Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Ramadhan di Ujung Jempol: Jangan Biarkan Pahala Luruh di Komentar

Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.

Tayang:
Serambinews.com/HO
SHABRI A MAJID - Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

M. Shabri Abd. Majid*)

Ramadhan tidak pernah datang dengan gaduh. Ia hadir seperti embun di fajar: sunyi, tetapi menembus jiwa.

Ia bukan sekadar bulan menahan lapar; ia adalah bulan menahan diri—menahan nafsu, ego, dan kata. Dan sebagaimana ia datang dengan tenang, Ramadhan juga akan pergi tanpa suara. Kini kita berada di penghujungnya.

Ia menjauh perlahan seperti senja yang memudar di ufuk, meninggalkan satu pertanyaan yang mengguncang: apakah kita benar-benar berubah, atau hanya sekadar melewati hari-harinya?

Tujuan puasa adalah takwa (Q.S. Al-Baqarah: 183). Takwa tidak diukur dari berapa kali kita berbuka dengan kurma, tetapi dari seberapa sering kita menahan diri ketika ingin melukai.

Ia lahir dalam keputusan kecil: mengetik atau menghapus, membalas atau menahan, menyebarkan atau menghentikan.

Rasulullah SAW memberi peringatan keras: “Allah tidak membutuhkan puasa orang yang masih berkata dusta dan berbuat buruk” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Ath-Thabrani).

Puasa bisa sah secara hukum, tetapi bangkrut secara nilai: perut kosong, tetapi hati penuh kebencian; tubuh tunduk, tetapi lisan merusak.

Imam Al-Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkat: puasa awam yang menahan makan, puasa khusus yang menahan anggota tubuh dari dosa, dan puasa tertinggi yang menjaga hati dari selain Allah.

Jika jari masih ringan mencela dan komentar masih tajam menusuk, mungkin kita masih berada di lapisan terluar. Dan hari ini, ujian itu tidak lagi hanya di pasar atau di warung kopi. Ia hadir di layar ponsel kita—di timeline, di kolom komentar, di ujung jempol kita.

Lisan yang Menjelma Layar

Dulu, kata keluar dari mulut. Kini ia keluar dari jempol. Status, komentar, story, video—semuanya adalah lisan yang berganti wajah.

Allah telah memperingatkan bahwa setiap kata dicatat (Q.S. Qaf: 18). Termasuk yang diketik dalam gelap kamar pada pukul dua pagi.

Satu komentar emosional bisa memantik api berhari-hari. Satu unggahan tanpa verifikasi bisa mengguncang ketenangan banyak orang. Tetapi satu kalimat lembut juga bisa menyelamatkan jiwa yang nyaris runtuh.

Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.

Jika hati jernih, ia menjadi jalan rahmat. Orang tua Aceh sering berpesan, “Peugah bek beurangkahoe, sebab lidah hana tuleung.”

Mulutmu harimaumu. Lidah tak bertulang dan berpotensi meruntuhkan kehormatan. Di era ini, bukan hanya lidah yang harus dijaga—jempol juga. Bahkan jempol lebih berbahaya. Lidah hanya didengar yang dekat; jempol bisa menjangkau ribuan.

Ramadhan adalah madrasah kelembutan. Jika kita mampu menahan air yang halal, mengapa sulit menahan komentar yang menyakitkan? Jika kita mampu menahan lapar berjam-jam, mengapa berat menahan diri beberapa detik sebelum menekan “kirim”?

Baca juga: Ramadhan: Menjinakkan Monster Kapitalisme dengan Neraca Takwa

Puasa yang Bocor

Ironi zaman ini: pagi membagikan ayat, sore menyebarkan prasangka. Allah memerintahkan tabayyun agar tidak menyesal (Q.S. Al-Hujurat: 6).

Tetapi dalam budaya viral, kehati-hatian kalah oleh kecepatan. Imam Malik mengingatkan, banyak bicara adalah pintu banyak salah.

Di media sosial, kesalahan tidak hilang tertiup angin; ia tersimpan, di-screenshot, dibagikan ulang. Jejak digital adalah jejak amal.

Orang kuat bukan yang menang dalam pertarungan, tetapi yang mampu menahan amarah (HR. Bukhari dan Muslim).

Di dunia maya, kekuatan itu terlihat pada mereka yang tidak terpancing. Yang tidak merasa wajib menang. Yang tidak menjadikan perbedaan sebagai arena ego.

Puasa tanpa penjagaan lisan ibarat bejana bocor. Diisi dzikir pagi hari, terkuras oleh sindiran sore hari. Diisi doa malam hari, tergerus komentar pedas keesokan harinya.

Diam bukan kelemahan. Diam adalah kedewasaan. Imam Syafi’i berkata, jika manfaat bicara tidak jelas, maka diam lebih utama.

Betapa banyak pahala terselamatkan hanya karena seseorang memilih untuk tidak membalas.

Waktu yang Terhisap Layar

Ramadhan adalah bulan yang singkat tetapi berat timbangan pahalanya. Setiap malamnya mungkin lebih baik dari seribu bulan.

Tetapi waktu kita sering tersedot oleh scrolling tanpa arah. Sahur ditemani notifikasi. Siang hari diisi timeline. Malam terjaga oleh perdebatan tak perlu.

Allah bersumpah atas waktu (Q.S. Al-‘Asr). Imam Hasan Al-Bashri berkata, manusia adalah kumpulan hari; ketika satu hari berlalu, sebagian dirinya hilang.

Maka setiap menit yang kita habiskan pada hal sia-sia adalah potongan diri yang tak kembali. Ramadhan bukan tentang seberapa aktif kita di dunia maya. Ia tentang seberapa hidup hati kita di hadapan Allah.

Memilih Cahaya

Di era media sosial, pahala dan dosa tidak lagi berhenti pada satu tindakan. Ia bisa menjelma arus panjang. Mengalir sebagai cahaya.

Atau menjalar sebagai api. Rasulullah SAW bersabda: ”ketika manusia wafat, amalnya terputus kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan” (HR. Muslim). Amal yang terus hidup meski jasad telah berhenti.

Namun hukum ini juga berlaku sebaliknya. Dosa pun bisa berantai. Dosa bisa viral. Dosa bisa menjadi warisan digital yang tak pernah benar-benar padam.

Allah menyebut bahwa Dia mencatat amal dan bekas-bekas yang ditinggalkan (Q.S. Yasin: 12). Bekas itu adalah dampak. Jejak. Pengaruh yang terus hidup bahkan setelah pelakunya pergi.

Di dunia maya, satu konten tidak pernah benar-benar mati. Satu video maksiat bisa terus ditonton. Satu komentar kebencian bisa diwariskan.

Satu unggahan yang meremehkan agama bisa terus dibagikan. Itulah dosa berantai. Kita mungkin sudah lupa, tetapi algoritma tidak lupa. Kita mungkin sudah menghapus, tetapi orang lain telah menyimpan.

Sebaliknya, satu nasihat yang jujur bisa menjadi sedekah jariyah digital.

Satu tulisan yang mencerahkan bisa menjadi pahala yang terus mengalir. Satu pengingat kebaikan bisa menjadi cahaya panjang setelah kita tiada.

Di ujung Ramadhan, jawabannya bukan di foto iftar atau jumlah story. Jawabannya ada di kolom komentar kita. Apakah kita menjadi penyejuk, atau pemantik api? Apakah kita menambah cahaya, atau memperpanjang gelap?

Media sosial memang bermata dua. Ia bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir, atau dosa yang beranak-pinak.

Allah mengingatkan bahwa sekecil apa pun akan diperlihatkan (Q.S. Az-Zalzalah: 7–8). Agar pahala tidak luruh di komentar, lakukan yang konkret: Tahan sebelum kirim.

Verifikasi sebelum share. Jaga adab saat berbeda. Luruskan niat sebelum posting. Batasi waktu scrolling. Tutup aib, jangan umbar. Isi timeline dengan cahaya.

Rasulullah SAW bersabda, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).

Di zaman ini, pesan itu terasa semakin relevan: tulislah yang baik, atau jangan menulis sama sekali. Ramadhan mengajarkan satu pelajaran paling mendasar: memilih.

Memilih sabar di atas marah. Memilih hikmah di atas sensasi. Memilih cahaya di atas api. Karena di ujung jempol itulah, takwa sering kali diuji.

Kini Ramadhan hampir berlalu. Ia akan pergi seperti ketika ia datang—sunyi, tanpa gaduh—tetapi seharusnya meninggalkan bekas.

Bekas kesabaran dalam jiwa. Bekas kejernihan dalam pikiran. Bekas kehati-hatian dalam kata. Semoga Ramadhan ini bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendidik jempol kita.

Sebab setelah Ramadhan pergi, setiap kata yang kita tulis akan terus berjalan—entah sebagai pahala yang mengalir, atau sebagai dosa yang tak pernah berhenti mengejar pemiliknya.

*) PENULIS Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved