Rabu, 6 Mei 2026

Kupi Beungoh

Menjaga Kesehatan Saat Menunaikan Ibadah Haji

Haji bukan hanya ibadah, tapi ujian fisik di cuaca ekstrem. Kenali risiko heatstroke, dehidrasi, dan penyakit agar ibadah tetap aman dan lancar.

Tayang:
Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER 

WHO menekankan pentingnya dokumentasi medis, ketersediaan obat yang memadai, serta pencegahan infeksi saluran napas, penyakit bawaan makanan dan air, serta penyakit akibat paparan panas. Keempat, jamaah harus membawa obat pribadi dalam jumlah yang cukup dan tertib.

Obat hipertensi, diabetes, jantung, asma, pengencer darah, obat lambung, inhaler, insulin, atau obat lain tidak boleh bergantung pada ketersediaan di kloter. 

Obat sebaiknya dibawa dalam kemasan asli, disertai daftar obat, dosis, diagnosis, alergi obat, serta kontak keluarga.

Untuk pasien diabetes, perubahan jadwal makan dan aktivitas dapat menyebabkan hipoglikemia atau hiperglikemia; karena itu, jamaah perlu membawa gula cepat diserap, makan secara teratur, dan tidak menunda makan hanya karena mengejar ibadah sunnah.

Kelima, manajemen energi sangat penting. Haji adalah ibadah yang panjang, bukan perlombaan fisik. Jamaah tidak boleh menghabiskan tenaga untuk aktivitas sunnah berlebihan sebelum puncak haji. Tawaf sunnah berkali-kali, belanja, ziarah panjang, atau aktivitas di luar hotel pada siang hari dapat menguras cadangan energi. Secara medis, strategi terbaik adalah konservasi tenaga untuk rukun dan wajib haji. 

Dalam bahasa sederhana: jangan sampai ibadah sunnah melemahkan kemampuan menjalankan ibadah wajib. Keenam, pencegahan heatstroke harus menjadi disiplin harian.

Jamaah perlu memakai payung atau pelindung kepala saat tidak berihram, menggunakan masker sesuai kebutuhan, minum sedikit tetapi sering, membawa oralit atau elektrolit bila diperlukan, menghindari paparan matahari langsung, dan segera mencari pertolongan bila muncul pusing, lemas berat, kram otot, bingung, atau tidak berkeringat saat cuaca panas. 

Pada haji 2026,  suhu ekstrem dan suhu riil di Makkah dan Madinah dilaporkan mencapai 42 derajat selsius hingga lebih dari 45 derajat selsius menjelang puncak haji. Proyeksi cuaca menunjukkan risiko suhu di lapangan dapat melampaui angka tersebut, terutama saat wukuf di Arafah.

Ketujuh, jamaah harus menjaga kebersihan dan mencegah infeksi saluran napas. Kepadatan manusia dari berbagai negara menjadikan haji sebagai arena risiko penularan influenza, COVID-19, MERS-CoV, pneumonia, dan “batuk haji”. 

CDC dan WHO menekankan pentingnya vaksinasi, cuci tangan, etika batuk, penggunaan masker di kerumunan, ventilasi, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang demam atau mengalami batuk berat. Bagi jamaah lansia dan komorbid, batuk biasa dapat berkembang menjadi pneumonia atau memperberat penyakit jantung dan paru.

Kedelapan, jamaah perlu mencegah cedera. Banyak jamaah jatuh karena kelelahan, alas kaki tidak sesuai, lantai licin, dorongan massa, atau karena memaksakan diri berjalan jauh. Sandal harus nyaman, tidak baru, tidak licin, dan mudah dikenali.

Jamaah lansia sebaiknya tidak berjalan sendiri, terutama pada malam hari, di Mina, Muzdalifah, atau di area yang padat. Cedera kecil pada pasien diabetes juga harus diperhatikan karena luka kaki dapat memburuk.

Kesembilan, aspek gizi dan cairan tidak boleh diabaikan. Jamaah harus makan dengan cukup, meskipun selera berubah. Hindari makanan yang terlalu pedas, basi, atau kebersihannya tidak jelas. Jangan menyimpan makanan terlalu lama di kamar.

Diare pada jamaah haji dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada lansia. Jika diare disertai demam, darah, muntah terus-menerus, atau kelelahan berat, segera laporkan kepada petugas kesehatan.

Kesepuluh, kesehatan mental dan ketenangan batin juga penting. Haji adalah perjalanan besar yang melelahkan secara fisik dan emosional. Jamaah dapat mengalami kecemasan, mudah marah, panik tersesat, sulit tidur, atau konflik dengan teman sekamar. Karena itu, kesabaran, disiplin rombongan, tidak memaksakan ego, dan menerima keterbatasan diri adalah bagian dari kesehatan haji. Ibadah yang baik membutuhkan tubuh yang kuat, pikiran yang jernih, dan emosi yang stabil.
 
Jamaah haji, khususnya di Aceh, perlu memahami bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari ibadah. Haji tidak hanya membutuhkan niat yang lurus, tetapi juga kesiapan fisik, kontrol penyakit kronis, vaksinasi lengkap, manajemen cairan, perlindungan dari paparan panas, pencegahan infeksi, serta kepatuhan terhadap arahan petugas kesehatan. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved