academia Liaison di PERHAPI Aceh - Email: izzanaslam@usk.ac.id. 

Oleh Ir. Izzan Nur Aslam, S.T., M.Eng *)

Bagian 1

Pada Bagian 1, kita melihat bagaimana transisi energi dunia, yang juga relevan bagi daerah seperti Aceh, tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan mineral dalam jumlah besar.

Potensi energi terbarukan Aceh memang menjanjikan, namun pada saat yang sama dunia menghadapi paradoks yang semakin jelas: semakin serius dunia beralih menuju energi bersih, semakin besar pula kebutuhan terhadap berbagai komoditas mineral strategis.

Pertanyaan berikutnya kemudian muncul secara alami: jika dunia membutuhkan mineral dalam jumlah yang terus meningkat, apakah kebutuhan tersebut dapat dipenuhi hanya melalui daur ulang?

Daur Ulang: Gagasan Ideal yang Tidak Sederhana

Berbicara mengenai komoditas mineral pada akhirnya selalu membawa kita pada isu yang sama: pertambangan, lingkungan, dan keberlanjutan.

Dunia membutuhkan mineral dalam jumlah besar untuk mendukung transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta perkembangan teknologi. 

Namun di sisi lain, kegiatan pertambangan sering dipandang sebagai penyebab kerusakan lingkungan dan konflik sosial.

Karena itu banyak pihak mengusulkan daur ulang sebagai solusi utama.

Secara konsep, pendekatan ini sangat menarik. Jika logam yang telah digunakan dapat dikumpulkan kembali dan diproses ulang, maka kebutuhan untuk membuka tambang baru dapat berkurang secara signifikan.

Namun kenyataannya jauh lebih rumit. Data menunjukkan bahwa laju daur ulang pada akhir masa pakai hanya mencapai 86 persen untuk emas, 60 % untuk nikel, 46 % untuk tembaga, 42 % untuk aluminium, 33 % untuk seng, dan hanya sekitar 0,5 % untuk litium.

Istilah laju akhir masa pakai merujuk pada persentase logam yang berhasil dikumpulkan kembali setelah produk yang mengandung logam tersebut mencapai akhir masa penggunaannya.

Artinya, bahkan dengan fasilitas daur ulang yang cukup baik, sebagian besar logam yang digunakan manusia masih tidak kembali sepenuhnya ke dalam sistem ekonomi.

Memang benar bahwa emas memiliki tingkat daur ulang tinggi, yaitu sekitar 86 % , tetapi penggunaannya relatif terbatas karena sebagian besar digunakan sebagai perhiasan.

Sebaliknya, logam yang sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti tembaga, aluminium, dan seng justru memiliki tingkat daur ulang kurang dari 50 % . Sebagian besar material tersebut masih berada dalam penggunaan aktif (lifetime yang tinggi) atau terbuang dalam kondisi yang sulit untuk diproses kembali.

Pelajaran dari Negara Industri Maju

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved