Kupi Beungoh
Mualem, Panglima yang Diam, Gubernur yang Menanggung Banyak Hal
Belakangan, publik dihebohkan dengan isu penunjukan anaknya sebagai Komisaris Utama di PT. PEMA Global Energi.
Apalagi ia memiliki kedekatan dengan Presiden Prabowo Subianto.
Kedekatan ini bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dimanfaatkan demi kepentingan rakyat Aceh.
Kita sebagai masyarakat juga punya peran.
Apakah kita ingin terus sibuk dengan konflik, saling menyalahkan, dan menarik ke bawah?
Atau kita memilih untuk mendorong, mengkritik dengan sehat, dan mengawal kebijakan agar tetap berpihak pada rakyat?
Pada akhirnya, kita harus melihat Aceh dengan kacamata harapan, bukan semata kekecewaan.
Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri, dan setiap pemimpin punya ujian yang berbeda.
Apa yang sedang terjadi hari ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses panjang menuju perubahan yang lebih baik.
Aceh masih memiliki banyak potensi yang belum tergarap maksimal.
Sumber daya alam yang melimpah, posisi geografis yang strategis, serta kekuatan budaya dan nilai-nilai keislaman yang kuat adalah modal besar.
Tinggal bagaimana semua itu dikelola dengan bijak, transparan, dan berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.
Baca juga: Dari Tiram ke Teknokrasi: Layakkah Jamaica Menjadi Wakil Menteri BUMN?
Masa Depan Aceh di Tangan Kita
Kesempatan untuk bangkit sebenarnya semakin terbuka lebar.
Rencana pengembangan sektor energi, industri hilir, hingga kawasan ekonomi khusus bukan sekadar wacana.
Jika dikelola dengan serius dan diawasi bersama, ini bisa menjadi pintu masuk bagi kebangkitan ekonomi Aceh yang selama ini dinantikan.
Namun, harapan tidak akan pernah cukup tanpa keterlibatan semua pihak.
Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga masyarakat tidak cukup hanya menjadi penonton.
Akademisi, mahasiswa, ulama, pelaku usaha, hingga generasi muda harus ikut ambil bagian dalam mengawal arah pembangunan ini.
Kita juga perlu membangun budaya kritik yang sehat.
Bukan kritik yang menjatuhkan, tapi kritik yang membangun.
Bukan sekadar mencari kesalahan, tapi juga menawarkan solusi.
Dengan cara seperti ini, kepercayaan publik bisa tumbuh, dan pemerintah pun akan lebih kuat dalam mengambil keputusan.
Aceh adalah rumah bersama.
Masa depannya tidak boleh ditentukan oleh kepentingan sesaat, apalagi oleh konflik yang tidak produktif.
Di tengah segala dinamika yang ada, selalu ada harapan dan kesempatan yang lebih besar untuk membangun Aceh yang lebih baik--asal kita mau berjalan bersama, saling menguatkan, dan tetap percaya bahwa perubahan itu mungkin terjadi.
Mualem adalah manusia--bisa lelah, bisa salah.
Tapi ia juga pemimpin yang sedang memegang arah Aceh hari ini.
Pilihan tetap ada di tangan kita semua.
Aceh ini mau kita bawa ke arah kemajuan, atau justru kita biarkan berjalan di tempat.
Karena masa depan daerah ini, bukan hanya ditentukan oleh satu orang, tapi oleh cara kita semua bersikap.
Demikian.
*) PENULIS adalah Staf Khusus Gubernur Aceh Bidang Percepatan Investasi Hulu Migas, Pertambangan dan Energi.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi dalam artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
| Kebohongan Akademik Mengancam Keselamatan Pasien |
|
|---|
| Ironi Wisata Musiman Suak Gedeubang: Cuan UMKM Melejit, Sampah Melangit |
|
|---|
| Tradisi ‘Pemamanen’ dalam Khitanan Anak Laki-Laki Alas Mulai Jarang Dikenal Generasi Muda |
|
|---|
| Aktivitas Fisik: Kunci Lansia Tetap Mandiri |
|
|---|
| Idul Adha dan Makna Pengorbanan: Jalan Menuju Kebersamaan untuk Aceh yang Bermartabat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Syardani-M-Syarif-alias-Tgk-Jamaica.jpg)