Jurnalisme Warga
Askopma, Denyut Nadi Bisnis dan Pembinaan Karakter USK
Ini adalah sinyal kuat tentang arah baru USK menuju kemandirian finansial dan penguatan ekosistem kewirausahaan kampus.
Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh
Terpilihnya Prof Mirza Tabrani DBA sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026–2031 bukan sekadar pergantian pemimpin kampus. Ini adalah sinyal kuat tentang arah baru USK menuju kemandirian finansial dan penguatan ekosistem kewirausahaan kampus.
Sebagai seorang ahli bisnis dengan pengalaman global, Prof Mirza diharapkan mampu menjawab tantangan klasik yang selama ini membelenggu pengembangan USK: persoalan keuangan.
Salah satu aset paling strategis yang selama ini terabaikan adalah Asrama Koperasi Mahasiswa (Askopma) USK. Jika dikelola dengan visi bisnis yang tajam dan misi pembinaan karakter yang kokoh, Askopma dapat menjelma menjadi pusat bisnis dan pusat penguatan karakter mahasiswa yang luar biasa.
Askopma, aset tidur
Askopma bukanlah asrama biasa. Kompleks ini menempati lahan strategis di jantung kawasan pendidikan USK, dikelilingi oleh gedung-gedung kuliah, fakultas, dan akses jalan utama. Di dalamnya, tinggal ribuan mahasiswa, yang sebagian besar adalah penerima beasiswa, termasuk Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).
Berdasarkan data penerimaan mahasiswa baru USK, setiap tahun rata-rata lebih dari 1.700 mahasiswa penerima KIP-K menghuni Askopma. Mereka datang dari berbagai daerah dengan latar belakang ekonomi terbatas, tetapi semangat belajarnya tinggi.
Kehadiran mereka menciptakan pasar harian yang sangat potensial: kebutuhan makan, pakaian, transportasi, jasa kecantikan, akses internet, hingga pelatihan keterampilan.
Sayangnya, selama ini potensi ekonomi Askopma belum tergarap maksimal. Gedung-
gedung yang indah dan strategis itu hanya berfungsi sebagai tempat tidur dan belajar terbatas, bahkan ada yang tidak terurus. Tidak ada unit bisnis terpadu yang melayani kebutuhan mahasiswa secara profesional. Kantin yang ada masih dikelola secara tradisional, belum ada salon khusus mahasiswi yang setiap menjelang wisuda mengalami lonjakan permintaan tinggi. Juga belum ada pusat pelatihan bahasa asing atau inkubator bisnis mahasiswa di Askopma. Padahal, jika dikelola dengan pendekatan korporasi yang
sehat, Askopma bisa menghasilkan keuntungan rutin bagi USK sekaligus menjadi laboratorium hidup kewirausahaan mahasiswa.
Dijadikan pusat bisnis
Bayangkan jika Prof Mirza Tabrani, dengan latar belakang MBA dan Doktor Bisnis,
menerapkan model pengelolaan aset kampus yang profesional di Askopma. Beberapa gagasan konkret yang bisa diwujudkan dalam waktu singkat. Misalnya:
Pertama, Askopma Food Court. Seluruh area bawah gedung asrama yang selama ini kurang termanfaatkan dapat disulap menjadi pusat kuliner mahasiswa dengan konsep
Jurnalisme Warga
penulis jurnalisme warga
Prof Dr Apridar SE MSi
Askopma Denyut Nadi Bisnis dan Pembinaan Karakter
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Mengapa Edukasi Narkoba Harus Viral? |
|
|---|
| Progres Menggembirakan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh Barat |
|
|---|
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Apridar-soal-masjid-Oman.jpg)