KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai - Bagian 6, No King: Protes Rakyat AS, Kembali ke Demokrasi Menuju Perdamaian
Jutaan warga AS turun ke jalan dalam aksi demonstrasi yang membawa pesan kuat: “No King.”
Dalam banyak kasus, bahkan terjadi tindakan genosida yang mengancam eksistensi suatu kelompok masyarakat. (T. Jacob. Polemologi, bacaan tentang perang dan damai, 1992, hal 140).
Baca juga: Perang dan Damai : Bagian 1
Lebih jauh lagi, penggunaan senjata modern, termasuk potensi senjata nuklir, biologis, dan kimia, menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup umat manusia.
Oleh karena itu, tuntutan masyarakat internasional terhadap perlucutan senjata dan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional semakin menguat.
Perdamaian jangka panjang hanya dapat dicapai melalui komitmen bersama untuk menahan diri dan membangun kepercayaan antarnegara dan menghormati kedaulatan negara lain.
Dunia kontemporer kembali dihadapkan pada pilihan mendasar, melanjutkan siklus kekerasan atau mengambil jalan damai melalui dialog dan diplomasi.
Upaya perundingan, seperti yang pernah diinisiasi dalam berbagai forum internasional, termasuk jalur dialog pertemuan di Islamabad, menunjukkan bahwa komunikasi tetap menjadi kunci dalam meredakan konflik.
Meskipun bukan solusi instan, dialog membuka ruang bagi transformasi perubahan sikap, perilaku dna tindakan dari konflik dengan kekerasan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
Seruan No King
Akhirnya, seruan “No King” bulan Maret lalu yang menggema di jalanan Amerika Serikat sesungguhnya adalah refleksi universal,hentikan perang (stop war) kembali ke meja perundingan, penolakan terhadap kekuasaan absolut “no king” dan dukungan terhadap nilai - nilai demokrasi serta perdamaian.
Baca juga: VIDEO - Trump Diguncang Protes NO KING di AS, Ali Khamenei Sindir Kebijakan Kontroversial Trump
Di tengah kegelapan perang, harapan itu masih ada yang lahir dari suara hati nurani rakyat yang menuntut keadilan, kemanusiaan, peradaban dan masa depan yang lebih damai.
Secercah harapan bila dilakukan gencatan senjata, bukan sekedar jeda kemanusiaan untuk mempersiapkan perang dan mengatur strategi baru.
Gencatan senjata menjadi awal harapan baru memperbaharui transformasi konflik perang menuju dialog dan kesepahaman bersama dalam melanjutkan diplomasi sehingga bisa menang bersama, membangun kembali perdamaian dan harmoni dunia.
Sungguh. Jika ingin berdamai, maka bersiaplah untuk perdamaian.
Baca juga: VIDEO Iran Mengaku Tak Percaya Trump, IRGC Siaga Terima Perintah Pimpinan
Sebab perdamaian bukan sekadar tujuan, melainkan proses yang harus diperjuangkan bersama, dengan kesadaran, keberanian, dan komitmen moral seluruh umat manusia. Semoga.(*)
*) PENULIS adalah Analis Kebijakan – Alumnus Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Mengapa Menonton Video Pendek Bisa Bikin Otak Susah Fokus? |
|
|---|
| PHK Marak Dimana-mana, Sistem Ekonomi Islam Beri Solusi Cerdas Soal Ketenagakerjaan |
|
|---|
| Dampak Pengadaan Didominasi PL, Triliunan Belanja Publik Aceh Terancam Risiko 'Low Impact Spending' |
|
|---|
| Ketika Waktu Terasa Berhenti di Museum Tsunami Aceh |
|
|---|
| Kaya di Peta, Miskin di Meja: Gas Andaman, Dana MBG, dan Pelajaran yang Terus Kita Abaikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-_-Analis-Kebijakan-_-20260329.jpg)