Kamis, 7 Mei 2026

Kupi Beungoh

Perang dan Damai – Bagian 17, Selamat Jalan Perang, Menuju Perdamaian

Harapan damai Iran-AS mulai terbuka. Di tengah konflik dan blokade Hormuz, dunia menanti akhir perang yang menguras kemanusiaan.

Tayang:
Editor: Amirullah
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Yunidar Z.A, anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) 

Dalam konteks tersebut, Iran seringkali diposisikan dalam narasi global yang penuh kecurigaan, sebagai masyarakat “tertutup”.

Namun, sebenarnya pemaknaan yang lebih dalam menunjukkan bahwa Iran adalah sebuah negeri “terbuka” dengan akar peradaban yang sangat tua, kaya, dan kompleks. 

Dari lanskap alamnya yang eksotis hingga warisan intelektualnya yang luas, lanskap bangunan tua sebagai warisan peradaban dunia. Iran merepresentasikan sebuah bangsa yang tidak hanya bertahan dalam sejarah, namun juga terus berkontribusi pada peradaban dunia.

Alam Iran, dengan pegunungan yang kokoh, gurun yang luas, dan taman-taman yang merefleksikan filosofi harmoni, sesungguhnya menyimpan pesan damai. Di balik dinamika politiknya, terdapat masyarakat yang berilmu pengetahuan luas intelektual tercerahkan, berbudaya tinggi, dan memiliki kesadaran sejarah yang kuat. Mereka adalah bagian dari tradisi panjang yang menghargai akal, ilmu, seni, budaya peradaban dan dialog.

Oleh karena itu, bila ada kekuasaan yang melihat Iran semata sebagai ancaman adalah penyederhanaan yang berbahaya.

Perspektif keamanan manusia mengajak kita untuk melihat lebih jauh, bahwa sebuah bangsa tidak bisa direduksi menjadi konflik atau kebijakan politik sesaat. Iran, sebagaimana bangsa lain, adalah entitas peradaban yang memiliki hak untuk hidup merdeka dalam damai dan berkontribusi pada tatanan global yang lebih adil.

Perundingan perdamaian dalam konteks ini harus melampaui pendekatan konvensional yang hanya berfokus pada keseimbangan kekuatan.

Perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat dicapai jika kebutuhan dasar manusia terpenuhi dengan rasa aman, akses terhadap energi, kebebasan mobilitas, serta pengakuan atas identitas budaya. Tanpa itu, perjanjian damai hanya akan menjadi jeda sementara sebelum konflik berikutnya muncul.

Konflik yang berlangsung lebih dari dua bulan ini telah menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas global. Jalur pasok energi terganggu, perdagangan internasional terhambat, dan ketegangan geopolitik meningkat.

Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang tetap konstan, keinginan masyarakat dunia untuk hidup damai bahkan warga AS yang dalam kehidupan demokratis menolak perang dan kekerasan. Keinginan ini melintasi batas negara, agama, dan ideologi.

Dalam narasi yang lebih luas, alam Iran sendiri seakan menjadi saksi bisu dari absurditas perang. Ia tetap menghadirkan ketenangan di tengah kekacauan, kebersamaan malam panjang masyarakat di Iran seolah mengingatkan bahwa harmoni adalah keadaan alami, sementara konflik adalah penyimpangan.

Sungai yang mengalir, angin yang berhembus di gurun, dan pegunungan yang berdiri tegak, semuanya mencerminkan keseimbangan yang seharusnya juga menjadi prinsip dalam hubungan antarbangsa.

Bagaimana sebenarnya memaknai Iran dalam kerangka keamanan kemanusiaan? Jawabannya terletak pada kemampuan kita untuk melihatnya sebagai bagian dari komunitas global yang setara.

Sebagai bangsa berperadaban, Iran memiliki potensi untuk menjadi jembatan dialog antara tradisi dan modernitas, antara Timur dan Barat. Potensi ini hanya dapat terwujud jika ruang diskusi untuk dialog dibuka, bukan ditutup oleh prasangka, stereotipe. 

Negosiasi, jalur diplomatik, perundingan perdamaian harus mengedepankan prinsip inklusivitas. Semua pihak yang terlibat harus dipandang sebagai subjek, bukan objek. Kepentingan keamanan tidak boleh mengorbankan kemanusiaan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved