Senin, 20 April 2026

Jurnalisme Warga

Mengapa Edukasi Narkoba Harus Viral?

Di tengah derasnya arus informasi digital, perhatian publik, terutama generasi muda, menjadi komoditas yang sangat mahal.

Editor: mufti
IST
M. ZUBAIR,  S.H., M.H., Kepala Dinas Kominsa Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

M. ZUBAIR, S.H., M.H., Kepala Diskominsa Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Di tengah derasnya arus informasi digital, perhatian publik, terutama generasi muda, menjadi komoditas yang sangat mahal. Setiap hari, jutaan konten berlomba-lomba muncul di layar gawai: mulai dari hiburan ringan, tren tarian, hingga isu-isu sosial yang dikemas secara kreatif. 

Dalam lanskap digital seperti ini, kampanye edukasi, termasuk tentang bahaya narkoba, tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan konvensional. Edukasi harus bertransformasi. Ia tidak cukup hanya benar, tetapi juga harus menarik. Dalam bahasa yang lebih sederhana: edukasi narkoba harus viral.

Upaya kampanye antinarkoba melalui media digital tersebut sekarang sedang gencar dilakukan oleh beberapa lembaga di Aceh, seperti Forum Aceh Menulis (FAMe), BNNP Aceh, Lembaga Pemerhati dan Advokasi Syariat Islam (Lepadsi), Lembaga Wali Nanggroe Aceh, Polda Aceh, Pemko Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala (USK), dan sejumlah kampus lainnya.

Setiap lembaga atau organisasi tersebut menyiapkan kata-kata bijaknya atau ‘quote’ mengenai bahaya narkoba yang dikemas dalam bentuk e-flyer dan diunggah pada medsos masing-masing lembaga/organisasi yang tergabung dalam kegiatan kampanye bersama tersebut.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Generasi muda saat ini, khususnya Generasi Z dan Alpha, tumbuh dalam ekosistem digital yang serbacepat dan visual. Mereka lebih responsif terhadap konten singkat, padat, dan emosional.

Video berdurasi 15 hingga 60 detik sering kali lebih berdampak dibandingkan artikel panjang atau seminar formal. Dalam konteks ini, pesan tentang bahaya narkoba harus mampu bersaing dengan konten hiburan yang jauh lebih

menggoda. Jika tidak, pesan tersebut akan tenggelam di antara hiruk-pikuk algoritma.

Namun, menjadikan edukasi narkoba sebagai konten viral bukan berarti mengorbankan substansi. Justru di sinilah tantangannya: bagaimana mengemas pesan yang serius dan krusial dalam format yang ringan, menarik, dan mudah dibagikan. Kreativitas menjadi kunci. Misalnya, alih-alih menyampaikan data statistik secara kaku, kampanye dapat

menggunakan ‘storytelling’ kisah nyata mantan pengguna, animasi, atau bahkan pendekatan humor yang tetap sensitif.

Konten seperti ini lebih mudah menyentuh emosi dan mendorong audiens untuk berbagi.

Mungkin hal seperti ini juga menarik bila dilakukan lembaga dan organisasi yang sedang gencar mengampanyekan Gerakan antinarkoba di Aceh tersebut. Saya teringat, video-video singkat seperti itu ada ditampilkan oleh narasumber dari BNNP Aceh saat menyampaikan materi tentang bahaya narkoba pada pelatihan konten kreator yang dilaksanakan oleh Diskominsa Bireuen bekerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Komdigi tahun lalu di Bireuen.

Peran media sosial dalam hal ini sangatlah strategis. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube bukan hanya sarana hiburan, melainkan juga ruang pembentukan opini.

Algoritma pada platform-platform ini bekerja dengan prinsip keterlibatan: semakin banyak interaksi yang didapat sebuah konten, semakin luas jangkauannya. Artinya, jika konten edukasi narkoba mampu menarik perhatian sejak detik pertama, peluang untuk menjangkau audiens yang lebih luas akan meningkat secara signifikan.

Sayangnya, banyak kampanye antinarkoba masih terjebak pada pendekatan lama. Visual yang kaku, bahasa yang terlalu formal, dan pesan yang cenderung menggurui sering kali membuat audiens muda merasa jauh. Alih-alih merasa terhubung, mereka justru mengabaikan.

Padahal, dalam dunia digital, kesan pertama sangat menentukan. Konten yang tidak menarik dalam tiga detik pertama hampir pasti akan dilewati.

Oleh karena itu, pendekatan berbasis audiens menjadi sangat penting. Kampanye harus memahami siapa yang ingin dijangkau: apa yang mereka sukai, bagaimana cara mereka berkomunikasi, dan nilai-nilai apa yang mereka anggap penting. Misalnya, generasi muda cenderung lebih tertarik pada isu kesehatan mental, ‘self-growth’, dan kebebasan berekspresi.

Edukasi narkoba dapat dikaitkan dengan tema-tema ini, seperti bagaimana narkoba dapat merusak kesehatan mental atau menghambat masa depan seseorang.

Selain itu, kolaborasi dengan kreator konten atau 'influencer' juga menjadi strategi yang efektif. Mereka memiliki kedekatan emosional dengan pengikut (follower)-nya dan mampu menyampaikan pesan dengan gaya yang lebih personal.

Ketika seorang kreator yang dipercaya berbicara tentang bahaya narkoba, pesan tersebut terasa lebih autentik dibandingkan kampanye formal dari institusi.

Namun, tentu saja, pemilihan kreator harus dilakukan secara selektif agar pesan yang disampaikan tetap kredibel dan tidak menimbulkan kontradiksi.

Flyer digital yang dibuat beberapa lembaga dan organisasi di Aceh, juga memiliki peran penting dalam ekosistem ini. Meski terlihat sederhana, desain visual yang kuat dapat menjadi pintu masuk bagi audiens untuk memahami pesan lebih dalam. Warna yang kontras, tipografi yang tegas, serta slogan yang singkat dan mengena dapat meningkatkan daya tarik sebuah kampanye.

Dalam banyak kasus, satu kalimat yang kuat lebih efektif daripada paragraf panjang. Misalnya, kalimat seperti “Biar viral, tapi jangan narkoba” dapat langsung menangkap perhatian sekaligus menyampaikan pesan inti.

Namun, viralitas bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah alat untuk memperluas jangkauan. Yang lebih penting adalah dampak jangka panjang: perubahan sikap, peningkatan kesadaran, dan pada akhirnya penurunan angka penyalahgunaan narkoba yang di Aceh saat ini jumlahnya mencaapi 80.000 orang.

Oleh karena itu, kampanye digital harus dirancang secara berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.

Konsistensi dalam penyampaian pesan akan membantu membangun kesadaran kolektif yang lebih kuat.

Di sisi lain, pemerintah dan lembaga terkait juga perlu beradaptasi dengan cepat.

Investasi dalam literasi digital, pelatihan pembuatan konten, serta pemanfaatan data analitik menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Dengan memahami pola perilaku audiens, kampanye dapat disesuaikan secara lebih tepat sasaran. Data seperti waktu aktif pengguna, jenis konten yang paling banyak disukai, hingga respons terhadap pesan tertentu dapat menjadi dasar dalam merancang strategi komunikasi yang lebih efektif.

Penting juga untuk melibatkan komunitas dalam kampanye ini. Anak muda tidak hanya sebagai target, tetapi juga sebagai bagian dari solusi. Dengan memberi ruang bagi

mereka untuk berpartisipasi, misalnya melalui kompetisi konten, ‘challenge’, atau gerakan digital, rasa kepemilikan terhadap isu ini akan meningkat.

Ketika pesan datang dari sesama teman sebaya, dampaknya sering kali lebih kuat dan lebih mudah diterima.

Pada akhirnya, kampanye antinarkoba di era digital tidak hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang bagaimana pesan itu dikemas dan disebarkan.

Dalam dunia yang serbacepat ini, perhatian adalah pintu masuk utama. Jika edukasi ingin didengar, ia harus mampu menarik perhatian terlebih dahulu. Dan, dalam konteks generasi digital, menarik perhatian sering kali berarti menjadi viral.

Maka, edukasi narkoba perlu masuk ke dunia digital dan dapat bertahan serta berkembang di dalamnya. Untuk itu, perlu inovasi, memahami audiens, dan memanfaatkan teknologi secara cerdas. Karena di era ini, pesan yang paling penting sekalipun tidak akan berarti jika tidak sampai ke telinga dengan cara yang tepat.

Edukasi narkoba harus tetap serius dalam substansi, tetapi fleksibel dalam penyampaian. Ia harus mampu berbicara dengan bahasa zaman, tanpa kehilangan makna. Jika viralitas adalah jalan untuk mencapai itu, maka sudah saatnya kita memanfaatkannya sebaik mungkin.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved