Selasa, 5 Mei 2026

Kupi Beungoh

Syeh Syoh: Behavioral Noise di Forum Publik Aceh  

“Bek syeh syoh” bukan sekadar teguran, tapi cermin budaya rapat kita. Gangguan kecil yang dianggap sepele justru perlahan merusak kualitas musyawarah.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
SHABRI A MAJID - Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

M. Shabri Abd. Majid

Ada ironi dalam banyak rapat di Aceh: semakin penting pembahasannya, semakin banyak syeh syoh di dalam ruangan. Pintu berbunyi, langkah kaki lalu-lalang, bisik-bisik tumbuh di sudut forum, perhatian pecah sedikit demi sedikit.

Tidak gaduh, tidak pula kacau. Justru karena tampak sepele, syeh syoh dibiarkan menjadi kebiasaan, padahal banyak forum kehilangan kejernihannya bukan karena kurang gagasan, tetapi karena terlalu banyak gangguan kecil yang menggerus fokus bersama. 

Karena itu, ketika Gubernur Aceh, Mualem, berkata “bek syeh syoh,” kalimat itu terasa seperti kritik telanjang terhadap budaya rapat kita sendiri.

Aceh adalah negeri syariat yang membanggakan adab dan penghormatan terhadap majelis. Namun mengapa syeh syoh justru hidup di ruang musyawarah kita? Mengapa begitu sulit menjaga ketenangan saat orang lain berbicara?

Dan jangan-jangan, masalah terbesar kita hari ini bukan kurangnya aturan atau orang pintar, tetapi karena syeh syoh perlahan berubah dari gangguan kecil menjadi budaya yang dianggap biasa?

Baca juga: Catat! Mei 2026 Punya 6 Tanggal Merah dan 3 Long Weekend, Siap-Siap Libur Panjang

Makna Syeh Syoh

Syeh syoh adalah istilah khas Aceh untuk perilaku kecil yang diam-diam merusak ruang bersama. Ia muncul ketika forum membutuhkan tenang: langkah kaki yang tak perlu, bisik-bisik yang memecah konsentrasi, keluar-masuk ruangan tanpa urgensi, hingga kegelisahan untuk terus terlihat aktif meski tanpa kontribusi.

Kelihatannya sepele, tetapi cukup untuk mematahkan fokus, mengaburkan alur pikir, dan membuat forum kehilangan kejernihannya sedikit demi sedikit.

Dalam bahasa akademik modern, syeh syoh dekat dengan behavioral noise (gangguan perilaku), social distraction (distraksi sosial), busybody syndrome (sindrom terlalu ikut campur), hingga crisis of attention (krisis perhatian).

Ia bukan sekadar keributan fisik, melainkan gangguan perilaku yang memecah perhatian kolektif dan merusak kualitas dialog. 

Ironisnya, perilaku seperti ini sering disamarkan sebagai bentuk keaktifan dan kepedulian, padahal pada titik tertentu ia justru menjadi distraksi yang menggerogoti kualitas musyawarah.

Fenomena syeh syoh dapat ditemukan hampir di semua forum publik: dari musrenbang hingga rapat gampong, dari seminar kampus hingga kantor pemerintahan.

Aceh ingin bergerak cepat mengejar masa depan, tetapi sering tersandung oleh hal paling dasar: kemampuan untuk duduk tenang, mendengar penuh, dan menghormati ruang musyawarah.

Sebab sebuah masyarakat tidak selalu melemah karena krisis besar; kadang ia kehilangan kualitas berpikirnya perlahan-lahan hanya karena terlalu lama membiarkan gangguan kecil menjadi kebiasaan.

Baca juga: AS Kaget, Jet F-5 Iran yang Dianggap Jadul Jebol Pertahanan Udara, Bombardir Pangkalan AS di Kuwait

Syeh Syoh: Sepele tapi Mengganggu

Dalam banyak forum resmi di Aceh, pemandangannya hampir selalu sama: pembicara sedang menjelaskan hal penting, tetapi pintu lebih sibuk bergerak daripada perhatian peserta rapat.

Ada yang mondar-mandir, berbisik pelan, memainkan telepon genggam, atau keluar-masuk seolah forum hanyalah ruang transit. Kelihatannya kecil dan sering dianggap biasa. 

Namun dari gangguan-gangguan kecil itulah konsentrasi pecah, alur pikir terputus, dan kualitas forum perlahan runtuh. Satu orang syeh syoh kadang cukup untuk membuat satu ruangan kehilangan fokusnya.

Padahal Aceh adalah negeri syariat yang membanggakan adab majelis dan penghormatan terhadap ilmu. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-A’raf: 204).

Namun ironisnya, kita sering keras menjaga simbol syariat, tetapi longgar menjaga adab perhatian. Kita ingin dihormati saat berbicara, tetapi sulit memberi ketenangan ketika orang lain berbicara.

Karl Weick (2009) mengingatkan bahwa organisasi sering runtuh bukan karena satu keputusan besar yang salah, tetapi karena percakapan yang retak sedikit demi sedikit.

Dalam teori Shannon–Weaver (1949), noise (gangguan komunikasi) adalah segala sesuatu yang mengaburkan pesan. Namun di banyak ruang rapat kita, noise itu berjalan dengan kaki manusia.

Inilah behavioral noise (gangguan perilaku): hal kecil yang tampak remeh, tetapi diam-diam merusak kualitas keputusan publik. Pembahasan menjadi dangkal, keputusan dipercepat karena forum sudah lelah, dan ruang musyawarah kehilangan kejernihannya.

Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar rapat yang tidak kondusif. Dalam pendidikan, syeh syoh mematikan deep thinking (berpikir mendalam). Dalam birokrasi, ia melahirkan keputusan dangkal. Dalam kehidupan sosial, ia membentuk generasi yang cepat bereaksi tetapi sulit mendengar.

Elinor Ostrom (2012) mengingatkan bahwa institusi besar sering melemah bukan karena serangan besar, melainkan karena retakan kecil yang terus dibiarkan. Dan mungkin, salah satu retakan kecil itu sedang mondar-mandir di ruang rapat kita sendiri.

Baca juga: Berawal dari Keresahan Hoaks, Mahasiswa USK Ini Bawa Pulang Juara 2 Nasional UNICEF

Bek Syeh Syoh: Kembali ke Adab Aceh dan Akal Sehat

Ironisnya, jauh sebelum teori modern tentang behavioral noise (gangguan perilaku) lahir, Aceh sebenarnya telah memiliki tradisi komunikasi yang jauh lebih matang.

Ada haba soe teudeng (kata harus ditimbang), peusaboh sinyal (dengar sebelum bicara), peusantun haba (bicara dengan adab, bukan volume), dan peupat tamita (duduk tetap agar forum tidak kacau).

Semua itu menunjukkan bahwa menjaga ketenangan forum sejak lama dipahami sebagai bagian dari menjaga martabat ilmu dan musyawarah. 

Dalam Islam, adab mendengar ditempatkan sangat tinggi. Al-Qur’an mengingatkan untuk mendengar dan diam ketika kebenaran disampaikan (QS. Al-A’raf: 204). Diam dan mendengar bukan sekadar sopan santun, tetapi bagian dari akhlak dan jalan memperoleh hikmah.

Masalahnya bukan karena Aceh kehilangan nilai, tetapi karena kita perlahan berhenti mempraktikkannya.

Karena itu, melawan syeh syoh tidak membutuhkan revolusi besar, tetapi disiplin perhatian. Moderator harus menjaga ritme forum, pemimpin memberi teladan tenang, dan peserta rapat memahami bahwa mendengar juga bagian dari kontribusi: “berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam tradisi Islam, diam bukan kelemahan, melainkan kematangan akal dan adab. Tidak semua hal harus disela atau dipertontonkan. Kadang kontribusi terbesar justru lahir dari kemampuan duduk tenang dan mendengar sampai tuntas.

Dalam perspektif modern, ini sejalan dengan mindful communication (komunikasi penuh kesadaran), deep listening (mendengar secara mendalam), dan attention ethics (etika perhatian): kesadaran bahwa perhatian adalah sumber daya moral yang menentukan kualitas musyawarah.

Sebab sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari kerasnya bicara tentang syariat, tetapi juga dari kemampuannya menjaga adab ketika orang lain berbicara. Jika ruang musyawarah saja gagal dijaga ketenangannya, bagaimana kejernihan keputusan bisa lahir?

Karena itu, “bek syeh syoh” bukan sekadar candaan politik, melainkan kritik terhadap budaya gangguan yang perlahan merusak akal sehat musyawarah.

Di era media sosial, manusia makin sulit fokus, makin cepat tersinggung, dan makin gemar bereaksi tanpa mendengar tuntas. Forum tidak lagi melahirkan kebijaksanaan, tetapi sering membawa pulang ego, prasangka, dan permusuhan. Aceh tidak kekurangan orang pintar dan anggaran, tetapi terlalu lama membiarkan syeh syoh tumbuh menjadi budaya. 

Maka sebelum menertawakan istilah itu, mungkin kita perlu bertanya: dalam forum terakhir yang kita hadiri, kita menghadirkan kejernihan—atau justru ikut menambah kebisingan?

Mualem tidak salah mengingatkan “bek syeh syoh”. Sebab “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).

Dan dalam sebuah musyawarah, manfaat terbesar kadang bukan datang dari yang paling banyak bergerak atau berbicara, tetapi dari mereka yang mampu menjaga adab, ketenangan, dan kejernihan forum.

 

Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id 

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved