Rabu, 22 April 2026

Opini

Perempuan Pejuang: Pena Kartini, Pedang Cut Nyak Dhien

Kartini dan Cut Nyak Dhien. Yang satu menulis perubahan, yang lain menegakkannya.

Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Hari ini, 21 April—Hari Kartini. Bukan sekadar mengenang, tetapi menggugat. Sejarah mencatat sedikitnya 13 pahlawan nasional perempuan; dan Aceh berdiri mencolok—melahirkan Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Keumalahayati—sekitar 23,08 persen dari keseluruhan.

Di sana, perempuan tidak sekadar hadir; mereka memimpin, bertempur, dan menentukan arah sejarah.

Sementara Kartini menyalakan perlawanan dari sunyi—melalui pena dan pendidikan—negeri ini seolah cukup merayakan satu nama, seakan keberanian hanya punya satu wajah.

Padahal, di tanah seperti Aceh, keberanian berwujud langkah di garis depan dan keteguhan yang tak tunduk pada takut. Peringatan seharusnya bukan seremoni—tetapi gema.

Tulisan ini memilih dua kutub yang saling melengkapi: Kartini dan Cut Nyak Dhien. Yang satu menulis perubahan, yang lain menegakkannya.

Yang satu menggugat dari dalam, yang lain menghantam dari luar. Keduanya bertemu pada satu sikap: menolak tunduk.

Mereka hidup dalam batas, tetapi tidak memilih diam. Pertanyaannya kini tajam: di tengah ruang yang terbuka, kita masih berani melangkah—atau justru nyaman untuk berhenti?

Baca juga: 10 Prompt AI Hari Kartini 2026, Edit Foto Pakai Kebaya Anggun & Cantik, Lengkap 20 Ucapan Caption

Sunyi yang Mengguncang
21 April diperingati sebagai Hari Kartini—hari lahir R. A. Kartini (1879, Jepara), melalui Keppres No. 108 Tahun 1964.

Dari ruang pingitan, ia tidak melangkah dengan kaki, tetapi dengan pena—yang menembus batas, menghubungkan sunyi dengan kesadaran publik.

Kartini tidak sekadar menulis; ia mengubah arah. Ia menggugat keterbatasan, memperjuangkan pendidikan perempuan, dan menegaskan bahwa ketertinggalan bukan kodrat.

Gagasannya terhimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang—bukan sekadar bacaan, tetapi kebangkitan.

Ia membuktikan: pena adalah kekuatan—membuka kesadaran dan menyalakan keberanian.

Dalam cahaya Islam, ini beresonansi dengan Iqra’ (QS. Al-‘Alaq: 1)—membaca sebagai jalan pembebasan. Kartini tidak hanya melawan zamannya; ia menembusnya—diam, tetapi mengguncang.

Api yang Tak Padam

Jika Kartini adalah kesadaran, maka Cut Nyak Dhien adalah keberanian tanpa jeda. Dalam Perang Aceh, ia memimpin di titik paling genting: saat Teuku Umar gugur, ia tidak berhenti—ia melanjutkan perlawanan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved