Kupi Beungoh
Kritik Bukan Benci: Scopus Q1, Gema Sitasi, dan Martabat Ilmu Aceh
Perdebatan soal Scopus dan jurnal Q1 di Aceh memanas. Kritik dinilai penting agar reputasi akademik tumbuh dari mutu, bukan gema sitasi sendiri.
Jika reputasi terlalu bergantung pada lingkar sitasi yang rapat, yang retak bukan hanya grafik bibliometrik, tetapi juga wibawa intelektual Muslim Indonesia. Q1 boleh tinggi, tetapi tanpa jangkauan global yang sehat, ia hanya mahkota kardus: gagah di foto, lembek saat hujan audit turun.
Kritik Itu Kopi Pahit, Pujian Itu Gula Berlebih
Ada kisah tentang kera di atas pohon. Saat badai datang, ia selamat karena bahaya membuatnya sadar. Ia menggenggam dahan lebih kuat. Tetapi saat angin sepoi-sepoi membelai, ia merasa aman, terlena, lalu jatuh. Ia bukan tumbang oleh badai, melainkan oleh kenyamanan dan pujian.
Begitulah kritik dan pujian. Kritik yang jujur memang kasar di telinga, mengguncang harga diri, dan membuat wajah akademik memerah.
Tetapi ia membangunkan sebelum jatuh. Pujian yang berlebihan justru bisa membius: pemimpin kehilangan kepekaan, akademisi kehilangan kerendahan hati, institusi kehilangan daya koreksi.
Kritik itu seperti kopi pahit. Tidak selalu memanjakan lidah, tetapi membuka mata. Terlalu banyak gula memang manis, tetapi diam-diam bisa menjadi penyakit. Maka jangan cepat membenci kritik, dan jangan mabuk oleh tepuk tangan.
Kritik tentang Q1, sitasi, dan metadata Scopus memang pahit, tetapi pertanyaannya menyelamatkan: sitasi itu datang dari dunia, atau hanya dari rumah sendiri? Pahit semacam inilah yang menjaga martabat ilmu.
Artikel Disertasi: Jejak Kontribusi, Bukan Jejak Kuasa
Polemik Scopus juga menyentuh kebijakan kampus. Beberapa kampus besar, termasuk USK, mewajibkan mahasiswa doktoral menembus jurnal bereputasi internasional. Dalam proses itu, promotor menjadi co-author. Dari luar, ini mudah disindir sebagai panen publikasi mahasiswa dengan bonus “wet-wet gaki”.
Namun artikel disertasi bukan buah jatuh dari langit akademik. Ia tumbuh dari benih gagasan, akar teori, batang metode, air data, dan cahaya tafsir yang dijaga panjang. Promotor yang ikut menanam, merawat, memangkas, dan mengawal naskah hingga accepted layak menjadi penulis. Yang tercela bukan promotor sebagai co-author, melainkan nama yang datang saat panen tanpa pernah berkeringat di ladang ilmu.
Prinsip ICMJE tegas: penulis harus berkontribusi substansial pada konsep, desain, data, analisis, atau interpretasi; ikut menulis atau merevisi kritis; menyetujui versi final; dan bersedia bertanggung jawab atas integritas artikel. Authorship bukan bunga jabatan, melainkan meterai tanggung jawab ilmiah.
Karena itu, nama penulis tidak boleh menjadi kaligrafi kosong di dinding artikel. “Gift, guest, dan ghost authorships” adalah tiga “Penulis G” yang membuat artikel ramai nama, tetapi sunyi amanah.
Di Indonesia, semangat ini sejalan dengan Permendikbudristek No. 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik, yang menegaskan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepengarangan yang sah. Maka artikel dari disertasi wajib menempatkan mahasiswa doktoral sebagai penulis pertama. Promotor dan kopromotor layak menjadi co-author hanya jika kontribusinya nyata, substansial, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bukan karena pangkat, senioritas, tradisi, atau rasa “tidak enak”, tetapi karena ikut membangun ilmu. Dalam akademik yang sehat, authorship mengikuti jejak kontribusi, bukan bayangan kuasa.
Melesat ke Q1, Jangan Terpeleset ke Discontinued
Kritik terhadap jurnal bukan palu peruntuh, melainkan pagar sebelum jurang. Kita tidak ingin jurnal Aceh yang hari ini dielu-elukan sebagai Q1, besok tersandung discontinued dan masuk dalam Scopus Title Discontinuation List.
Jurnal bisa dihentikan indeksasinya karena mutu editorial merosot, artikel membanjir tidak wajar, penulis dan editor terlalu terkonsentrasi, review mencurigakan, sitasi dipoles, atau etika publikasi dilanggar.
Hal serupa pernah menimpa sejumlah jurnal Indonesia, seperti Human Rights in the Global South, Jurnal Lektur Keagamaan, Kharisma, Prophetic Law Review, Bali Medical Journal, Narra J, dan TELKOMNIKA. Semua ini cukup menjadi pengingat: indeksasi bukan jaminan abadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)