Rabu, 6 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Menyemai Ide Pendidikan Sehat, Berkelanjutan, dan Berakar pada Sejarah Aceh

Aceh tidak pernah miskin pangan. Yang mulai hilang justru kesadaran generasinya. Di tengah derasnya arus makanan instan

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS.COM/IST/IST
GUNAWAN, Guru di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe dan Anggota FAMe Chapter Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

GUNAWAN, Guru di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe dan Anggota FAMe Chapter Aceh Utara, melaporkan dari Kota Lhokseumawe

Aceh tidak pernah miskin pangan. Yang mulai hilang justru kesadaran generasinya. Di tengah derasnya arus makanan instan dan pembelajaran yang semakin jauh dari realitas, sekolah perlahan menjauh dari akar kehidupan: tanah. Dalam situasi itulah, selama lima hari,

20–24 April 2026, saya mengikuti pelatihan pengembangan modul ajar hasil kolaborasi Yayasan Sukma Bangsa bersama Yayasan Empu Sendok Art Science (ESAS) yang dilaksanakan di Sekolah Sukma Bangsa Bireun.

Acara ini dihadiri oleh Co-Founder ESAS, Ibu Felia Salim beserta tim.

Pelatihan ini tidak sekadar menyusun perangkat pembelajaran, tetapi juga merancang ulang arah pendidikan. Termasuk upaya mengintegrasikan asupan sehat dan Bumi sehat bagi siswa SD, SMP, hingga SMA, sekaligus mengaitkannya kembali dengan sejarah dan kebudayaan Aceh sebagai wilayah yang sejak dahulu kaya akan sumber pangan.

Pelatihan ini membuka kesadaran bahwa pendidikan tidak boleh terlepas dari konteks lokal. Dalam sejarahnya, Aceh tidak hanya dikenal sebagai Serambi Makkah dalam aspek keagamaan, tetapi juga sebagai daerah agraris dan maritim yang kuat.

Tanah Aceh sejak masa kesultanan telah menjadi pusat produksi pangan, baik dari sektor pertanian maupun hasil laut (Reid, 1993). Padi, rempah-rempah, kelapa, hingga hasil laut seperti ikan dan udang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang tidak hanya menopang ekonomi, tetapi juga membentuk budaya makan yang sehat dan beragam.

Jejak yang terpinggirkan

Dalam berbagai literatur sejarah, Aceh pernah menjadi salah satu wilayah penting dalam jalur perdagangan dunia. Komoditas seperti lada dan hasil bumi lainnya menjadikan Aceh dikenal luas hingga ke mancanegara (Lombard, 2006). Ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, masyarakat Aceh memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sumber daya alam secara produktif.

Sayangnya, kesadaran akan kekayaan ini mulai memudar di tengah arus modernisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat (FAO, 2019).

Melalui pelatihan ini, kami diajak untuk “menghidupkan kembali” nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran. Hari pertama dimulai dengan refleksi tentang makanan: apa yang kita konsumsi, dari mana asalnya, dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan serta lingkungan.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt, “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24).

Ayat ini mengajak manusia untuk tidak sekadar makan, tetapi juga berpikir dan merenungkan proses di baliknya.

Diskusi ini kemudian mengarah pada kesadaran bahwa banyak makanan lokal Aceh sebenarnya memiliki kandungan gizi yang tinggi, bahkan lebih sehat dibandingkan makanan

instan yang kini semakin mendominasi (Kemenkes RI, 2020).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved