Kupi Beungoh
Trust Issue: Sinyal Darurat Kesehatan Mental atau Sekedar Drama Remaja
Di balik terlihat tenang, banyak remaja menyimpan tekanan berat. Fenomena “duck syndrome” bisa berujung serius jika diabaikan orang tua.
Oleh: Anita Sapitri, Amk, S.psi
SERAMBINEWS.COM - Remaja adalah individu yang sedang mencari jati diri dalam dukungan yang penuh dari dunia sekitar meraka termasuk orang tua dan teman sebaya.
Dalam pencarian tersebut mereka bahkan sering beririsan dengan aturan- aturan, kebiasan bahkan adat istiadat sehingga banyak dari masyarakat memberikan lebel negative kepada remaja.
Remaja merupakan individu yang sedang bertransisi dari anak-anak menuju dewasa awal dengan perubahan-perubahan seperti : peruabahan fisik, psikologis, sosial dan kematangan emosional.
Perubahan ini bisa menjadi dua sisi yang signifikan jika orang tua tidka memahami tahap tumbuh kembang mereka.
Hampir 60 persen kehidupan remaja saat ini dipengaruhi oleh media sosial, apa yang mereka pakai, kemana mereka pergi, bagaimana mereka menjalin hubungan.
Pengaruh media sosial telah membatasi ruang komunikasi antara remaja dan keluarganya terutama orang tua. Beberapa dari orang tua mengeluhkan telpon genggam telah membentuk jarak yang nyata antara anggota keluarga.
Jika hal ini kita tanyakan pada remaja maka mereka memiliki jawaban yang berbeda: kejenuhan dengan aktivitas akademik dan tekanan lainnya yang menjadikan medsos sebagai pelarian bagi jiwa mereka yang membutuhkan hiburan.
Remaja banyak mengalami permasalahan dalam kehidupannya, menghadapi orang tua, akademik, teman sebaya, hubungan dan lain sebagainya.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Saat Menunaikan Ibadah Haji
Fenomen duck syndrome
Duck syndrome adalah fenomena psikologis di mana seseorang tampak tenang, bahagia, dan sukses di permukaan, namun sebenarnya ia sedang berjuang keras dan merasa sangat tertekan mental, emosional.
Banyak dari remaja memilih untuk memilih cara tenang dengan segala permasalahan dan tekanan yang mereka rasakan karena mereka merasa tidak akan ada yang mengerti dengan mereka.
Banyak dari mereka yang kehilangan arah dalam mengambil keputusan untuk hidupnya karena tidak mendapat dukungan dari orang tua. Mereka mencontohkan hal sederhana dengan pencapaian akademik yang tidak sesuai dengan target Ketika mereka menceritakan ini kepada orang tua , cendrung mendapat jawaban yang menambah beban mental mereka.
Fenomena ini harus ditanggapi serius oleh kita sebagai orang tua, ketenangan yang mereka paksakan terkadang bisa mengelabuhi.
Ketenangan yang mereka usahakan dengan banyak tekanan ditakutkan akan mengarahkan mereka pada cara regulasi emosi yang keliru. Banyak dari remaja saat ini memilih melukai dirinya sendiri “selfharm” daripada memilih bekeluh kesah.
Hal ini mereka lakukan dengan alasan, tidak ada yang mendengar, memahami dan memberikan solusi. Pergeseran regulasi emosi ini juga akan berbaya jika tidak terdiksi sejak dini karena ini akan mengarahkan remaja pada keinginan mengakhiri hidup.
Selfharm banyak dilakukan oleh remaja dengan berbagai alasan yang terkadang tidak masuk dalam rasional orang dewasa. Dalam kalangan remaja selfharm ini sering disebut dengan “barkot” yang menanndakan kesamaan nasib dalam sirkle pertemanan.
Banyak dari kita sejenak merasa kagum dengan tenangnya seekor bebek ayang berenang dipermuakkan air dengan pesona yang membuat kita lupa seberapa kuat bebek mengayuh untuk tidak tenggelam.
Usaha yang dikerahkan agar terlihat baik-baik saja itu pelan-pelan mengiring remaja pada pikiran dan perasaan yang tidak tenang. Hal ini juga di dukung dengan prilaku abai dari orang tua yang terkadang lupa menyapa perasaan mereka, menamai perasaan yang dirasakan dan memaknai dalam kelekatan sehingga mememnuhi tangki cinta mereka.
Banyak dari remaja berpura-pura baik-baik saja dengan penampilan yang sempurna, produktif, terutama di media sosial atau lingkungan professional. Kepura-puraan ini mereka selimuti perasaan cemas, lelah, atau kewalahan. Setiap saat mereka merasa khawatir dengan segala hal dan bahkan perasaan yang kacau mengarah pada pemikiran yang berlebihan.
Baca juga: Jadi Pengedar Sabu, Tiga Perempuan di Aceh Utara Ditangkap Polisi dalam Sebulan Terakhir
Factor Penyebab
Tekanan akademik dan karir: sudah sepatutnya untuk masa depan mereka ditentukan oleh merka sendiri dalam hal ini orang tua berperan sebagai fasiliator untuk cita-cita yang ingin mereka capai.
Permasalahan ini di mulai dari pemilihan jurusan perkuliahan yang mereka minati, pekerjaan yang ingin mereka tekuti sampai pasangan hidup yang ingin mereka pilih untuk masa hadapan.
Sebagai orang tua yang miliki tanggung jawab mengasuh dan membesarkan gen Z sekaligus gen alpha tentu akan mendapatkan banyak kendala mulai dari komunikasi, pengambilan keputusan. Perdebatan tidak akan bisa dihindari ketika orang tua belum cukup memahami perkembangan mental dan semosional remaja.
Hal yang terkadang sulit diakui oleh banyak orang tua saat ini secara garis besar, ekspektasi sosial dan keluarga.
Harapan tinggi dari orang tua atau teman yang menuntut kesempurnaan tanpa celah ini akan terus menghantui remaja untuk melakukan pembuktian.
Prilaku ini akan mengiring mereka pada ketakutan untuk mengambil keputusan, mengatakan tidak untuk hal-hal menyakitkan bagi mereka dan bahkan mereka cendrung membiarkan dirinya dalam rasa bersalah dalam waktu lama.
Remaja yang mengalami hal ini seringnya tidak bisa membedakan orang yang membutuhkan dia dan orang yang memanfaatkan dirinya dalam kondisi tertentu.
Remaja yang sering kali mengalami tekanan internal yang berat meskipun dari luar tampak stabil dalam waktu lama akan merasakan cemas dengan semua pikiran yang berkembang menjadi was-was dan rasa khawatir.
Seiring gejala ini semakin lama akan membuat remaja menurun performanya dan bahkan akan menjadi tidak percaya diri. Ketika hal ini terjadi maka potensinya akan terkikis oleh rasa tidak percaya akan mampu melalui dengan baik.
Cemas yang berlebihan ini tidak tertutup kemungkinan memunculkan rasa panik yang muncul tiba-tiba atau sering di sebut dengan “panic attack”.
Gejala ini akan berpengaruh pada perubahan fisik seperti : nafas menjadi cepat, jantung berdebar-berdebar, hiperventilasi, keringat berlebihan sampai pada kehilangan keseimbangan.
Gejala yang selanjutnya sering terjadi adalah terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
Perbandingan ini terkadang membawa remaja pada rasa putus asa dan berhenti berusaha bahkan untuk cita-citanya sendiri.
Pada tahap ini jika orang tua abai dan tidak hadir seutuhnya maka aka nada hal yang nantinya disesali karena ini adalah awal tahap menurunan motivasi, minat dan menuju penarikan diri remaja dari lingkungannya atau singkatnya masuk dalam tahap awal depresi.
Jika remaja dibiarkan menjalankan tanpa dukungan penuh maka kondisi ini dapat berkembang menjadi depresi berat atau gangguan kecemasan kronis.
Beberapa Langkah yang bisa dilakukan : Mulailah jujur pada diri sendiri dan coba akui bahwa merasa lelah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari kemanusiaan. Fitrah rasa kelelahan bisa dialami oleh siapun termasuk remaja dalam kondisi ini.
Dianjurkan untuk remaja mengenali kapasitas diri: tubuh, pikiran dan emosional kita memiliki daya tampungnya masing-masing, jangan memaksakan diri melampaui batas kemampuan fisik dan mental hanya demi terlihat dimata orang lain dan kemudian mendapatkan validasi sesaat.
Membatasi diri dengan media sosial merupakan hal yang bisa membantu atau disebut dengan “screen time” , mengurangi durasi penggunaan media sosial untuk menghindari perbandingan sosial yang tidak sehat.
Harus kita sadari bahwa membahagiakan diri sendiri lenih penting daripada kita hanya terlihat Bahagia di persepsi orang lain.
Langkah berikutnya adalah mencari professional untuk berkonsultasi secara professional untuk mencari bantuan: berbagi beban dengan orang kepercayaan atau berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti berkunjung ke pelayanan Kesehatan yang menyediakan layananan tersebut bukanlah hal yang memalukan.
Mencari bantuan bukan bearti kita sudah mengalami gangguan yang berat akantetapi mencegah akan lebih baik jika kita bisa melakukannya.(*)
Penulis adalah Perawat jiwa anak dan remaja Rumah Sakit Jiwa Aceh
kesehatan mental
Kesehatan Mental Anak
Menjaga Kesehatan Mental
Cara Jaga Kesehatan Mental
kupi beungoh
| Menjaga Kesehatan Saat Menunaikan Ibadah Haji |
|
|---|
| Membaca Angka Statistik Partisipasi Usia Sekolah di Aceh |
|
|---|
| Interprofessional Education Bukan Hanya Belajar Bersama, tetapi Tentang Bertahan Bersama |
|
|---|
| Perang dan Damai - Bagian 16, Kebebasan Berlayar di Selat Hormuz sebagai Jalan Perdamaian |
|
|---|
| Internsip Dokter dan Krisis Otonomi Akademik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Anita-Sapitri-Amk-Spsi-Perawat-jiwa-anak-dan-remaja-Rumah-Sakit-Jiwa-Aceh.jpg)