Senin, 11 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Paradoks Pendidikan Indonesia: Antara Link and Match dan Realitas Lapangan

Pendidikan memang harus relevan dengan dunia kerja, tetapi tidak boleh kehilangan ruhnya sebagai sarana pembebasan manusia.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Kita bisa melihat bagaimana banyak siswa dan mahasiswa saat ini mengalami tekanan besar untuk memilih jurusan yang dianggap menjanjikan secara ekonomi Jurusan humaniora, seni, filsafat, atau ilmu sosial sering dipandang tidak relevan karena dianggap sulit menghasilkan pekerjaan cepat. 

Padahal, bangsa yang maju tidak hanya membutuhkan tenaga teknis, tetapi juga pemikir, peneliti, seniman, dan intelektual yang mampu menjaga nilai nilai kemanusiaan di tengah arus modernisasi yang semakin pragmatis.

Baca juga: VIDEO - Sedih! Dua Pelajar Ini Gunakan Baskom Sebagai Perahu demi Sekolah

Paradoks lainnya muncul pada ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia. Konsep link and match lebih mudah diterapkan di kota-kota besar yang memiliki akses industri dan teknologi memadai. 

Sementara di daerah terpencil, banyak sekolah masih berjuang dengan persoalan dasar seperti kekurangan guru, fasilitas rusak, hingga akses internet yang terbatas. 

Bagaimana mungkin sekolah diminta mengikuti kebutuhan industri digital jika listrik dan jaringan internet saja belum tersedia secara stabil?

Di sinilah letak ironi pendidikan Indonesia. Pemerintah berbicara tentang kesiapan menghadapi revolusi industri 4.0, tetapi sebagian sekolah masih berkutat pada persoalan bangku rusak, ruang kelas bocor, dan minimnya sarana belajar. 

Ketimpangan ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan Indonesia tidak dapat diselesaikan hanya dengan jargon modernisasi kurikulum atau slogan transformasi digital semata.

Selain itu, hubungan antara dunia pendidikan dan industri juga sering kali tidak seimbang. Dunia pendidikan dipaksa menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar, tetapi industri tidak selalu berkomitmen meningkatkan kualitas tenaga kerja secara berkelanjutan. 

Baca juga: Sekolah di Persimpangan Jalan: Antara Akses, Pilihan, dan Ketimpangan

Banyak perusahaan masih lebih memilih pekerja berpengalaman dibanding lulusan baru. Akibatnya, lulusan tetap menghadapi dilema klasik: sulit mendapat pekerjaan karena minim pengalaman, sementara pengalaman tidak mungkin diperoleh tanpa adanya kesempatan kerja.

Karena itu, pendidikan Indonesia perlu kembali menempatkan manusia sebagai pusat utama. Link and match.memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya orientasi. 

Pendidikan harus mampu menyiapkan generasi yang adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat. 

Dunia kerja akan terus berubah, tetapi kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi akan selalu relevan dalam kondisi apa pun.

Membangun peradaban bangsa

Sekolah dan kampus juga perlu diberikan ruang lebih luas untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang kontekstual dengan kebutuhan daerah masing-masing. Tidak semua wilayah harus dipaksa mengikuti pola industri yang sama. 

Potensi lokal seperti pertanian, kelautan, ekonomi kreatif, dan budaya dapat menjadi basis pendidikan yang relevan sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar. Pendidikan yang berakar pada potensi lokal justru dapat melahirkan kemandirian ekonomi dan identitas kebangsaan yang kuat.

Pemerintah pun perlu memperkuat kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan. Sebagus apa pun kurikulum yang dibuat, hasilnya tidak akan maksimal tanpa guru yang sejahtera, kompeten, dan dihargai perannya. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved