Breaking News
Selasa, 9 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah

Permainan edukatif bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium sosial yang aman bagi remaja untuk melatih regulasi emosi

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
SYARIFAH ZAINAB, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar 

SYARIFAH ZAINAB, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar

Permainan edukatif bukan sekadar hiburan, melainkan laboratorium sosial yang aman bagi remaja untuk melatih regulasi emosi dan mencegah perundungan.

Masa remaja merupakan periode transisi krusial yang kerap diwarnai fluktuasi emosional yang sangat intens. Pada fase ini, individu mengalami perubahan biologis, kognitif, dan sosial yang signifikan. Perubahan tersebut sering kali membuat remaja menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, serta mengalami kesulitan dalam memahami dan mengendalikan emosinya sendiri.

Di Aceh, tantangan kesehatan mental cukup nyata, di mana prevalensi gangguan jiwa dilaporkan mencapai 2,7 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kesehatan mental masih menjadi isu yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya pada kelompok usia remaja.

Rendahnya kemampuan remaja dalam mengelola emosi negatif berdampak langsung pada munculnya berbagai perilaku malaadaptif.

Dalam konteks pendidikan, hal ini sering kali termanifestasi dalam bentuk konflik antarteman, perilaku agresif, hingga perundungan (bullying).

Tidak jarang, remaja yang tidak mampu mengelola kemarahan atau rasa frustrasi akan menyalurkan melalui tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Tantangan ini menjadi semakin spesifik di lingkungan pendidikan berasrama seperti pesantren. Para santri tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga harus beradaptasi dengan kehidupan kolektif yang penuh aturan, keterbatasan privasi, serta interaksi sosial yang intens selama 24 jam.

Selain itu, adanya tuntutan untuk menghafal Al-Qur’an atau setor hafalan harian, dan menjaga kedisiplinan tinggi dapat menjadi tekanan tambahan bagi sebagian santri. Kondisi ini menjadikan pesantren sebagai lingkungan yang kaya akan pengalaman sosial, tetapi sekaligus berpotensi menimbulkan stres jika tidak diimbangi dengan keterampilan regulasi emosi yang baik.

Menyadari urgensi tersebut, saya dan tim peneliti dari Fakultas Psikologi Unmuha, dengan dukungan dari Riset Muhammadiyah (RisetMu), mengembangkan sebuah langkah preventif yang sederhana, tetapi bermakna. Kami berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan mudah diterima oleh remaja, khususnya di lingkungan pesantren. Pendekatan ini diwujudkan dalam bentuk permainan edukatif yang kami sebut sebagai “Ular tangga emosi”.

Alih-alih menggunakan pendekatan klinis yang formal dan terkadang terasa kaku bagi remaja, kami memilih media permainan yang sudah sangat familier. Permainan ular tangga dipilih karena sifatnya sederhana, interaktif, dan mampu melibatkan banyak peserta dalam suasana yang santai.

Namun, permainan ini kami modifikasi sedemikian rupa sehingga tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran emosional.

Pentingnya meregulasi emosi

Kemampuan mengelola emosi (regulasi emosi) merupakan salah satu keterampilan hidup (life skill) yang sangat penting bagi remaja. Regulasi emosi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menahan amarah, tetapi juga mencakup kemampuan mengenali emosi, memahami penyebabnya, serta mengekspresikannya secara tepat dan adaptif.

Remaja yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung lebih mampu menghadapi tekanan hidup, memiliki hubungan sosial yang lebih sehat, serta menunjukkan perilaku yang lebih prososial.

Mereka juga lebih mampu mengambil keputusan secara rasional, meskipun berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

Sebaliknya, remaja yang kurang memiliki keterampilan ini berisiko mengalami berbagai masalah psikologis, seperti kecemasan, depresi, hingga perilaku agresif.

Dalam konteks sekolah atau pesantren, ketidakmampuan mengelola emosi sering kali menjadi pemicu konflik interpersonal dan perundungan. Oleh karena itu, intervensi yang berfokus pada pengembangan regulasi emosi menjadi sangat penting sebagai upaya promotif dan preventif dalam kesehatan mental remaja.

Di lingkungan pesantren, kemampuan ini menjadi semakin krusial. Santri harus mampu mengelola rasa rindu kepada keluarga, tekanan akademik, serta dinamika hubungan dengan teman sebaya.

Tanpa keterampilan regulasi emosi yang memadai, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan yang berdampak pada kesejahteraan psikologis mereka.

Berlatih meregulasi emosi 

Berangkat dari pemahaman tersebut, kami berinisiatif untuk merancang sebuah intervensi yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menyenangkan dan mudah diterapkan. Permainan “Ular tangga emosi” dikembangkan sebagai media psikoedukasi yang memungkinkan remaja belajar sambil bermain.

Konsep permainan ini pada dasarnya sama seperti ular tangga konvensional. Para pemain melempar dadu dan menjalankan bidak sesuai angka yang diperoleh. Namun, yang membedakan adalah setiap kotak yang diinjak akan mengarahkan pemain untuk mengambil kartu khusus.

Kartu-kartu tersebut berisi pertanyaan reflektif dan informasi edukatif berkaitan dengan pengalaman emosional sehari-hari.

Melalui mekanisme ini, santri tidak hanya diajak untuk memahami konsep regulasi emosi secara teoretis, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung dalam suasana yang aman dan suportif.

Interaksi dengan teman sebaya selama permainan juga menjadi nilai tambah, karena mereka dapat saling berbagi pengalaman, belajar dari satu sama lain, serta membangun empati.

Selain itu, permainan ini juga mendorong terbentuknya iklim sosial yang lebih positif di antara santri. Ketika mereka belajar memahami emosi diri sendiri, mereka juga menjadi lebih peka terhadap perasaan orang lain. Hal ini secara tidak langsung dapat menurunkan potensi konflik dan perundungan di lingkungan pesantren.

Harapan ke depan

Permainan ini menjadi bukti bahwa proses belajar emosional dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas sehari-hari tanpa harus mengurangi unsur kesenangan. Di tengah tuntutan akademik dan kedisiplinan yang tinggi di pesantren, kehadiran media seperti ini dapat menjadi ruang alternatif bagi santri untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan keterampilan psikologis yang penting.

Harapannya, model intervensi ini dapat dikembangkan lebih luas, tidak hanya di pesantren, tetapi juga di sekolah-sekolah umum dan komunitas remaja lainnya. Dengan penyesuaian tertentu, permainan ini dapat menjadi salah satu media edukasi kesehatan mental yang mudah direplikasi dan diterapkan.

Melalui permainan interaktif ini, remaja dilatih secara berulang untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi mereka. Kartu-kartu pada “Ular tangga emosi” ini dibuat berdasarkan teori. Setiap tantangan yang disajikan dalam kartu mendorong refleksi diri, misalnya dapat mengidentifikasi pemicu emosi negatif atau merumuskan strategi respons yang adaptif.

Dengan demikian, bermain bukan hanya menjadi hiburan, melainkan proses yang kolaboratif dan aman untuk mempraktikkan keterampilan emosional di antara teman sebaya.

Intervensi “Ular tangga emosi” menegaskan bahwa solusi inovatif untuk masalah kesehatan mental remaja tidak harus selalu bersifat klinis atau rumit. Di tengah tuntutan akademik dan kedisiplinan yang ketat di lingkungan pesantren, permainan sederhana ini telah membuka ‘laboratorium sosial’ yang aman, tempat para santri dapat secara berulang melatih keterampilan hidup yang paling fundamental; mengelola hati, dan pikiran mereka. Dengan menanamkan kecakapan regulasi emosi yang adaptif sejak dini, kita tidak hanya mencegah Risiko depresi, kecemasan, dan perilaku perundungan, tetapi juga menanamkan fondasi untuk melahirkan generasi santri yang matang secara mental, resilien, dan siap menjadi agen perubahan yang positif bagi masyarakat luas.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved