Kamis, 16 April 2026

Kupi Beungoh

Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan

“Peusijuek” demikian juga biasa dilaksanakan pada momen penting lain dalam hidup masyarakat Aceh, seperti pernikahan, naik haji, atau tonggak karir.

Editor: Agus Ramadhan
KOLASE SERAMBINEWS.COM
Suandi (tokoh Masyarakat Samatiga, kanan)) dan Prof Muhammad Irham (Akademisi USK, kiri) 

Secara khusus, di Kecamatan Samatiga tradisi Peusijuk Sarjana telah digelar selama 66 tahun terakhir. Pelaksanaannya biasa dilakukan pada hari keempat Idul Fitri, bertepatan dengan momentum kepulangan perantau ke kampung halaman.

Acara ini diorganisir oleh Ikatan Pelajar Mahasiswa Samatiga (IPMS) dan dukungan organisasi kemasyarakatan seperti FORBANGSA dan IKASA, hingga pemerintah lokal (mukim, geuchik, camat).

Pada kesempatan itu, lulusan S1, S2, S3, bahkan Guru Besar asal Samatiga diundang dan di-peusijuk. Ritus keagamaan diawali doa bersama, pembacaan ayat suci, dan tabur tepung serta beras kuning, lalu diakhiri bersalam-salaman. Selain wujud apresiasi akademik, kegiatan ini mempererat silaturahmi.

Semua lapisan masyarakat hadir untuk memberi motivasi kepada para sarjana sebagai “generasi intelektual” yang diharapkan membangun daerah.

Menurut Sekjen FORBANGSA Samatiga, Suandi, peusijuk sarjana tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi dorongan bagi pemuda untuk terus belajar dan meningkatkan kualitas diri.

Sama halnya, Ketua IKASA Dr. Suharman menjelaskan bahwa peusijuk merupakan “warisan leluhur yang terus dijaga sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada tokoh atau pejabat yang memiliki peran dalam pembangunan”.

Pernyataan kedua pemimpin pemuda ini memperjelas fungsi sosial budaya peusijuk. ritual Rini menjadi simbol status baru (misalnya Profesor atau kepala daerah) sekaligus media penguatan solidaritas komunitas.

Para peserta yang dipeusijuk, baik akademisi maupun tokoh publik, dihimbau untuk berkontribusi membangun Samatiga bersama masyarakat.

Di samping itu, peusijuk juga diselenggarakan oleh instansi formal di Meulaboh. Misalnya, Kantor Kemenag Aceh Barat mengadakan upacara peusijuk bagi calon jemaah haji (JCH) yang hendak berangkat, menekankan peran ibadah haji sebagai kemuliaan dan keistimewaan.

Kegitan ini juga ditujukan pada ratusan calon jemaah haji Aceh Barat untuk mendengarkan arahan usai ritual peusijuk biasanya di Masjid Agung Baitul Makmur, sebagai bagian pelepasan ke tanah suci.

Peristiwa ini menegaskan bahwa peusijuk, meski awalnya adat local, dianggap juga bernilai religius dan menjadi sarana doa restu bagi keberangkatan ke Tanah Suci.

Beberapa data menunjukkan peristiwa kegiatan peusijuk di beberapa Kecamatan di Aceh Barat dengan nuansa yang berbeda-beda. Sebagai perbandingan mari kita lihat gambar table berikut.

lihat fotoPerbandingan Praktik Peusijuk di Beberapa Wilayah Aceh Barat
Perbandingan Praktik Peusijuk di Beberapa Wilayah Aceh Barat

Tabel di atas menyimpulkan bahwa Samatiga adalah satu-satunya kecamatan di Aceh Barat yang secara konsisten menyelenggarakan peusijuk bagi para akademisi secara rutin.

Di Meulaboh (Kecamatan Johan Pahlawan) peusijuk hanya muncul pada acara-acara spesial (misal pelepasan haji, halal bihalal dinas) dan didukung instansi keagamaan.

Sementara di kecamatan-kecamatan lain, peusijuk lebih bersifat sporadis atau tradisional (misal saat pesta pernikahan), dan tingkat pelaksanaannya menurun.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved