Kupi Beungoh
Mitos Publikasi: Di Antara Scopus, Surga, dan Doa yang Tertunda
Tekanan publikasi ilmiah makin berat. Guru Besar USK M Shabri Abd Majid mengulas mitos Scopus, desk reject, hingga kecemasan akademisi.
Oleh: M. Shabri Abd. Majid
Di dunia akademik hari ini, publikasi bukan lagi sekadar karya ilmiah. Ia telah menjadi doa yang dikirim berulang-ulang ke meja editor, ke sistem jurnal, ke reviewer yang tak dikenal, dan ke langit yang kadang terasa diam. Satu naskah bisa membawa harapan kenaikan jabatan, kelulusan doktoral, reputasi kampus, bahkan harga diri akademik.
Dari sana lahir mitos yang pelan-pelan dipercaya: artikel yang terbit dianggap bukti kelayakan, sementara artikel yang tertolak seolah tanda kegagalan.
Padahal dunia publikasi tidak sesederhana itu. Naskah yang baik bisa salah rumah. Artikel yang rapi bisa gagal berbicara dengan scope jurnal. Gagasan yang penting bisa tenggelam karena kontribusinya tidak terlihat.
Di ruang yang kabur inilah berbagai mitos tumbuh: uang dianggap membuka pintu, bahasa halus dianggap cukup, metode canggih dianggap jaminan, desk reject dianggap aib, dan hasil tidak signifikan dianggap kegagalan.
Maka pertanyaannya bukan hanya bagaimana menembus jurnal, tetapi mengapa ilmu yang seharusnya membebaskan pikiran justru sering membuat akademisi hidup di antara indeks, kecemasan, dan doa yang tertunda?
Baca juga: Update Hari ke-87 Perang Iran: Trump Tak Mau Terburu-buru, Harapan Damai AS-Iran Mulai Meredup
Scopus dan Doa
Di Indonesia, tekanan publikasi memiliki wajah administratif yang nyata. Melalui Permendiktisaintek No. 52/2025 dan ketentuan turunannya, publikasi internasional bereputasi makin menjadi palang pintu menuju Guru Besar.
Syarat khususnya menuntut satu artikel Q2 dengan SJR minimal 0,25 atau impact factor minimal 0,05 sebagai penulis pertama sekaligus korespondensi, ditambah satu artikel Q3 dengan SJR minimal 0,20 atau impact factor minimal 0,05, atau SINTA 1 sebagai penulis pertama atau korespondensi.
Angka-angka itu dingin di atas kertas, tetapi di ruang dosen menjelma menjadi malam-malam revisi, biaya publikasi, dan doa yang tertunda.
Di sinilah kelakar “masuk Scopus lebih susah daripada masuk surga” menemukan makna sosialnya. Ia bukan sekadar candaan ruang dosen, melainkan bahasa lain dari kelelahan akademik: hidup di antara deadline, reviewer, dashboard kinerja, angka kredit, dan sistem pengajuan yang tak selalu ramah. Bahkan ada kawan yang saat umrah membawa kegelisahan publikasinya ke depan Ka’bah, memohon agar artikel-artikel yang lama tanpa kabar diberi jalan.
Sepulang dari Tanah Suci, satu per satu naskah itu akhirnya mendapat feedback. Kisah ini terdengar lucu, tetapi sesungguhnya getir: publikasi telah menjadi tempat bertemunya ikhtiar ilmiah, tekanan karier, dan doa yang paling personal.
Scopus tidak lagi hadir semata sebagai indeks bibliometrik, tetapi sebagai ujian karier yang menentukan siapa yang naik, siapa yang tertahan, dan siapa yang kembali mengetuk pintu submission system dengan hati setengah letih. Standar ilmiah dinaikkan, tetapi terlalu sering dosen dibiarkan memanjatnya dengan tangga yang rapuh.
Mitos yang Melukai
Mitos pertama: membayar membuka pintu. Banyak orang mengira open access atau jurnal berbayar adalah jalan belakang menuju acceptance.
Kesan itu muncul karena sebagian jurnal hidup dari seleksi longgar, APC, dan kemasan indeks yang tampak meyakinkan. Padahal label Q1, kuartil, atau SJR tidak selalu identik dengan mutu jika reputasi penerbit, asosiasi ilmiah, dan standar editorialnya kabur.
Jurnal top-tier yang sesungguhnya bukan “Q1 di atas kertas”, melainkan jurnal kelas atas dengan acceptance rate rendah, desk screening ketat, peer review serius, dan keputusan editorial independen.
Di sana, uang berhenti sebagai urusan administrasi; ia tidak boleh menyentuh keputusan akademik. Open access hanya membuka akses setelah artikel diterima, bukan membeli kelayakan ilmiah. Yang meloloskan naskah tetaplah kebaruan, ketepatan metode, kekuatan argumen, dan integritas.
Ketika biaya publikasi menjadi jalan pintas legitimasi, publikasi berubah dari kerja ilmu menjadi pasar ilusi akademik.
Mitos kedua: semua jurnal internasional memungut biaya dari penulis. Ini keliru. Pada jurnal closed access, penulis umumnya tidak membayar APC. Pada green open access, penulis dapat membagikan preprint atau author accepted manuscript di repositori tanpa APC.
Pada gold open access, APC sering dikenakan, tetapi bisa ditanggung universitas, konsorsium, sponsor, atau skema waiver. Pada diamond open access, penulis tidak membayar APC dan artikel tetap terbuka. Jadi, “jurnal internasional” tidak identik dengan “jurnal berbayar”.
Yang penting adalah memastikan peer review, reputasi indeksasi, tata kelola editorial, dan etika penerbitannya jelas.
Mitos ketiga: bahasa bagus pasti lolos. Banyak naskah ditulis dalam bahasa Inggris yang halus, tetapi tetap ditolak. Mengapa? Karena jurnal tidak hanya membaca grammar. Jurnal membaca gagasan.
Bahasa adalah pakaian; kontribusi adalah tubuh. Artikel dengan kalimat indah tetapi pertanyaan riset lemah tetap terlihat kosong. Proofreading bukanlah scholarly positioning. Editor tetap bertanya: apa yang baru, mengapa jurnal ini, dan mengapa pembaca internasional harus peduli?
Mitos keempat: metode canggih adalah mantra. AI, machine learning, big data analytics, eksperimen laboratorium, uji klinis, survei nasional, simulasi komputasional, pemodelan statistik kompleks, analisis bibliometrik, atau perangkat lunak analisis terbaru sering dipuja seperti jimat baru akademia. Seolah-olah artikel akan naik derajat hanya karena metodenya terdengar mahal dan rumit.
Padahal metode hanyalah pisau; ia tidak menyelamatkan operasi jika diagnosisnya keliru. Jurnal bereputasi tidak mencari kerumitan, tetapi ketepatan. Yang dicari reviewer adalah kesatuan napas antara pertanyaan riset, teori, data, metode, temuan, dan kontribusi.
Mitos kelima: desk reject berarti artikel buruk. Desk reject memang melukai harga diri akademik. Suratnya pendek, dingin, dan terasa seperti pintu ditutup sebelum tamu sempat bicara.
Namun desk reject tidak selalu berarti artikel lemah. Ia bisa berarti mismatch dengan scope, novelty belum eksplisit, kontribusi tidak sesuai percakapan jurnal, atau kasus terlalu lokal tanpa general insight. Nasib artikel sering berubah bukan karena datanya berubah, melainkan karena framing-nya menemukan rumah yang tepat.
Mitos keenam: reviewer selalu benar. Reviewer adalah penjaga mutu, tetapi bukan nabi. Mereka bisa tajam, keliru, terburu-buru, atau membaca dari sudut yang berbeda.
Penulis yang matang tidak harus menuruti semua permintaan secara membabi buta. Ia perlu tahu kapan menerima, kapan menolak dengan hormat, dan kapan menawarkan kompromi. Dalam revisi, yang diperjuangkan bukan ego penulis, melainkan integritas argumen.
Mitos ketujuh: major revision hampir pasti diterima. Ini juga keliru. Major revision adalah pintu yang terbuka setengah, bukan surat jaminan.
Ia berarti naskah punya potensi, tetapi masih menyimpan luka serius. Revisi yang defensif dan kosmetik bisa berakhir dengan penolakan; revisi yang tekun bisa mengubah kritik menjadi jalan masuk.
Mitos kedelapan: hasil tidak signifikan adalah kegagalan. Dalam budaya akademik yang terobsesi pada bintang statistik, hasil tidak signifikan sering dianggap aib. Padahal ketidaksignifikanan bisa menjadi temuan penting jika ditempatkan dalam teori yang tepat.
Jika suatu intervensi tidak berdampak, jika teknologi tidak meningkatkan pembelajaran, jika kebijakan tidak mengubah perilaku, atau jika pertumbuhan tidak menurunkan kemiskinan, itu bukan sekadar “hasil lemah”. Itu bisa menjadi pintu untuk memahami mengapa asumsi lama tidak bekerja. Ilmu tidak hanya bergerak karena hasil signifikan; ilmu juga bergerak ketika keyakinan lama terbukti retak.
Menyelamatkan Napas Ilmu
Mitos publikasi perlu diurai bukan dengan membenci jurnal, melainkan dengan memahami ekosistemnya secara jernih. Jurnal bukan musuh. Reviewer bukan algojo. Indeks bukan kitab suci. Yang perlu dilawan adalah cara pandang yang mereduksi publikasi menjadi angka. Karena itu, jurnal seharusnya dipilih karena kecocokan gagasan, bukan semata peringkat.
Kontribusi juga harus ditulis secara terang. Jangan berharap editor menebak kebaruan. Katakan dengan jelas: celah keilmuan, mekanisme yang ditawarkan, sumbangan teoritis, dan implikasi praktisnya. Kasus lokal pun tidak perlu disembunyikan. Aceh, desa, pesantren, koperasi, rumah sakit daerah, sekolah pinggiran, komunitas adat, laboratorium kecil, atau bank syariah lokal dapat menjadi laboratorium teori jika mampu membuka pelajaran yang lebih luas.
Etika harus tetap menjadi pagar. Jangan membelah satu studi menjadi banyak artikel tipis, memaksa sitasi, atau mengejar jurnal predatory hanya demi terlihat produktif. Kampus dan negara juga perlu berhenti menyederhanakan ilmu menjadi skor. Mengajar, membimbing, membangun data, menulis buku, menyusun naskah kebijakan, merawat mahasiswa, dan menjaga integritas ilmiah adalah kerja akademik yang sama pentingnya.
Publikasi memang gerbang, tetapi ilmu bukan gerbang itu. Jurnal boleh menolak naskah, tetapi tidak boleh memadamkan keberanian berpikir. Reviewer boleh mengkritik, tetapi tidak boleh mencabut akar rasa ingin tahu. Indeks boleh mengukur jejak, tetapi tidak boleh menjadi Tuhan kecil yang menentukan nilai seorang akademisi.
Tugas kita bukan hanya menembus jurnal, melainkan menulis dengan martabat, merevisi dengan rendah hati, memilih jurnal dengan strategi, dan menjaga agar ilmu tetap menjadi cahaya, bukan sekadar angka di dashboard kinerja.
Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.
E-mail: mshabri@usk.ac.id
| TMMD Ke-128 Kodim Abdya, TNI Hadirkan Merah Putih di Gunong Cut |
|
|---|
| Sekali AI Datang Kampus Pun Berubah |
|
|---|
| Fenomena Remaja Nongkrong Hingga Larut Malam dan Pengaruhnya terhadap Citra Aceh |
|
|---|
| Rakyat tidak Pakai Dolar, Tapi Tetap Merasakan Getarnya |
|
|---|
| Aceh di Persimpangan: Ketika Mimpi Besar Tersandera Lemahnya Tata Kelola dan Krisis Prioritas Publik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Shabri-Abd-Majid-Mengulas-Tentang-Nasib-Gajah-Aceh.jpg)