Kupi Beungoh
Menyikapi Ancaman El-Nino Godzilla
Dalam beberapa bulan terakhir, ancaman Elnino kembali menjadi perhatian serius dunia terutama oleh pegiat di sektor pertanian dengan istilah ba
Oleh: Husaini Yusuf, SP, MSi *)
Dalam beberapa bulan terakhir, ancaman Elnino kembali menjadi perhatian serius dunia terutama oleh pegiat di sektor pertanian dengan istilah baru ‘El Nino Godzilla’.
Istilah baru ini menjadi ramai diperbincangkan karena disinyalir lebih menakutkan dari Elnino biasa.
Apa sebenarnya ‘El Nino Godzilla’? Apakah dia akan menjadi momok atau ancaman bagi petani dan pelaku pertanian?
Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan istilah baru El Nino Godzilla ini bukanlah jenis fenomena baru, melainkan sebutan untuk El Nino yang dampaknya diperkirakan lebih kuat.
Salah satu ancamannya adalah masa kekeringannya lebih panjang (extreme) dibandingkan elnino yang selama ini terjadi.
Tentu ini akan menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian yang merupakan mata pencarian utama hampir seluruh penduduk negeri ini.
Baca juga: Antisipasi Elnino dan Elnina, Pemkab Aceh Besar Gelar Apel Karhutla
Oleh karenanya, para petani dan juga pegiat sektor pertanian secara umum harus mampu memahami secara baik fenomena baru ini.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi El Nino Godzilla akan muncul pada April hingga Oktober 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia.
Senada dengan pernyataan BRIN, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Aceh memperkirakan dalam beberapa bulan ke depan (April-September) sebagian kabupaten/kota di Aceh akan mengalami tingkat curah hujan dan jumlah hari hujan makin sedikit.
Menurut perkiraan mereka, di Wilayah Timur Aceh misalnya, curah hujan akan semakin rendah pada Mei-Juli.
Demikian juga di kawasan Barat Selatan akan mengalami musim kering lebih lama pada medio Juni-Agustus.
Sementara di Aceh bagian Tengah musim kering lebih panjang diprediksi akan terjadi pada Juni-Juli. Adapun puncak musim kemarau akan tiba pada Juni-September 2026.
Baca juga: Penyerapan Pupuk Subsidi dan Nonsubsidi Rendah, Dampak dari Elnino dan Kemarau
Kondisi ini harus benar-benar diwaspadai oleh petani juga seluruh masyarakat dan pemangku kebijakan karena peristiwa ini akan berimbas pada seluruh sektor, termasuk ekonomi dan sosial.
Dampak
FAO memang telah mengingatkan kita semua bahwa Indonesia termasuk negara yang berdampak langsung terhadap El Nino Godzilla yang mengakibatkan terjadinya kekeringan panjang (FAO, 2026).
Hal ini mengakibatkan ketersediaan air bagi sektor pertanian makin kritis.
Konon lagi, Provinsi Aceh akan segera memasuki musim tanam padi musim gadu pada April-Maret (Asep) yang tentu sangat membutuhkan air untuk kebutuhan tanaman.
Penurunan tajam tingkat curah hujan ini akan menyebabkan banyak persoalan, seperti sumur masyarakat kering, air waduk menyusut, dan sungai akan dangkal, sehingga kondisi ini bukan saja dampaknya pada sektor pertanian.
Namun juga berefek ke seluruh lini masyarakat. Memang pertanian sektor paling rentan akibat elnino tersebut.
Dampak nyata ini akan muncul di depan mata kita jika fenomena ini tidak disikapi dengan baik.
Iklim ekstrem tersebut diprediksi mengancam ketahanan pangan nasional melalui risiko gagal panen (puso) baik komoditas padi dan jagung.
Kondisi ini akan mengakibatkan penurunan produksi pangan dan tentu akan berefek pada lonjakan harga.
Di tengah instabilitas politik dan ekonomi global yang sedang terjadi hari ini, perkiraan dampak ini harus dapat diminimalisir seefektif mungkin sehingga jaminan ketersediaan pangan dalam negeri dapat dikendalikan dengan baik dan harga tetap terjangkau bagi masyarakat.
Krisis pangan yang melanda dunia hari ini harus disikapi dengan langkah-langkah taktis dan terukur.
Lalu, apa yang harus dilakukan dan bagaimana langkah-langkahnya untuk melindungi petani kita?
Setidaknya mereka tetap kokoh (resilience) dan adaptif terhadap ancaman, baik dalam bentuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sehingga terus dapat melakukan usahatani dan menghasilkan.
Langkah Strategis
Pertama, petani bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di lingkungan sekitarnya.
Misalnya memastikan jadwal tanam, ketersediaan air ketika memasuki musim tanam dan kebutuhan prasarana dan sarana alat mesin pertanian (alsintan) untuk kebutuhan lapangan.
Ini harus dikoordinasikan dengan baik bersama PPL dan diusulkan ke Kementerian Pertanian.
PPL merupakan perpanjangan tangan Kementerian Pertanian di daerah. Mereka ada di setiap kecamatan, dan siap siaga membantu masyarakat tani guna meminimalisir dampak ancaman Elnino.
PPL harus mengidentifikasi risiko-risiko yang akan terjadi di lapangan ketika petani akan melakukan penanaman, terutama aspek tata kelola usaha tani.
Misalnya dalam pemilihan komoditas dan varietas yang tahan (tolerance) kekeringan, sehingga petani tidak salah dalam memilih.
Ini adalah diantara teknologi sederhana dalam upaya adaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Kementerian Pertanian telah banyak menghasilkan varietas-varietas tanaman terutama padi yang toleran kekeringan (padi gogo) seperti Inpago Fortizt.
Juga padi yang cocok pada kondisi endemi hama dan penyakit tertentu.
Kedua, manajemen pengelolaan kelompok tani (poktan) dalam pengendalian organisme tanaman (OPT), sistem pengelolaan air yang didalamnya termasuk konservasi sumber daya air, dan inovasi teknologi irigasi hemat air.
Ini penting sekali dipahami oleh petani ditengah keterbatasan air tersebut, mereka harus mampu beradaptasi.
Sistem AWD (Alternate Wetting and Drying), misalnya, metode ini sangat efisien digunakan pada budidaya padi sawah di mana tanah dibiarkan kering secara berkala sebelum digenangi kembali, terbukti hemat air sekitar 40 persen.
Lalu, ada Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation) yang sangat dianjurkan untuk usaha tani hortikultura.
Ketiga, peningkatan kapasitas Sumberdaya Manusia (SDM).
SDM di sini difokuskan baik pada peningkatan kapasitas penyuluh lapangan (PPL) dalam pengambilan keputusan serta asessmen kebutuhan teknologi yang tepat guna sesuai kondisi lapangan dan peningkatan kapasitas petani yang dilakukan oleh penyuluh.
Selain pemberdayaan SDM, tak kalah penting adalah penyediaan prasarana sarana pertanian yang memadai dan sesuai terutama saluran irigasi, pompa, embung, kawasan penangkap air (waduk) dan alat mesin pertanian (alsintan). Ini harus tersedia tepat waktu untuk mengejar jadwal tanam dan musim panen.
Strategi terakhir adalah peningkatan kapasitas sistem informasi digital. Memang ini dapat dikatakan sebagai faktor pendukung dalam merespon ancaman fenomena Elnino Godzilla.
Namun di era digitalisasi ini kita harus meyakinkan petani bahwa pemanfaatan informasi digital tidak bisa diabaikan karena semua informasi bisa diakses lewat sistem tersebut mulai dari pengetahuan teknis, informasi pasar, cuaca dan bahkan ekspor impor produk pertanian.
Fenomena Baru
Khususnya di Provinsi Aceh, pasca bencana Hidrometeorologi Sumatera pada 2025 lalu, kondisi kehidupan petani belum benar-benar membaik.
Lahan yang tertimbun lumpur masih terbengkalai, padahal pertanian tulang punggung ekonomi mereka di perdesaan.
Mereka pemberi makan anak negeri ini. Duh!
Mengutip pernyataan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Azanuddin Kurnia pada media ini dalam opini ‘Perjalanan Panjang Sebutir Nasi’ (Serambi, 9 April 2026) bahwa betapa lelahnya petani dalam memberi makan 287 juta jiwa penduduk negeri ini, namun kehidupannya masih tetap morat marit.
Kini, lokasi bekas bencana Hidrometeorologi itu mengalami fenomena baru.
Ketika hujan deras tiba, permukiman mereka bak sungai tanpa tepi.
Sebagian besar wilayah terdampak akan mengalami banjir bagai air bah. Beberapa penduduk yang telah membersihkan tempat tinggalnya kembali tergenang. Ironis!
Hal ini terjadi disebabkan banyak sungai sudah rata dengan lahan sawah dan pemukiman penduduk pasca banjir, sehingga air bawaan dari gunung meluber ke pemukiman.
Ini persoalan yang harus segera ditangani. Di samping itu, traumatik bagi anak-anak terus mendera ketika hujan deras tiba. Ini sangat mengancam masa depan mereka.
Hutan gundul, sungai macet, pekerjaan sebagai petani makin tidak jelas arahnya sehingga menyebabkan ekonomi rumah tangga tani kian sulit.
Ditambah lagi fenomena alam Elnino Godzilla yang menjadi momok. Ini semua harus dicarikan solusi segera tanpa banyak sandiwara. Semoga!. (*)
*) PENULIS adalah Alumnus IPB University, Pengurus Wilayah Pemuda ICMI Aceh dan Pengurus Ikatan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Aceh. Email: hussainiyussuf85@gmail.com
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI
| Perang dan Damai – Bagian 10, Keberlangsungan Peradaban Keamanan Manusia, Stop War |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Husaini-Yusuf19.jpg)