Kupi Beungoh
Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan
“Peusijuek” demikian juga biasa dilaksanakan pada momen penting lain dalam hidup masyarakat Aceh, seperti pernikahan, naik haji, atau tonggak karir.
Berikut adalah gambarran evolusi peusijuk di Samatiga dan Aceh Barat. Sekitar 1960-an, tradisi peusijuk untuk para sarjana mulai tercatat di Samatiga (sejak "66 tahun" lalu hingga tahun 2026). Pada 1980-an, penyelenggaraan peusijuk sarjana semakin terstruktur dengan berdirinya IPMS dan ikatan alumni.
Pada era 2000-an, pengaruh gerakan Islam puritanisme menimbulkan kritik dan penurunan praktik peusijuk di beberapa komunitas.
Namun demikian, pada 2020-an, Samatiga tetap mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya, dengan peusijuk sarjana rutin digelar dan menyorot pencapaian guru besar baru.
Argumen utama ini menekankan bahwa meski tradisi lama seperti peusijuk menghadapi tantangan zaman, nilai-nilai kearifan lokalnya tetap relevan sebagai sarana pembinaan moral dan kebangsaan.
Menjaga tradisi peusijuk sarjana di Samatiga bukan hanya soal kenangan budaya, tetapi juga wujud nyata penghargaan bagi pendidikan dan pengingat komitmen kolektif untuk melanjutkan perjuangan meningkatkan kualitas SDM Aceh Barat.
Data menunjukkan bahwa Aceh Barat sudah memasuki “bonus demografi”, sehingga kualitas sumber daya manusia sangat penting bagi masa depan daerah.
Dengan hampir 12 ribu penduduk berijazah S1 dan ratusan pascasarjana, potensi intelektual Kabupaten Aceh Barat besar –, khususnya bila dikelola melalui jaringan sosial yang rapat seperti yang tercermin dalam tradisi peusijuk ini.
Namun, masih terdapat kekosongan data spesifik mengenai lulusan Master/Doktor dan jumlah profesor asal Aceh Barat.
Disarankan pemerintah daerah atau BPS kabupaten bersama perguruan tinggi (misalnya UTU, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh) menyusun statistik terperinci tentang lulusan perguruan tinggi warga Aceh Barat, termasuk data jenjang S2/S3 dan guru besar.
Rekomendasi lainnya, agar peusijuk sarjana diperkenalkan sebagai program pendidikan nonformal, misalnya dengan melibatkan para sarjana alumnus Aceh Barat sebagai mentor bagi pelajar. Interaksi ini akan memperkuat semangat kebersamaan dan aspirasi kolektif.
Sebagai penutup, tradisi peusijuk di Aceh Barat, dengan segala dinamika sosialnya, menjadi cermin bahwa kemajuan pendidikan dan tradisi lokal tidak saling bertentangan.
Meskipun beberapa pemuda mungkin enggan meneruskan adat lama, tinjauan masa kini dan data teranyar menunjukkan bahwa peusijuk di Samatiga tetap hidup sebagai simbol prestasi dan kebersamaan.
Menghormati pendidik dan pemimpin melalui adat tradisional ini justru dapat memperkuat ikatan sosial dan memperkokoh identitas kultural Aceh Barat dalam menghadapi tantangan global. Kita perlu memastikan bahwa generasi mendatang, leluhur adat dan intelektual Aceh Barat, tidak terputus tali silaturahmi spiritualnya. (*)
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Suandi-tokoh-Masyarakat-Samatiga-kanan-dan-ProfMuhammad-Irham-Akademisi-USK-kiri.jpg)