Sabtu, 2 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Mineral, Daur Ulang & Realitas Tambang Baru: Batasan Ekonomi Sirkular : Bagian 2

Dunia membutuhkan mineral dalam jumlah besar untuk mendukung transisi energi, pembangunan infrastruktur, serta perkembangan teknologi. 

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Ir. Izzan Nur Aslam, S.T., M.Eng - Dosen Pertambangan USK, Mahasiswa S3 di Colorado School of Mines, USA, dan Industry – Academia Liaison di PERHAPI Aceh - Email: izzanaslam@usk.ac.id. 

Model yang paling lama dikenal adalah ekonomi linear, dengan prinsip ambil, buat, gunakan, lalu buang.

Pendekatan ini kemudian berkembang menjadi ekonomi berbasis daur ulang, di mana proses produksi mencoba mengurangi jumlah material yang diambil dari alam serta jumlah limbah yang dibuang.

Namun pendekatan ini juga belum sepenuhnya efektif. Karena itu muncul konsep yang lebih luas, yaitu ekonomi sirkular.

Dalam sistem ini, penggunaan sumber daya dibuat berputar melalui prinsip menggunakan kembali, memperbaiki, memperbarui, dan mendaur ulang sehingga limbah yang dihasilkan menjadi hampir tidak ada.

Konsep ini bahkan berkembang lebih jauh, dari pada menghasilkan dari barang mentah baru, lebih baik meminjam, menyewa, membeli barang bekas, menggunakan kembali, berbagi, memperbaiki, meningkatkan kualitas barang, dan meneruskan penggunaan barang kepada orang lain.

Barulah pada tahap akhir, jika benar-benar tidak memungkinkan, maka akan didaur ulang di mana material akan melalui proses pemulihan kembali, sehingga jumlah yang benar-benar dibuang menjadi sangat kecil.

Realitas: Dunia Tetap Membutuhkan Tambang Baru

Namun dalam praktiknya, ekonomi sirkular tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan kebutuhan terhadap mineral baru. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta perkembangan teknologi terus meningkatkan konsumsi material dunia.

Karena itu pertanyaan yang sebenarnya bukan lagi apakah dunia harus menambang atau tidak. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: bagaimana menambang dengan cara yang lebih bertanggung jawab.

Dan di sinilah persoalan berikutnya muncul. Jika dunia membutuhkan pertambangan, maka dunia juga membutuhkan manusia yang mampu menjalankan industri tersebut. Bagi daerah seperti Aceh, pertanyaan ini menjadi semakin relevan.

Di tengah potensi energi terbarukan dan kekayaan sumber daya alam yang besar, masa depan pengelolaan sumber daya tidak hanya bergantung pada teknologi atau kebijakan, tetapi juga pada generasi yang akan mengelolanya.

Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada Bagian 3, ketika isu pertambangan tidak lagi hanya menyangkut sumber daya alam, tetapi juga menyangkut manusia, pendidikan, dan masa depan generasi tambang.

Bersambung pada bagian tiga...

*) PENULIS adalah Dosen Pertambangan USK, Mahasiswa S3 di Colorado School of Mines, USA, dan Industry – Academia Liaison di PERHAPI Aceh - Email: izzanaslam@usk.ac.id.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis..

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved