Jurnalisme Warga
Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah Sukma Bangsa
tsunami yang berfungsi saat itu. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 173.741 korban jiwa dan ratusan ribu lainnya
IKHWANI, S.Pd., Gr., Guru Ilmu Sosial SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, melaporkan dari Kota Lhokseumawe
Pada 26 Desember 2004 silam, Aceh tidak hanya kehilangan banyak hal, tetapi juga menyimpan pelajaran besar. Pagi itu, air datang dengan cepat tanpa aba-aba, menyapu bersih kawasan pesisir Aceh
hingga meratakan rumah, sekolah, serta infrastruktur penting lainnya. Tidak ada sistem peringatan dini
tsunami yang berfungsi saat itu. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 173.741 korban jiwa dan ratusan ribu lainnya mengungsi akibat peristiwa tersebut.
Peristiwa itu menyisakan luka sekaligus pertanyaan yang terus bergema hingga saat ini: bagaimana jika saat itu kita lebih siap?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar refleksi masa lalu, melainkan juga menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah sesuatu yang harus dibangun, bukan ditunggu.
Edukasi kesiapsiagaan bencana
Pada Senin, 20 April 2026, suasana berbeda terasa di Perpustakaan Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe.
Sekolah menghadirkan praktisi dari BPBD Kota Lhokseumawe, Zainab Maryati, S.Psi. Dalam pemaparannya, ia tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga berbagi pengalaman nyata di lapangan.
Materi yang disampaikan mencakup langkah-langkah mitigasi bencana gempa bumi, mulai dari sebelum, saat terjadi, hingga setelah terjadi bencana.
Siswa diperkenalkan pada
pentingnya kesiapsiagaan, seperti mengenali jalur evakuasi, menyiapkan tas siaga bencana, dan menjaga
ketenangan dalam situasi darurat.
Penyediaan tas siaga bencana idealnya dipersiapkan untuk kebutuhan minimal 2-3 hari sebagai masa kritis sebelum bantuan datang. Isi tas siaga bencana mendukung keselamatan dan keberlangsungan hidup, seperti
pakaian, makanan ringan, air minum, serta perlengkapan pertolongan pertama.
Selain itu, penting juga
membawa dokumen penting, menyiapkan senter beserta baterai cadangan, peluit untuk memberi tanda saat membutuhkan bantuan, serta masker dan ‘hand sanitizer’ untuk menjaga kesehatan.
Konsep 20-20-20
Pemateri juga mengajarkan kepada siswa konsep “20-20-20”, yang merupakan panduan sederhana, tetapi penting,
dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami.
Pemateri menjelaskan bahwa apabila guncangan gempa
dirasakan selama 20 detik atau lebih, harus segera meningkatkan kewaspadaan karena berpotensi memicu
tsunami.
Setelah gempa berhenti, tersedia waktu sekitar 20 menit untuk melakukan evakuasi menuju tempat yang aman dengan ketinggian minimal 20 meter di atas permukaan laut sebagai titik aman.
Pemahaman konsep ini sangat relevan dengan kondisi geografis Kota Lhokseumawe dan Aceh pada umumnya. Aceh berada di dekat zona pertemuan lempeng tektonik aktif serta garis pantai yang Panjang dan sebagian wilayah berupa daratan rendah pesisir.
Kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pemaparan materi. Selanjutnya, siswa melakukan simulasi mitigasi
bencana gempa sehingga mereka dapat merasakan langsung bagaimana bertindak dalam situasi darurat.
Dari teori ke praktik
David Kolb melalui teori Experiental Learning menegaskan bahwa pembelajaran melalui pengalaman langsung terbukti membuat siswa lebih siap menghadapi situasi nyata. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menekankan bahwa edukasi kebencanaan sejak dini dapat meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Anak-anak yang dibekali pengetahuan dan keterampilan
akan lebih siap, tidak panik, dan mampu menyelamatkan diri.
Simulasi mitigasi bencana menjadi bagian yang paling dinantikan. Suara sirine menggema di dalam ruangan, menandakan dimulainya simulasi gempa bumi.
Dalam hitungan detik, suasana berubah. Siswa yang sebelumnya duduk tenang langsung merespons sesuai arahan.
Mereka merunduk, berlindung di bawah meja, dan berpegangan, sebuah prinsip sederhana yang dikenal
dengan ‘drop, cover, hold on’. Beberapa siswa terlihat melindungi kepala dengan tangan, tas, dan beberapa
benda lain yang tersedia. Pemateri menekankan pentingnya menjauhi jendela kaca, rak buku, lemari, serta
benda gantung lainnya yang berpotensi membahayakan. Tidak ada siswa yang panik atau berlari keluar ruangan sebelum instruksi diberikan.
Siswa kemudian diarahkan untuk melakukan evakuasi secara tertib setelah guncangan benar-benar terjadi dengan dibunyikannya sirine kedua. Mereka berjalan cepat menuju titik kumpul dengan mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Setelah seluruh siswa berkumpul di titik kumpul, mereka diberikan pemahaman tentang langkah-langkah
pascabencana. Mereka diminta untuk menjauhi bangunan, pohon, tiang, serta benda-benda lain yang berpotensi roboh atau jatuh.
Kemudian, siswa diminta untuk segera memeriksa kondisi diri sendiri dan
orang di sekitarnya.
Selain itu, kewaspadaan terhadap gempa susulan juga menjadi perhatian utama. Siswa diingatkan untuk tetap berada di area terbuka dan tidak kembali ke dalam bangunan sebelum dinyatakan aman. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan keselamatan bersama sekaligus melatih siswa agar bersikap tanggap, tenang, dan bertanggung jawab.
Nilai kemanusiaan
Dalam situasi bencana, tidak semua korban dapat ditangani secara bersamaan. Oleh karena itu, diperlukan sistem untuk mengelompokkan korban berdasarkan tingkat keparahan, guna menentukan prioritas
penanganan.
Secara umum, triase membagi korban ke dalam beberapa kategori, yaitu korban dengan
kondisi kritis, korban dengan cedera sedang, korban dengan cedera ringan, serta korban yang sudah tidak dapat diselematkan.
Pengelompokan ini membantu tenaga medis dan sukarelawan untuk memaksimalkan
penyelamatan korban dalam waktu terbatas.
Bagi siswa, konsep ini terdengar baru, tetapi sangat penting. Mereka belajar bahwa dalam kondisi darurat, keputusan harus diambil dengan cepat dan tepat. Tidak hanya soal menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga bagaimana membantu orang lain.
Pembelajaran ini secara tidak langsung menanamkan nilai empati, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Banyak orang yang sebelumnya tidak saling kenal dapat saling tolong-menolong dalam kondisi sulit.
Nilai gotong royong dan kebersamaan muncul secara alami sebagai bentuk respons terhadap krisis yang dihadapi
bersama.
Begitu pula dalam dunia pendidikan, para ahli menekankan bahwa nilai kemanusiaan perlu
ditanamkan sejak dini melalui pengalaman belajar yang nyata.
Hari Kesiapsiagaan Bencana
Kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Hari Kesiapsiagaan Bencana yang diperingati setiap tahun di
Indonesia. Momentum ini menjadi pengingat bahwa bencana tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat
diminimalkan melalui kesiapsiagaan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran tersebut sejak dini.
Mengajarkan mitigasi bukan berarti menanamkan rasa takut, melainkan untuk membangun kesiapan. Bagi masyarakat Aceh, kesiapsiagaan bukan sekadar pengetahuan, tetapi bagian dari ingatan kolektif yang lahir dari
pengalaman pahit peristiwa gempa dan tsunami 2004.
Dari pengalaman itu lahir kesadaran bahwa generasi
mendatang harus lebih siap. Kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dan sekolah adalah tempat terbaik untuk menanamkan sejak dini.
Bukan hanya sekadar pembelajaran satu hari, kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses panjang dalam membangun generasi tangguh terhadap bencana. Siswa akan tumbuh menjadi individu yang memiliki kesadaran lingkungan, kepekaan sosial, serta memiliki kemampuan mengambil keputusan dalam situasi darurat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/IKHWANI-S-Pd.jpg)