Selasa, 21 April 2026

Kupi Beungoh

Pak Harun, China, dan ‘Penguasa Baru’ Dunia

Jika kita melihat kembali data pada pertengahan 1990-an pada saat Pak Harun memprediksi China akan mengusai dunia.

Editor: Agus Ramadhan
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Mailizar, S.Pd., M.Pd., Guru Besar Teknologi Pembelajaran Matematika, Universitas Syiah Kuala 

*) Oleh: Prof Mailizar

MINGGU ini saya sedang mengikuti program Match Making Research Interest bersama peneliti dari East China Normal University (ECNU) Beijing, salah satu perguruan tinggi terbaik di bidang pendidikan di China.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program EQUITY. Kunjungan saya ke China kali ini adalah yang keempat, namun tetap saja setiap kali menginjakkan kaki di negeri ini, saya selalu terkesan dengan laju kemajuan teknologinya yang begitu pesat.

Di ECNU, salah satu agenda utama yang kami bahas adalah rencana riset kolaboratif terkait integrasi AI dalam pendidikan tinggi.

Diskusi ini terasa sangat relevan, mengingat China sedang bergerak masif mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam sistem pendidikannya.

Bagi saya, pertemuan ini bukan sekadar kolaborasi akademik biasa, ia adalah titik temu antara dua dunia: semangat riset pendidikan dan gelombang revolusi teknologi yang sedang menggulung dunia.

Kunjungan ini menghidupkan kembali kenangan saya tentang sosok Pak Harun, guru sejarah saya ketika bersekolah di sebuah madrasah ibtidaiyah di Aceh Barat pada pertengahan tahun 1990-an.

Almarhum Pak Harun adalah seorang guru senior yang saat itu sebenarnya sudah pensiun tetapi tetap mengajar di kelas kami.

Ketika beliau mengajar sejarah, rasanya bukan sekadar bercerita tentang peristiwa masa lalu, beliau seolah-olah menghadirkan sejarah itu langsung ke dalam ruang kelas.

Cara beliau menuturkan perang dunia pertama dan kedua, jatuh bangunnya sebuah bangsa, hingga naik turunnya kekaisaran-kekaisaran besar dunia, selalu membuat kami terpukau.

Namun satu hal yang paling membekas di ingatan saya hingga hari ini adalah sebuah kalimat yang pernah beliau ucapkan dengan penuh keyakinan: "Suatu saat nanti, kalian akan menyaksikan China yang akan menguasai dunia."

Kalimat itu terasa asing, bahkan mungkin terdengar mustahil apalagi bagi anak-anak seusia kami kala itu. Lebih 30 tahun kemudian, saya berdiri di Beijing dan menyaksikan dengan sendiri bagaimana prediksi Pak Harun itu perlahan-lahan menjadi kenyataan.

Energi, Kekuasaan, dan Pola Sejarah

Pak Harun pernah mengajarkan kami bahwa sejarah memiliki pola. Dan salah satu pola paling konsisten dalam sejarah peradaban adalah ini: penguasa dunia selalu menguasai sumber energi dominan zamannya. Kerajaan Inggris menjadi adidaya global karena menguasai batu bara dan teknologi uap di era Revolusi Industri.

Amerika Serikat mengambil alih tampuk kekuasaan dunia di abad ke-20 dengan mengendalikan hegemoni minyak bumi, terutama melalui pengaruhnya atas cadangan minyak di Timur Tengah.

Kekuasaan energi, dalam hal ini, bukan sekadar soal kepemilikan sumber daya, melainkan kemampuan menerjemahkannya menjadi teknologi, industri, dan standar global yang mengatur tatanan dunia. Dan kini, dunia tengah memasuki babak baru: era transisi energi dan teknologi, sebuah babak yang menghadirkan pemain dominan baru.

Dan dalam babak inilah China tampil sebagai pemain paling dominan. 

China hari ini menguasai lebih dari 80 persen produksi panel surya dunia, memimpin kapasitas energi angin global, dan mengontrol rantai pasok mineral-mineral kritis seperti rare earth, bahan baku yang tak tergantikan dalam baterai, kendaraan listrik, hingga perangkat teknologi mutakhir.

Energi untuk AI

Yang membuat posisi China semakin strategis adalah kenyataan bahwa energi kini bukan hanya bahan bakar industry, ia adalah bahan bakar kecerdasan buatan. Pusat data (data center) yang menjalankan model-model AI raksasa membutuhkan konsumsi listrik yang luar biasa besar.

Diperkirakan, kebutuhan energi global untuk AI akan melonjak berlipat ganda dalam satu dekade ke depan. Di sinilah keunggulan China menjadi semakin tak terbantahkan dengan dominasi energi terbarukan yang murah dan berkelanjutan yang menjadi tulang punggung infrastruktur teknologi,

China memiliki fondasi energi yang kokoh untuk memacu pengembangan AI secara massif, jauh melampaui apa yang bisa dilakukan negara-negara lain yang masih bergantung pada energi fosil yang mahal dan terbatas.

Jika Inggris menguasai dunia karena batu bara, dan Amerika menang karena minyak, maka pertarungan abad ini akan dimenangkan oleh siapa yang menguasai energi terbarukan sekaligus kecerdasan buatan.

Dan China, tampaknya, sedang mempersiapkan diri untuk memenangkan keduanya sekaligus.

China Berlari Menuju Adidaya Teknologi

Jika kita melihat kembali data pada pertengahan 1990-an pada saat Pak Harun memprediksi China akan mengusai dunia, China bukanlah negara yang kuat secara ekonomi.

Pendapatan per kapita China saat itu hanya sekitar USD 377, bahkan lebih rendah dari Indonesia yang mencapai sekitar USD 834.

Dengan kata lain, rata-rata orang Indonesia kala itu dua kali lebih sejahtera dari rata-rata warga China. Kini pendapatan per kapita China telah melonjak menjadi sekitar USD 13.300, hampir 35 kali lipat dari angka di era 1990-an, jauh meninggalkan Indonesia yang berada di kisaran USD 4.900.

China hari ini bukan hanya tumbuh sebagai kekuatan ekonomi,negara ini sedang berlari kencang menuju posisi adidaya teknologi global, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan.

Pemerintah China telah menargetkan negaranya menjadi pemimpin dunia di bidang AI pada tahun 2030, dan langkah-langkah nyata untuk itu sudah terlihat di mana-mana.

Saat ini, lebih dari 4.500 perusahaan di China aktif mengembangkan dan memasarkan produk berbasis AI.

Dana investasi besar di sektor ini, memunculkan persaingan domestik yang ketat sekaligus mendorong inovasi secara eksponensial.

Kemunculan DeepSeek pada awal 2025 adalah contoh paling nyata dari lompatan ini. Model AI asal China itu berhasil menandingi performa model-model terbaik Amerika dengan biaya pelatihan yang jauh lebih rendah, dan langsung mengguncang pasar saham AS karena mempertanyakan asumsi bahwa dominasi AI hanya bisa dicapai dengan investasi infrastruktur senilai ratusan miliar dolar.

Bagi dunia Barat, DeepSeek adalah kejutan; bagi China, ia adalah hasil dari ekosistem riset dan pengembangan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik dari fenomena kebangkitan China dalam bidang teknologi, khususnya teknologi AI.

Pertama, visi jangka panjang adalah kunci. Pak Harun bicara soal kebangkitan China puluhan tahun sebelum dunia menyaksikannya.

China sendiri sudah merancang strategi AI-nya jauh sebelum gelombang ini tiba. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membaca masa depan dan bergerak lebih awal.

Kedua, investasi pada pendidikan dan talenta adalah fondasi dari segalanya. China tidak hanya membangun infrastruktur teknologi, mereka membangun manusia yang mampu menjalankan teknologi itu.

Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia, yang juga memiliki bonus demografi namun belum sepenuhnya mengoptimalkan investasi di bidang STEM.

Ketiga, perubahan tidak menunggu izin siapa pun. AI adalah tren yang tak terhindarkan. Pilihan kita bukan antara menerima atau menolak, melainkan antara bersiap atau tertinggal.

Keempat, siapa yang menguasai energi, menguasai dunia, dan kini, siapa yang menguasai energi dan AI, akan menentukan wajah peradaban abad ini. Indonesia, dengan kekayaan mineral kritisnya yang melimpah seperti nikel dan bauksit, sesungguhnya memiliki modal awal yang tidak kecil.

Pertanyaannya adalah: apakah kita mampu menerjemahkan kekayaan itu menjadi kekuatan teknologi, sebagaimana yang telah dilakukan China?

Dari Beijing, saya pulang bukan hanya dengan catatan riset dan rencana kolaborasi, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan belajar bersama Pak Harun.

Pak Harun telah lama tiada, tetapi kata-katanya masih hidup, dan kini mendapat maknanya yang paling nyata di kota ini. 

Guru yang baik meninggalkan jejak yang melampaui ruang kelas dan waktu, beliau mengajarkan kami cara membaca sejarah, sekaligus menatap masa depan.

Al-Fatihah untuk Pak Harun, dan untuk semua guru yang telah lebih dahulu kembali kepada Yang Maha Kuasa, semoga setiap ilmu yang mereka titipkan menjadi amal jariyah yang tak pernah putus. (*)

*) Penulis adalah Guru Besar FKIP USK

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. 

BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya DI SINI 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved