Kupi Beungoh
Rupiah Anjlok: Siapakah yang Paling Rentan?
ketika Rupiah jatuh di lantai bursa, dampaknya justru bangkit paling cepat di meja makan rakyat kecil.
Oleh: Muhammad Nasir*)
ORANG desa tidak pakai dolar, begitulah kalimat yang sering terdengar di jagat media sosial dalam beberapa hari ini.
Tapi tahukah Anda? Ada satu paradoks yang sering luput dalam perdebatan ekonomi Indonesia: ketika Rupiah jatuh di lantai bursa, dampaknya justru bangkit paling cepat di meja makan rakyat kecil.
Nilai tukar mungkin hanya angka di layar perdagangan valuta asing.
Namun di balik angka itu, terdapat realitas yang jauh lebih senyap tetapi nyata: harga beras naik, minyak goreng naik, ongkos transportasi naik, dan daya beli keluarga melemah perlahan tanpa suara.
Inflasi bukan sekadar statistik.
Ia adalah porsi lauk yang mengecil, jarak antar pembelian yang makin panjang, dan kecemasan yang makin dekat di ruang tamu rumah sederhana.
Pernyataan bahwa “orang desa tidak pakai dolar” memang dapat dipahami sebagai upaya menenangkan publik.
Tetapi dalam ekonomi modern yang saling terhubung, tidak menggunakan dolar tidak berarti tidak terdampak dolar.
Masyarakat desa tidak bertransaksi dalam mata uang asing.
Namun mereka hidup di dalam rantai ekonomi yang seluruhnya terhubung pada kurs: pupuk, pakan ternak, BBM, logistik, hingga harga pangan.
Setiap kali rupiah melemah, biaya impor naik.
Ketika biaya impor naik, biaya produksi terdorong.
Dan pada akhirnya, warung kecil di desa menjadi titik terakhir di mana gejolak global itu berubah menjadi harga harian.
Dolar memang tidak pernah hadir di tangan rakyat desa, tetapi dampaknya hadir setiap hari di dapur mereka.
Baca juga: Rupiah Sentuh Rp17.713 per Dolar AS, Akankah Keajaiban Era BJ Habibie Bisa Terulang? Ini Kata Ekonom
Struktur Ekonomi yang Belum Mandiri
Tekanan rupiah tidak pernah lahir dari satu sebab tunggal.
Faktor global seperti penguatan dolar AS, suku bunga The Fed, dan ketidakpastian geopolitik memang nyata.
Tetapi menjadikannya satu-satunya alasan adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Akar masalah juga berada di dalam negeri: struktur ekonomi yang belum cukup mandiri.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor pangan strategis seperti gandum, kedelai, dan bawang putih dalam skala besar.
Di sisi energi, ketergantungan pada impor LPG, minyak mentah, dan bahan bakar masih tinggi.
Artinya, setiap fluktuasi kurs langsung berubah menjadi tekanan biaya hidup.
Ketika rupiah melemah, harga produksi naik.
Ketika harga produksi naik lebih cepat dari pendapatan, maka yang terjadi bukan sekadar inflasi, melainkan erosi daya beli yang sistematis.
Masalah lain lebih dalam: pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didorong konsumsi, belum ditopang oleh produktivitas dan industrialisasi bernilai tambah tinggi.
Ekonomi tumbuh, tetapi belum cukup kuat untuk menahan guncangan eksternal.
Karena itu, pelemahan rupiah seharusnya dibaca bukan sebagai anomali pasar, melainkan alarm struktural bahwa fondasi ekonomi belum sepenuhnya kokoh.
Rupiah di Antara Mata Uang Asia
Dalam beberapa periode terakhir, rupiah termasuk salah satu mata uang yang mengalami tekanan cukup dalam di Asia terhadap dolar AS.
Hampir semua mata uang Asia memang melemah.
Namun perbedaannya terletak pada ketahanan.
Ringgit Malaysia relatif lebih stabil.
Dolar Singapura tetap kuat berkat kredibilitas kebijakan dan fondasi fiskal yang kokoh.
Dong Vietnam dan baht Thailand dalam beberapa fase mampu menahan depresiasi lebih baik dibanding rupiah.
Perbandingan ini bukan untuk menyederhanakan kompleksitas ekonomi, tetapi untuk membaca sinyal pasar: kepercayaan.
Mata uang tidak hanya mencerminkan kekuatan ekonomi riil, tetapi juga ekspektasi terhadap arah kebijakan dan ketahanan institusi.
Yen Jepang pun pernah melemah tajam, tetapi tetap dianggap stabil karena kredibilitas sistemnya terjaga.
Di titik ini, persoalan rupiah bukan sekadar angka kurs, tetapi persepsi pasar terhadap daya tahan ekonomi jangka panjang.
Ketika negara lain mulai stabil sementara rupiah tetap tertekan, pasar sedang mengirim pesan yang tidak bisa diabaikan: kerentanan struktural masih ada.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini 20 Mei 2026: UBS & Galeri24 Tertahan di Angka Tinggi, Antam Turun Lagi
Siapa yang Paling Rentan?
Dampak pelemahan mata uang tidak pernah netral.
Kelompok pertama yang paling merasakan tekanan adalah rumah tangga miskin.
Bagi mereka, inflasi bukan data ekonomi, melainkan pengurangan langsung pada kualitas hidup: makanan lebih sederhana, kesehatan tertunda, dan ruang bertahan semakin sempit.
Kelompok kedua adalah kelas menengah.
Mereka berada di posisi paling rapuh: tidak cukup miskin untuk mendapat perlindungan sosial penuh, tetapi tidak cukup kuat untuk menahan kenaikan biaya hidup yang terus meningkat.
Kelompok ketiga adalah UMKM, yang menghadapi tekanan berlapis: biaya bahan baku naik, pembiayaan lebih mahal, sementara daya beli melemah.
Kelompok keempat adalah generasi muda, yang mulai menghadapi realitas bahwa kerja keras saja tidak selalu cukup untuk mencapai standar hidup yang layak.
Sementara itu, kelompok dengan aset lindung nilai, dolar, emas, saham global, property, justru lebih terlindungi.
Di sinilah muncul fenomena yang sering tidak terlihat: pelemahan rupiah bekerja seperti pajak diam-diam yang paling berat ditanggung mereka yang tidak memiliki perlindungan aset.
Ketika Jurang Sosial Melebar
Dalam banyak krisis mata uang, distribusi dampak selalu tidak seimbang.
Kelompok kaya memiliki fleksibilitas: diversifikasi aset, lindung nilai, dan akses global.
Kelompok rentan justru harus menyesuaikan hidup melalui pengurangan konsumsi, penundaan pendidikan, bahkan penambahan utang rumah tangga.
Inilah titik kritisnya: pelemahan mata uang bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan keadilan sosial.
Ketika harga naik lebih cepat dari pendapatan, yang menyusut bukan hanya nilai uang, tetapi juga ruang harapan sosial.
Jika kondisi ini berlangsung lama, ketimpangan tidak lagi bersifat siklis, tetapi berubah menjadi struktur sosial yang mengeras.
Fondasi Ekonomi yang Harus Diperkuat
Stabilitas rupiah tidak bisa hanya bertumpu pada intervensi moneter jangka pendek.
Indonesia membutuhkan transformasi struktural.
Pertama, ketahanan pangan harus menjadi strategi negara, bukan program sektoral.
Ketergantungan impor harus dikurangi secara bertahap melalui modernisasi pertanian, riset benih, dan perbaikan logistik.
Kedua, kemandirian energi harus dipercepat melalui hilirisasi dan transisi energi bersih.
Ketiga, industrialisasi bernilai tambah tinggi harus menjadi arah pembangunan utama, sebagaimana Korea Selatan membuktikan bahwa kekuatan mata uang lahir dari kekuatan industri.
Keempat, UMKM harus diperkuat sebagai tulang punggung ekonomi domestik. Kelima, negara perlu memperkuat disiplin fiskal dan prioritas anggaran.
Setiap rupiah APBN harus diarahkan pada sektor yang memberi efek pengganda terbesar: pangan, energi, pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja produktif.
Dalam konteks ini, program besar seperti MBG dan Koperasi Merah Putih perlu dievaluasi secara menyeluruh dari sisi efektivitas, urgensi, dan keberlanjutan fiskal.
Tanpa evaluasi ketat, risiko pelebaran defisit dan utang dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah di masa depan.
Negara yang kuat bukan yang mampu menenangkan pasar sesaat, tetapi yang mampu mengurangi kerentanannya sebelum krisis datang.
Rupiah dan Amanah Keadilan
Dalam perspektif Islam, ekonomi tidak hanya soal pertumbuhan, tetapi juga soal keadilan dan amanah.
Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Al-Ghazali menegaskan bahwa tujuan syariat tidak akan tercapai tanpa terpenuhinya kebutuhan dasar manusia.
Ibn Taymiyyah menolak praktik monopoli yang merugikan publik.
Ibn Khaldun bahkan mengingatkan bahwa keruntuhan negara sering dimulai dari kerusakan ekonomi dan hilangnya kepercayaan sosial.
Al-Qur’an menegaskan: “…agar harta tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Dalam perspektif ini, negara tidak cukup hanya menjaga stabilitas pasar, tetapi juga wajib memastikan keterjangkauan pangan, energi, dan kebutuhan dasar rakyat.
Rupiah dan Kepercayaan Bangsa
Pada akhirnya, bahaya terbesar dari pelemahan rupiah bukan sekadar inflasi.
Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat mulai kehilangan keyakinan bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan.
Karena mata uang bukan hanya alat tukar. Ia adalah cermin kepercayaan sebuah bangsa terhadap dirinya sendiri.
Indonesia memiliki modal besar: sumber daya alam, pasar domestik, dan bonus demografi.
Tetapi semua itu hanya akan menjadi potensi jika dikelola dengan kebijakan yang konsisten, produktif, dan berpihak pada rakyat.
Sebab pada akhirnya, kekuatan rupiah tidak ditentukan oleh pasar semata, tetapi oleh seberapa besar rakyat masih percaya pada masa depan negerinya.
Wallahu’alam bissawab.
*) PENULIS adalah Dosen Program Magister Keuangan Islam Terapan, Politeknik Negeri Lhokseumawe; Peneliti Sosial-Kemasyarakatan; Pembina Yayasan Generasi Cahaya Peradaban.
KUPI Beungoh adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel Kupi Beungoh lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Nasir-dosen-politeknik-lhokseumawe.jpg)