Kamis, 7 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Nyak Sandang dan Pesawat dari Lamno: Ketika Cinta Tanah Air Dibayar dengan Emas Istri

Nyak Sandang adalah representasi nyata dari semangat "Aceh Meugoe" semangat memberi tanpa harap kembali, semangat rela berkorban

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Drs. M. Isa Alima, Pemerhati Kebijakan Publik Aceh 

Oleh: Drs. M. Isa Alima*)

Innalillahi Wa Innailaihi Raji’un.

Hari ini, Selasa 7 April 2026, langit Aceh Jaya tampak lebih rendah. Gampong Lhuet di Kecamatan Jaya, Lamno, kehilangan salah satu putera terbaiknya. 

Nyak Sandang, sosok yang namanya mungkin tidak terpahat megah di monumen ibu kota, namun jasanya tertoreh abadi di sayap-sayap pesawat Garuda yang terbang membelah awan Nusantara, telah berpulang ke Rahmatullah.

Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan seorang tetua kampung. Ini adalah kepergian sebuah "saksi hidup" dari era paling romantik sekaligus paling kritis dalam sejarah kemerdekaan Indonesia

Nyak Sandang adalah representasi nyata dari semangat "Aceh Meugoe" semangat memberi tanpa harap kembali, semangat rela berkorban demi tegaknya Merah Putih.

Mengenang Lamno dan Pesawat Seulawah

Kita sering mendengar kisah "Pesawat Seulawah". Namun, sedikit dari kita yang benar-benar memahami beratnya beban yang dipikul oleh para tokoh seperti Nyak Sandang di pedalaman Lamno pada tahun 1948-1949. 

Saat itu, Republik Indonesia terdesak, kas negara kosong, dan blokade Belanda mencekik leher ekonomi bangsa.

Kepergian Nyak Sandang pada Selasa (7/4/2026) siang menjadi duka mendalam bagi masyarakat Aceh dan bangsa Indonesia. 
Kepergian Nyak Sandang pada Selasa (7/4/2026) siang menjadi duka mendalam bagi masyarakat Aceh dan bangsa Indonesia.  (KOLASE SERAMBINEWS.COM)

Di tengah himpitan itu, dari gampong-gampong kecil di pesisir barat Aceh, muncul inisiatif gila namun mulia: membeli pesawat untuk perjuangan. 

Siapa yang menggerakkannya? Para ulama, para keuchik, dan tokoh masyarakat seperti Nyak Sandang.

Baca juga: Jejak Pengabdian Nyak Sandang, Tokoh Aceh Penyumbang Dana yang Pernah Dianugerahi Bintang Jasa 

Bayangkan suasana saat itu. Nyak Sandang dan rekan-rekannya berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka tidak meminta uang tunai yang memang tidak ada. 

Mereka meminta emas perhiasan istri-istri mereka, cincin pusaka, bahkan ternak satu-satunya yang dimiliki warga. 

Dengan air mata haru dan iman yang membaja, wanita-wanita Aceh melepaskan perhiasan terakhir mereka. Emas itu dilebur, dikumpulkan, dan dikirim ke Jawa untuk dibeli menjadi pesawat Dakota RI-001 Seulawah.

Nyak Sandang adalah motor penggerak moral di balik itu semua. Beliau adalah bukti bahwa kemerdekaan ini tidak dibeli dengan dana asing atau utang bank dunia, melainkan dibeli dengan keringat, darah, dan harta benda rakyat kecil di ujung barat Sumatra.

Refleksi Kebijakan Publik: Di Mana Posisi Kita Hari Ini?

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved