Jumat, 5 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian

Jutaan warga AS turun ke jalan dalam aksi demonstrasi yang membawa pesan kuat: “No King.” 

Tayang:
Editor: Subur Dani
Serambinews.com/HO
Yunidar Z.A (Analis Kebijakan ) 

Hal ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan arah demokrasi kepada prinsip dasar: pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Tekanan publik tersebut juga diarahkan pada keterlibatan militer Amerika Serikat bersama sekutunya Israel, dalam agresi militer AS yang awalnya diprovokasi serangan oleh Israel terhadap Iran.

Kini menjadi konflik kawasan yang besar dan mengguncang ekonomi dunia, terkuncinya Selat Hormuz “jalur pelayaran kebutuhan energi dunia” terkait kebutuhan energi dan berlayar dengan aman kini menjadi mahal. 

Aspirasi masyarakat insternasional jelas mendorong agar AS dan sekutunya segera menghentikan eskalasi konflik dan mengedepankan dialog sebagai jalan keluar dari kemelut perang tersebut.

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 3, Luka yang tak Terlihat, Duka yang tak Berkesudahan

Pasalnya, kondisi tersebut telah merugikan masyarakat dunia bahkan kini dampaknya mulai terasa ke titik kilometer nol Indonesia, Pulau Sabang. 

Kompleksitas Konflik Timur Tengah

Di sisi lain, konflik berkepanjangan di Timur Tengah memperlihatkan kompleksitas sejarah dan politik yang mendalam. 

Pembentukan negara Israel seringkali diperdebatkan dalam perspektif historis dan normatif, terutama terkait dengan wilayah (Kanaan) dan relasi dengan rakyat Palestina. 

Dukungan politik dari kekuatan Barat serta dinamika di Perserikatan Bangsa-Bangsa turut memengaruhi konfigurasi konflik yang berlangsung hingga saat ini.

Namun, sejarah juga mencatat penderitaan panjang komunitas Yahudi, terutama dalam tragedi Perang Dunia II. 

Baca juga: Perang dan Damai - Bagian 2, Catatan Perjalanan ke Pulau Sabang

Diskriminasi, pengusiran, pembunuhan massal, penderitaan, hingga kekerasan sistematis menjadi bagian dari realitas pahit masa lalu. 

Ironisnya, pengalaman historis tersebut belum sepenuhnya menjadi pelajaran universal dalam membangun perdamaian dunia yang inklusif dan berkeadilan. 

Hal ini menegaskan bahwa penderitaan masa lalu orang Yahudi, tidak secara otomatis mencegah reproduksi kekerasan dan konflik baru jika tidak diiringi dengan refleksi nilai - nilai moral, keadaban, akhlak dan transformasi kebijakan, dialog juga mengurangi permusuhan steriotipe antar umat manusia.

Dampak perang, penderitaan sangat jelas, kematian, kehilangan, penyiksaan, skala duka terhadap umat manusia sangatlah nyata dan terukur. 

Sejarah Kelam Perang Dunia 

Dalam Perang Dunia I, rata-rata korban jiwa mencapai sekitar 5.500 orang per hari, sementara dalam Perang Dunia II meningkat menjadi sekitar 7.800 orang per hari. 

Selain itu, jutaan orang menjadi pengungsi, kehilangan tempat tinggal, dan hidup dalam ketidakpastian. 
Perang juga memicu kelaparan, penyakit, serta kerusakan lingkungan yang berkepanjangan. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved