Pojok Humam Hamid
Perang Iran vs AS dan Israel: Bukti Hidup Negara Peradaban
Ketika Iran menanggapi dengan drone murah, rudal lokal, atau gangguan jalur energi, apa yang Barat keluarkan?
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
DUNIA sering menonton konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel seolah menonton pertandingan sepak bola.
Skornya siapa menang, siapa kalah.
Tapi yang lebih penting - yang sering diabaikan - adalah arena permainan itu sendiri, sejarahnya, dan aturan tak kasat mata yang sudah teruji selama ribuan tahun.
Iran hari ini tidak bisa dipahami hanya sebagai negara modern dengan militer, drone, dan rudal.
Iran adalah negara peradaban - entitas geopolitik yang bentuk pikirannya dibentuk jauh sebelum banyak negara lain lahir, berkembang, dan kemudian pupus.
Konsep “negara peradaban” bukan istilah akademis semata.
Ini merujuk pada sebuah negara yang pengalaman sejarahnya membentuk cara berpikir kolektifnya, termasuk strategi militer, adaptasi terhadap tekanan luar, serta inovasi teknologi yang melekat dalam narasi nasionalnya.
Iran adalah contoh paling ekstrem dari fenomena ini - sebuah negara yang berdiri tegak bahkan ketika dipukul oleh embargo global, isolasi ekonomi, dan tekanan militer dari kekuatan terbesar di muka bumi.
Baca juga: Iran Serang Ladang Gas Cair Terbesar di Dunia di Qatar yang Terkait dengan AS
Baca juga: Perang Iran Memanas! Trump Tunda Bertemu Xi Jinping, Minta Bantuan China Buka Selat Hormuz?
Superpower Pertama Dalam Sejarah
Untuk memahami Iran hari ini, kita harus mundur jauh ke masa Achaemenid (550–330 SM), ketika kekaisaran Persia menjadi salah satu negara superpower pertama dalam sejarah yang mengelola administrasi luas dari Balkan hingga Lembah Indus.
Di era ini, Darius I (522–486 SM) menciptakan infrastruktur strategis seperti Royal Road, jaringan komunikasi dan logistik yang memungkinkan pesan dan pasukan bergerak ribuan kilometer dalam beberapa hari - sebuah gagasan yang, secara tragis ironis, membuat setiap taktik abad ke-21 terdengar seperti replikasi lambat dari strategi dasar Persia klasik.
Setelah runtuhnya Achaemenid, muncul Sassanid (224–651 M), yang sebagian besar hidup berdampingan dan berkonflik dengan Romawi (kemudian Bizantium) selama berabad-abad.
Selama dinasti ini, Persia membangun sistem pertahanan, benteng, strategi komando terpadu, dan ide tentang mobilitas ditambah adaptasi lingkungan - bukan hanya untuk perang, tapi untuk eksistensi politis dalam “perang tanpa henti” melawan kekuatan barat.
Ini bukan mitos pendongeng; ini adalah sejarah strategi militer dan diplomasi yang membentuk gagasan bagaimana bangsa Iran memandang konflik - sebagai skenario jangka panjang yang tidak objektif, tetapi sistematis.
Hari ini, DNA itu masih hidup. Iran tidak melihat perang sebagai sekadar bentrokan senjata; ia melihatnya sebagai perpanjangan geopolitik dari strategi bertahan hidup yang telah teruji ribuan tahun.
Perang Iran vs AS-Israel
Perang Iran vs AS
Persia
sejarah iran persia
Ahmad Humam Hamid
humam hamid aceh
pojok humam hamid
Serambi Indonesia
Serambinews.com
| Komunikasi Publik Menteri Purbaya: Kebingungan Teknokratis, Krisis Nasional, atau Tarian Populis? |
|
|---|
| Survei Nasional Terbaru Tentang Perang Iran: Sebaiknya Prabowo Ekstra Hati-Hati |
|
|---|
| Skenario Akhir Trump: Tumpulnya Strategi Bisnis Dalam Perang Iran |
|
|---|
| Aturan Baru Komdigi: Kenapa Semua Orang Tua Harus Senang? |
|
|---|
| Akankah Darurat Energi Menjadi Kiamat Energi Bagi Asia dan Indonesia? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Ahmad-Humam-Hamid-MA-Sosiolog-dan-Guru-Besar-USK-Banda-Aceh.jpg)