KUPI BEUNGOH
Paradoks Pendidikan Indonesia: Antara Link and Match dan Realitas Lapangan
Pendidikan memang harus relevan dengan dunia kerja, tetapi tidak boleh kehilangan ruhnya sebagai sarana pembebasan manusia.
Pendidikan bukan hanya soal mengganti istilah kurikulum atau membuat program baru, tetapi memastikan proses belajar benar-benar bermakna bagi peserta didik.
Pada akhirnya, paradoks pendidikan Indonesia lahir karena adanya tarik-menarik antara idealisme pendidikan dan tuntutan ekonomi.
Baca juga: Wamendikdasmen Pastikan Revitalisasi Tingkatkan Mutu Pendidikan
Pendidikan memang harus relevan dengan dunia kerja, tetapi tidak boleh kehilangan ruhnya sebagai sarana pembebasan manusia.
Jika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri jangka pendek, maka kita mungkin menghasilkan pekerja yang terampil, tetapi kehilangan generasi yang mampu berpikir kritis dan membangun peradaban bangsa.
Indonesia membutuhkan pendidikan yang tidak sekadar link and match dengan industri, tetapi juga link and match dengan kebutuhan masyarakat, perkembangan zaman, dan nilai nilai kemanusiaan.
Sebab pendidikan yang baik bukan hanya melahirkan tenaga kerja, melainkan juga warga negara yang sadar, kreatif, berintegritas, dan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masa depan bangsanya.
*) PENULIS adalah Dosen Universitas Esa Unggul, Jakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Iswadi-MPd-Dosen-Universitas-Esa-Unggul-Jakarta_17042024.jpg)