Jumat, 22 Mei 2026

Kupi Beungoh

Distraksi Digital dan Krisis Komunikasi di Sekolah 

Hampir seluruh aktivitas manusia kini terhubung dengan layar, komunikasi, hiburan, pekerjaan, hingga pendidikan.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Dana Ismawan, Praktisi Komunikasi Pemerintahan. 

Oleh Dana Ismawan, S.I.Kom., M.Sos *)

Di tengah perkembangan teknologi komunikasi yang semakin cepat, gawai atau handphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.

Hampir seluruh aktivitas manusia kini terhubung dengan layar, komunikasi, hiburan, pekerjaan, hingga pendidikan.

Namun, ketika penggunaan gawai tidak diatur secara bijak, terutama di lingkungan sekolah, teknologi yang seharusnya membantu justru dapat mengganggu proses belajar dan pembentukan karakter generasi muda.

Surat Edaran Dinas Pendidikan Aceh Nomor: 100.3.4/1772/2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai/Handphone pada jenjang SMA, SMK, dan SLB layak dipahami bukan hanya sebagai kebijakan disiplin sekolah, tetapi sebagai intervensi penting dalam memperbaiki ekosistem komunikasi sosial.

Di tengah dominasi gawai, proses komunikasi yang terbangun baik dari sisi interpersonal maupun komunikasi kelompok di sekolah mengalami pergeseran yang signifikan dan belum semuanya mengarah pada perbaikan.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, sekolah adalah ruang utama berlangsungnya dua bentuk komunikasi tersebut, komunikasi interpersonal (antara guru dan siswa atau antarsiswa) dan komunikasi kelompok (dalam kelas, diskusi, dan aktivitas belajar bersama). Kedua bentuk komunikasi ini merupakan fondasi utama pembelajaran yang efektif.

Namun, kehadiran gawai yang tidak terkontrol telah mengganggu keseimbangan keduanya.

Selama beberapa tahun terakhir, fenomena ketergantungan gawai di kalangan pelajar semakin mengkhawatirkan.

Hal ini juga terus menjadi perbincangan yang hangat dikalangan praktisi komunikasi.

Di banyak sekolah, tidak sedikit siswa yang lebih fokus bermain media sosial, menonton video pendek, bermain game online, atau membuka aplikasi hiburan dibanding memperhatikan guru saat pelajaran berlangsung.

Bahkan, kebiasaan ini perlahan menurunkan kualitas interaksi sosial antarsiswa maupun hubungan antara siswa dan guru.

Kondisi tersebut tentu harus segera diantisipasi. Sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, etika, dan kemampuan bersosialisasi.

Ketika perhatian siswa terus-menerus tersedot ke layar handphone, maka kualitas pembelajaran akan menurun. Konsentrasi belajar menjadi terganggu, daya pikir kritis melemah, dan budaya membaca perlahan terkikis.

Merujuk pada perspektif model komunikasi Shannon dan Weaver, proses komunikasi ideal terdiri dari pengirim (sender), pesan (message), saluran (channel), penerima (receiver), serta potensi gangguan (noise).

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved