Jumat, 22 Mei 2026

Kupi Beungoh

Kritik Bukan Benci: Scopus Q1, Gema Sitasi, dan Martabat Ilmu Aceh  

Perdebatan soal Scopus dan jurnal Q1 di Aceh memanas. Kritik dinilai penting agar reputasi akademik tumbuh dari mutu, bukan gema sitasi sendiri.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Naik cepat tidak selalu kuat. Jika fondasi rapuh, Q1 bukan mahkota, tetapi bom waktu. Yang paling terluka adalah penulis. Dosen dan mahasiswa S3 bisa membayar puluhan juta, revisi berdarah-darah, artikel terbit, lalu jurnalnya ternyata predator, fake indexing, cloning, atau discontinued.

Artikel ada, tetapi tidak diakui. Dosen gagal memenuhi syarat kenaikan pangkat, BKD, dan kinerja akademik. Mahasiswa S3 terancam gagal memenuhi syarat kelulusan. Uang bisa dicari lagi; waktu, naskah, dan masa akademik yang hangus jauh lebih mahal. Ini tidak boleh menimpa kampus Aceh, pengelola jurnal Aceh, dan akademisi Aceh.

Karena itu, sebelum artikel dikirim, tabayyun akademik wajib dilakukan. Cek jurnal langsung di Scopus Source List: masih aktif atau sudah discontinued, benar terindeks atau sekadar mengaku. Jangan mudah terpikat oleh jampi-jampi “Q1”, “Scopus indexed”, “fast publication”, atau “guaranteed acceptance”.

Broker publikasi tidak menjual ilmu; mereka menjual ketakutan dosen dan kepanikan mahasiswa S3. Aceh punya riwayat cerdik: Teuku Umar pernah memperdaya Belanda. Tetapi sejarah juga mengajarkan, simbol mulia dan janji manis bisa membuat kewaspadaan tertidur. 

Maka akademisi Aceh jangan luluh oleh nama yang tampak saleh, situs yang tampak rapi, dan email yang terdengar sopan. Tanda bahayanya sering terang: penerbit kabur, scope melebar ke mana-mana, artikel membanjir, review kilat, APC agresif, editorial board samar, sitasi berputar, dan status Scopus tidak diverifikasi. Jangan sampai kecerdikan Aceh yang dulu menipu penjajah, hari ini ditipu tautan jurnal palsu, salam manis, dan invoice APC mahal.

Aceh tidak perlu mengecil di hadapan UI, UGM, Oxford, Harvard, Leiden, atau Sorbonne. Aceh bisa sejajar jika pengakuan itu diraih dengan mutu, adab, dan martabat.

Sebagaimana harapan Dr. Tgk. Tabrani ZA, Founder of SCAD Independent, Aceh memiliki keunikan epistemik dalam kajian Islam, syariah, hukum, pendidikan, dan masyarakat. Syariat, dayah, adat, konflik, perdamaian, tsunami, ekonomi Islam, dan peradaban maritim adalah tambang ilmu besar. 

Namun, ia hanya menjadi wibawa global jika ditulis dengan metodologi kokoh, diuji terbuka, dikutip karena relevansi, dan dipercaya karena integritas. Scopus penting, tetapi bukan kiblat terakhir.

Q1 membanggakan, tetapi bukan surat suci akademik. Kritik bukan pemadam harapan, melainkan penjaga martabat agar Aceh besar dengan ilmu yang bersih dan gagasan yang dihormati dunia.

Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved