Kupi Beungoh
Menjaga Kesehatan Saat Menunaikan Ibadah Haji
Haji bukan hanya ibadah, tapi ujian fisik di cuaca ekstrem. Kenali risiko heatstroke, dehidrasi, dan penyakit agar ibadah tetap aman dan lancar.
Oleh: Prof. Dr. dr. Rajuddin, SpOG(K), Subsp.FER
Pelaksanaan haji bukan hanya ibadah ruhaniah, tetapi juga aktivitas fisik berat dalam lingkungan ekstrem seperti suhu tinggi, kepadatan massa, perubahan pola tidur, perbedaan makanan, perjalanan panjang, serta paparan penyakit menular lintas negara.
Karena itu, jamaah haji, khususnya dari Aceh, perlu memahami bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan bagian dari syarat kemampuan beribadah atau istitha’ah.
Dalam perspektif fikih dan kesehatan publik, tubuh yang sehat merupakan instrumen ibadah. Jamaah yang memaksakan diri tanpa memperhatikan kondisi medis dapat membahayakan dirinya, merepotkan rombongan, dan mengganggu kelancaran ibadah.
Risiko terbesar bagi jamaah haji Indonesia umumnya berkaitan dengan usia lanjut, penyakit kronis, kelelahan, dehidrasi, infeksi saluran napas, cedera akibat jatuh, serta serangan panas atau heatstroke.
Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa heatstroke merupakan keadaan berbahaya yang ditandai dengan suhu tubuh di atas 40 derajat selsius, kulit terasa panas, denyut nadi cepat, sakit kepala berat, mual, muntah, kebingungan, hingga penurunan kesadaran.
Risiko ini meningkat saat jamaah memaksakan aktivitas di luar ruangan pada cuaca panas ekstrem, terutama pada fase Armuzna: Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Baca juga: Lima Pelanggar Syariat Islam di Aceh Timur Dihukum Cambuk
Bagi jamaah Aceh, ada beberapa hal khusus yang perlu ditekankan. Pertama, adaptasi terhadap panas Arab Saudi tidak boleh disamakan dengan panas di Aceh. Aceh beriklim tropis-lembap, sedangkan Makkah dan Madinah dapat sangat panas dan kering.
Pada kondisi kering, tubuh kehilangan cairan melalui keringat dan penguapan tanpa selalu disadari. Jamaah yang merasa “tidak haus” tetap bisa mengalami dehidrasi.
Karena itu, minum secara teratur harus menjadi disiplin, bukan menunggu haus. Kedua, jamaah harus memastikan penyakit kronisnya terkendali sebelum berangkat. Hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, asma, PPOK, penyakit ginjal kronis, obesitas, gangguan sendi, dan riwayat stroke harus dinilai secara serius.
Pada suhu tinggi dan aktivitas fisik berat, penyakit kronis mudah mengalami eksaserbasi.
Kemenkes pernah menekankan bahwa faktor metabolik seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung dapat memburuk ketika jamaah kekurangan cairan dan mengalami peningkatan suhu tubuh.
Ketiga, vaksinasi harus dipahami sebagai bentuk perlindungan kolektif. Pemerintah Arab Saudi mewajibkan vaksin meningitis meningokokus ACYW bagi jamaah haji, dengan sertifikat valid sebelum memasuki wilayah haji.
Panduan Nusuk Saudi menyebut vaksin meningitis ACYW wajib dan harus diberikan setidaknya 10 hari sebelum kedatangan ke wilayah haji.
CDC juga menegaskan bahwa vaksin meningokokus wajib bagi pelaku perjalanan haji dan umrah ke Arab Saudi. Selain itu, vaksin influenza, vaksin COVID-19 bagi kelompok berisiko, vaksin pneumonia bagi lansia/komorbid, serta vaksin rutin lainnya perlu dipertimbangkan sesuai rekomendasi dokter.
Baca juga: AS Resmi Akhiri Kampanye Militer ‘Operasi Epic Fury’ Terhadap Iran: Kami Telah Mencapai Tujuan
WHO menekankan pentingnya dokumentasi medis, ketersediaan obat yang memadai, serta pencegahan infeksi saluran napas, penyakit bawaan makanan dan air, serta penyakit akibat paparan panas. Keempat, jamaah harus membawa obat pribadi dalam jumlah yang cukup dan tertib.
Obat hipertensi, diabetes, jantung, asma, pengencer darah, obat lambung, inhaler, insulin, atau obat lain tidak boleh bergantung pada ketersediaan di kloter.
Obat sebaiknya dibawa dalam kemasan asli, disertai daftar obat, dosis, diagnosis, alergi obat, serta kontak keluarga.
Untuk pasien diabetes, perubahan jadwal makan dan aktivitas dapat menyebabkan hipoglikemia atau hiperglikemia; karena itu, jamaah perlu membawa gula cepat diserap, makan secara teratur, dan tidak menunda makan hanya karena mengejar ibadah sunnah.
Kelima, manajemen energi sangat penting. Haji adalah ibadah yang panjang, bukan perlombaan fisik. Jamaah tidak boleh menghabiskan tenaga untuk aktivitas sunnah berlebihan sebelum puncak haji. Tawaf sunnah berkali-kali, belanja, ziarah panjang, atau aktivitas di luar hotel pada siang hari dapat menguras cadangan energi. Secara medis, strategi terbaik adalah konservasi tenaga untuk rukun dan wajib haji.
Dalam bahasa sederhana: jangan sampai ibadah sunnah melemahkan kemampuan menjalankan ibadah wajib. Keenam, pencegahan heatstroke harus menjadi disiplin harian.
Jamaah perlu memakai payung atau pelindung kepala saat tidak berihram, menggunakan masker sesuai kebutuhan, minum sedikit tetapi sering, membawa oralit atau elektrolit bila diperlukan, menghindari paparan matahari langsung, dan segera mencari pertolongan bila muncul pusing, lemas berat, kram otot, bingung, atau tidak berkeringat saat cuaca panas.
Pada haji 2026, suhu ekstrem dan suhu riil di Makkah dan Madinah dilaporkan mencapai 42 derajat selsius hingga lebih dari 45 derajat selsius menjelang puncak haji. Proyeksi cuaca menunjukkan risiko suhu di lapangan dapat melampaui angka tersebut, terutama saat wukuf di Arafah.
Ketujuh, jamaah harus menjaga kebersihan dan mencegah infeksi saluran napas. Kepadatan manusia dari berbagai negara menjadikan haji sebagai arena risiko penularan influenza, COVID-19, MERS-CoV, pneumonia, dan “batuk haji”.
CDC dan WHO menekankan pentingnya vaksinasi, cuci tangan, etika batuk, penggunaan masker di kerumunan, ventilasi, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang demam atau mengalami batuk berat. Bagi jamaah lansia dan komorbid, batuk biasa dapat berkembang menjadi pneumonia atau memperberat penyakit jantung dan paru.
Kedelapan, jamaah perlu mencegah cedera. Banyak jamaah jatuh karena kelelahan, alas kaki tidak sesuai, lantai licin, dorongan massa, atau karena memaksakan diri berjalan jauh. Sandal harus nyaman, tidak baru, tidak licin, dan mudah dikenali.
Jamaah lansia sebaiknya tidak berjalan sendiri, terutama pada malam hari, di Mina, Muzdalifah, atau di area yang padat. Cedera kecil pada pasien diabetes juga harus diperhatikan karena luka kaki dapat memburuk.
Kesembilan, aspek gizi dan cairan tidak boleh diabaikan. Jamaah harus makan dengan cukup, meskipun selera berubah. Hindari makanan yang terlalu pedas, basi, atau kebersihannya tidak jelas. Jangan menyimpan makanan terlalu lama di kamar.
Diare pada jamaah haji dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada lansia. Jika diare disertai demam, darah, muntah terus-menerus, atau kelelahan berat, segera laporkan kepada petugas kesehatan.
Kesepuluh, kesehatan mental dan ketenangan batin juga penting. Haji adalah perjalanan besar yang melelahkan secara fisik dan emosional. Jamaah dapat mengalami kecemasan, mudah marah, panik tersesat, sulit tidur, atau konflik dengan teman sekamar. Karena itu, kesabaran, disiplin rombongan, tidak memaksakan ego, dan menerima keterbatasan diri adalah bagian dari kesehatan haji. Ibadah yang baik membutuhkan tubuh yang kuat, pikiran yang jernih, dan emosi yang stabil.
Jamaah haji, khususnya di Aceh, perlu memahami bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari ibadah. Haji tidak hanya membutuhkan niat yang lurus, tetapi juga kesiapan fisik, kontrol penyakit kronis, vaksinasi lengkap, manajemen cairan, perlindungan dari paparan panas, pencegahan infeksi, serta kepatuhan terhadap arahan petugas kesehatan.
Jamaah yang sehat akan lebih mampu menjalankan rukun dan wajib haji dengan tenang, tertib, dan bermakna. Prinsip utamanya sederhana: jangan memaksakan diri, jangan meremehkan panas, jangan menunda minum, jangan meninggalkan obat, dan jangan malu melapor bila sakit. Dalam haji, keselamatan jiwa merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah. (email:rajuddin@usk.ac.id)
Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala; Ketua IKA UNDIP Aceh; Sekretaris ICMI Orwil Aceh.
| Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian |
|
|---|
| Internsip Dokter dan Krisis Otonomi Akademik |
|
|---|
| Kritisi Pergub JKA, Dua Aksi Beda Cara |
|
|---|
| Menjaga Api yang Terus Menyala: Kiat Keberlanjutan Pengelolaan Sampah Sehat di Aceh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-dr-Rajuddin-SpOGK-SubspFER-17-11.jpg)