Minggu, 31 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Menikmati Perjalanan Tol Sibanceh Saat Idulfitri

Jalan lintas nasional menuju Banda Aceh memang padat waktu itu, sehingga kendaraan hanya dapat melaju perlahan dalam  suasana damai

Tayang:
Editor: mufti
hand over dokumen pribadi
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Baitussalam, Aceh Besar 

Nasi goreng yang diracik dengan sambal hijau rasanya lezat dan pedas membuat selera makan meningkat karena pas di waktu lapar perut pun kosong, karena porsi jumbo hampir tidak habis satu piring untuk satu orang.

Minuman juga tidak kalah nikmatnya, semua yang disuguhkan habis, benar-benar nikmat. Harga sangat terjangkau, untuk nasi goreng sesuai yang kami pesan hanya Rp17.000 per porsi, sedangkan minuman sama dengan warung lainnya.

Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya sampai di pintu tol Padang Tiji, dengan menggunakan kartu e-money tol, pintu terbuka, tapi sebelumnya  sempat juga mengantre ada lima mobil di depan menggunakan jalur yang sama di tengah.

Menggunakan jalur tol adalah alternatif untuk menghemat waktu tempuh perjalanan darat karena terbebas dari kemacetan lampu merah dan perlintasan sebidang, membuat mobilitas orang lebih efisien, cepat sampai di tujuan.

Selain itu, sangat membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat dalam perkembangan sektor pariwisata, kuliner, dan UMKM di sekitar pintu tol maupun di ‘rest area’. Namun, saat ini  ‘rest area’ di tol Sibanceh belum aktif.

Sambil mengendarai mobil, saya mengingatkan suami untuk mematuhi batas kecepatan minimal 60 km/jam dan maksimal 80-100 km/jam atau disesuaikan dengan rambu yang terpasang di sisi jalan untuk menjaga aliran lalu lintas tetap aman dan tidak menggunakan bahu jalan kecuali dalam keadaan darurat serta menggunakan jalur kanan untuk mendahului, ketika suami ngebut di atas 100 km yang menjadi remnya adalah teriakan saya. He he

Lampu di area tol Padang Tiji baru ada di pintu masuk saja, sedangkan yang lain menggunakan pantulan  lampu kendaraan ke arah papan petunjuk tol dan media jalan, sehingga penyinaran jalan terpenuhi.

Suasana tol malam itu tidak terlalu padat karena kendaraan masih ada luang untuk bergeser ke kiri dan kanan, tetapi saat melintasi mobil boks hampir saja tersenggol karena kecepatan mobil boks itu tiba-tiba berkurang, mungkin karena sopirnya mengantuk atau kelelahan, jantung saya langsung berdebar, trauma melihat beberapa berita kecelakaan di tol. Sebaiknya jika lelah berhenti terlebih dahulu di ‘rest area’ untuk istirahat.

Untuk pengguna tol sebaiknya selalu mengikuti arah yang telah disediakan, agar tidak keluar dari di jalur yang  dituju.  Alhamdulillah, perjalanan kam lancer, tidak ada hewan yang melintas tiba-tiba, karena pada saat pertama menggunakan tol ini ada anjing dan monyet yang melintas sehingga kendaraan hampir oleng pada saat menghindar.

Akhirnya, kami tiba di pintu keluar tol Baitussalam, dengan menempel kartu tol pintu palang pintu terbuka, dikenakan tarif normal seharga Rp65.000, mengingat tol Padang Tiji menuju selimum masih gratis.

Tiba di rumah singgah kami di Blang Krueng, Aceh Besar, hanya beberapa meter dari pintu tol Baitussalam, hati terasa bahagia. Perjalanan  Idulfitri yang menyenangkan, ternyata bahagia itu sederhana.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved