Jurnalisme Warga
Askopma, Denyut Nadi Bisnis dan Pembinaan Karakter USK
Ini adalah sinyal kuat tentang arah baru USK menuju kemandirian finansial dan penguatan ekosistem kewirausahaan kampus.
‘food court’ bersubsidi silang. Kios-kios kecil disewakan kepada mahasiswa pelaku
UMKM atau unit usaha koperasi mahasiswa. Harga sewanya murah, tetapi dengan system bagi hasil. Dengan jumlah penghuni tetap ribuan orang, omset harian bisa mencapai puluhan juta rupiah. Ini bukan sekadar bisnis, melainkan juga pembelajaran manajemen rantai pasok, keuangan, dan pemasaran bagi mahasiswa.
Kedua, Askopma Beauty Center. Setiap musim wisuda, kebutuhan jasa salon, tata rias,
dan busana muslimah melonjak drastis. Fakta di lapangan, mahasiswi USK sering kali harus keluar kampus hingga ke kawasan Lamnyong atau Simpang Surabaya untuk mendapatkan layanan wisuda. Jika di Askopma disediakan pusat salon dan ‘weding organizer mini’ yang dikelola oleh UKM Kewirausahaan Mahasiswa, maka permintaan ini bisa dipenuhi di dalam kampus. Selain menghemat biaya dan waktu mahasiswa, ini juga menjadi sumber pendapatan yang stabil bagi pengelola Askopma.
Ketiga, Askopma Language and Training Center. Mahasiswa penerima beasiswa
dituntut memiliki nilai TOEFL atau kemampuan bahasa asing yang baik untuk melanjutkan studi atau bersaing di dunia kerja. Namun, tidak semua mampu membayar kursus di lembaga luar yang mahal. Askopma dapat menyediakan ruang pelatihan bahasa asing (Inggris, Arab, Mandarin) dengan biaya terjangkau, menggunakan mahasiswa senior berprestasi sebagai tutor. Model ‘peer teaching’ ini sudah terbukti efektif dan murah.
Selain bahasa, pelatihan
‘soft skill’ seperti ‘public speaking’, ‘smart writing’,
kepemimpinan, dan ‘digital marketing’ juga sangat diminati.
Keempat, Askopma Inkubator Startup Mahasiswa.
Gedung Askopma yang memiliki ruang-ruang komunal dapat difungsikan sebagai ‘co-working space’ dan inkubator bisnis bagi Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kewirausahaan.
Saat ini, USK telah memiliki
Program 1.000 Wirausahawan Muda (WMU) dan Wirausaha Merdeka (WMK) yang
melibatkan ratusan mahasiswa. Dengan menyediakan lokasi strategis di Askopma, program-program tersebut tidak hanya berhenti di pelatihan, tetapi langsung diuji di pasar nyata. Mahasiswa bisa membuka toko kecil, jasa desain, sablon, atau produk
olahan lokal yang langsung dibeli oleh sesama penghuni asrama.
Jurnalisme Warga
penulis jurnalisme warga
Prof Dr Apridar SE MSi
Askopma Denyut Nadi Bisnis dan Pembinaan Karakter
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| Mengapa Edukasi Narkoba Harus Viral? |
|
|---|
| Progres Menggembirakan Koperasi Desa Merah Putih di Aceh Barat |
|
|---|
| Bermain Ular Tangga Sambil Kelola Emosi di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah |
|
|---|
| Green Jihad, Menanam Harapan di Tanah Pernah Tenggelam |
|
|---|
| Ketika Manusia Mengagungkan AI, Terjadilah Pergeseran Nilai Agama dan Sosial |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Apridar-soal-masjid-Oman.jpg)