Selasa, 26 Mei 2026

Kupi Beungoh

Mitos Publikasi: Di Antara Scopus, Surga, dan Doa yang Tertunda  

Tekanan publikasi ilmiah makin berat. Guru Besar USK M Shabri Abd Majid mengulas mitos Scopus, desk reject, hingga kecemasan akademisi.

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com/HO
M SHABRI ABD MAJID, Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid

Di dunia akademik hari ini, publikasi bukan lagi sekadar karya ilmiah. Ia telah menjadi doa yang dikirim berulang-ulang ke meja editor, ke sistem jurnal, ke reviewer yang tak dikenal, dan ke langit yang kadang terasa diam. Satu naskah bisa membawa harapan kenaikan jabatan, kelulusan doktoral, reputasi kampus, bahkan harga diri akademik.

Dari sana lahir mitos yang pelan-pelan dipercaya: artikel yang terbit dianggap bukti kelayakan, sementara artikel yang tertolak seolah tanda kegagalan.

Padahal dunia publikasi tidak sesederhana itu. Naskah yang baik bisa salah rumah. Artikel yang rapi bisa gagal berbicara dengan scope jurnal. Gagasan yang penting bisa tenggelam karena kontribusinya tidak terlihat.

Di ruang yang kabur inilah berbagai mitos tumbuh: uang dianggap membuka pintu, bahasa halus dianggap cukup, metode canggih dianggap jaminan, desk reject dianggap aib, dan hasil tidak signifikan dianggap kegagalan.

Maka pertanyaannya bukan hanya bagaimana menembus jurnal, tetapi mengapa ilmu yang seharusnya membebaskan pikiran justru sering membuat akademisi hidup di antara indeks, kecemasan, dan doa yang tertunda?

Baca juga: Update Hari ke-87 Perang Iran: Trump Tak Mau Terburu-buru, Harapan Damai AS-Iran Mulai Meredup

Scopus dan Doa

Di Indonesia, tekanan publikasi memiliki wajah administratif yang nyata. Melalui Permendiktisaintek No. 52/2025 dan ketentuan turunannya, publikasi internasional bereputasi makin menjadi palang pintu menuju Guru Besar.

Syarat khususnya menuntut satu artikel Q2 dengan SJR minimal 0,25 atau impact factor minimal 0,05 sebagai penulis pertama sekaligus korespondensi, ditambah satu artikel Q3 dengan SJR minimal 0,20 atau impact factor minimal 0,05, atau SINTA 1 sebagai penulis pertama atau korespondensi.

Angka-angka itu dingin di atas kertas, tetapi di ruang dosen menjelma menjadi malam-malam revisi, biaya publikasi, dan doa yang tertunda.

Di sinilah kelakar “masuk Scopus lebih susah daripada masuk surga” menemukan makna sosialnya. Ia bukan sekadar candaan ruang dosen, melainkan bahasa lain dari kelelahan akademik: hidup di antara deadline, reviewer, dashboard kinerja, angka kredit, dan sistem pengajuan yang tak selalu ramah. Bahkan ada kawan yang saat umrah membawa kegelisahan publikasinya ke depan Ka’bah, memohon agar artikel-artikel yang lama tanpa kabar diberi jalan.

Sepulang dari Tanah Suci, satu per satu naskah itu akhirnya mendapat feedback. Kisah ini terdengar lucu, tetapi sesungguhnya getir: publikasi telah menjadi tempat bertemunya ikhtiar ilmiah, tekanan karier, dan doa yang paling personal.

Scopus tidak lagi hadir semata sebagai indeks bibliometrik, tetapi sebagai ujian karier yang menentukan siapa yang naik, siapa yang tertahan, dan siapa yang kembali mengetuk pintu submission system dengan hati setengah letih. Standar ilmiah dinaikkan, tetapi terlalu sering dosen dibiarkan memanjatnya dengan tangga yang rapuh.

Mitos yang Melukai

Mitos pertama: membayar membuka pintu. Banyak orang mengira open access atau jurnal berbayar adalah jalan belakang menuju acceptance.

Kesan itu muncul karena sebagian jurnal hidup dari seleksi longgar, APC, dan kemasan indeks yang tampak meyakinkan. Padahal label Q1, kuartil, atau SJR tidak selalu identik dengan mutu jika reputasi penerbit, asosiasi ilmiah, dan standar editorialnya kabur. 

Jurnal top-tier yang sesungguhnya bukan “Q1 di atas kertas”, melainkan jurnal kelas atas dengan acceptance rate rendah, desk screening ketat, peer review serius, dan keputusan editorial independen.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved