Rabu, 6 Mei 2026

Opini

Perempuan Pejuang: Pena Kartini, Pedang Cut Nyak Dhien

Kartini dan Cut Nyak Dhien. Yang satu menulis perubahan, yang lain menegakkannya.

Tayang:
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Dari hutan ke hutan, “Ratu Perang” itu bergerilya—memimpin ketika tubuh melemah dan penglihatan meredup.

Di saat banyak orang melihat akhir, ia justru menyalakan arah. Ini bukan sekadar berani, tetapi keteguhan yang sadar: bertahan, menyerang, dan menjaga nyala ketika harapan menipis.

Bagi Belanda, ia bukan sekadar musuh, tetapi ancaman yang dihormati—“Singa Betina dari Aceh.”

Bahkan dalam penangkapan, ia tidak direndahkan, melainkan diakui—bahwa pengaruhnya tak bisa dipadamkan oleh kekalahan.

Ia tidak berhenti di sejarah. Per 21 April 2026, di Google Scholar, sekitar 2.910 kajian terus menghidupkan namanya dalam ruang ilmiah.

Perempuan pejuang bukan lagi pengecualian, tetapi inti dari sejarah perlawanan—dan di Aceh, ia menjelma sebagai wajah kemandirian dan kepemimpinan yang utuh.

Pembicaraan tentangnya tidak pernah selesai; ia terus hidup—dalam tulisan, dalam ingatan, dalam kesadaran yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam cahaya Islam, perjuangannya adalah tafsir hidup: jihad sebagai kesungguhan, sabar sebagai keteguhan aktif, dan tawakkal (QS. Ali ‘Imran: 200) sebagai bersandar tanpa kehilangan ikhtiar.

Ia tetap tegak, bahkan ketika runtuh adalah pilihan paling mudah.

Pena, Rencong, dan Tauhid

Seringkali Kartini dan Cut Nyak Dhien dipersempit dalam dikotomi: pena versus senjata.

Padahal, keduanya bertolak dari satu kesadaran—menolak tunduk pada ketidakadilan.

Pena Kartini membuka ruang pikir; rencong Cut Nyak Dhien menjaga martabat di garis depan. Dua jalan, satu arah.

Pada sosok Cut Nyak Dhien, keberanian mencapai bentuk paling utuh. Ia tidak sekadar melampaui batas perempuan—ia melampaui standar itu sendiri.

Di medan gerilya, ia memimpin dari depan; bukan simbol, tetapi kekuatan. Dalam dirinya, keberanian kehilangan gender.

Dalam Islam, itulah jihad: kesungguhan menegakkan kebenaran tanpa batas jenis kelamin.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved