Opini
Kebangkitan Tradisi Menulis Teungku Dayah
DALAM sejarah panjang peradaban Islam di Aceh, dayah tidak hanya dikenal sebagai pusat transmisi ilmu, tetapi juga sebagai ruang
Dr H Teuku Zulkhairi MA, Wakil Ketua Majelis Akreditasi Dayah Aceh (MADA), dosen UIN Ar-Raniry dan Ketua Humas PB HUDA
DALAM sejarah panjang peradaban Islam di Aceh, dayah tidak hanya dikenal sebagai pusat transmisi ilmu, tetapi juga sebagai ruang produksi ilmu pengetahuan. Kiprah para ulama pada masa lalu bukan sekadar pengajar kitab kuning, tetapi juga sebagai penulis, penerjemah, dan penyusun karya ilmiah yang menjadi rujukan lintas generasi hingga era kita saat ini. Kita mengenal ulama-ulama Aceh seperti Syaikh Nuruddin ar-Raniry, Syaikh Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala) dan sebagainya yang menulis karya-karya besar yang hingga kini masih menjadi rujukan penting di Nusantara dan dunia Melayu.Tradisi menulis yang sempat meredup di “era penjajahan Belanda” hingga masa-masa setelahnya. Seiring dengan meredupnya tradisi menulis ini, posisi Aceh sebagai mercusuar Islam pun “hilang”. Namun demikian, hal yang menggembirakan saat ini adalah kebangkitan tradisi menulis di kalangan teungku dayah. Kebangkitan bukanlah romantisme intelektual, tetapi merupakan kebutuhan mendesak. Dunia pendidikan dayah, tidak bisa hanya bertahan sebagai lembaga transmisi ilmu-ilmu keislaman berbasis turats, tetapi juga harus menjadi produsen ilmu. Tanpa tradisi menulis yang kuat, ilmu yang diajarkan akan berhenti pada pengulangan, bukan pengembangan.
Maka dalam konteks ini, munculnya karya-karya baru dari kalangan teungku dayah merupakan angin segar yang patut diapresiasi dan terus didorong. Begitu juga hadirnya enam Ma’had Aly (Dayah Manyang) di Aceh menjadi harapan baru dimana karya tulis berbasis turats akan terus diproduksi secara sistematis. Keenam Ma'had Aly di Aceh yang terus merawat harapan kebangkitan tradisi menulis di tengah segala keterbatasan yang ada, yaitu Ma'had Aly Babussalam di Matangkuli Aceh Utara, Mudi Mesra, Darul Munawwarah Kuta Krueng, Malikussaleh di Panton Labu, Raudhatul Ma'arif, serta Ma'had Aly Abuya Muda Waly di Darussalam Labuhanhaji.
Dan di luar konteks Ma'had Aly, juga terus muncul produktivitas menulis teungku-teungku dayah. Tgk. Ibnu Rizal misalnya, seorang guru di Dayah Darul Muarrif Lam Ateuk, Aceh Besar. Beliau telah menghasilkan berbagai karya terjemahan kitab-kitab kurikulum dayah yang selama ini menjadi bahan ajar utama. Di antara karyanya yaitu Terjemah Syarah Jauhar Maknun, Terjemah Lathaef Ushul Fiqh, Terjemah Lumak Ushul Fiqh, Terjemah Isaghuji Mantiq, Terjemah Syarah Baiquni dalam Musthalah Hadits, hingga karya monumental seperti Terjemah Ghayah Wushul dalam empat jilid dan Terjemah Asybah wa Nazhair dalam Qawaid Fiqh dalam dua jilid. Ia juga menerjemahkan karya hikmah seperti Al-Hikmah karya Imam al-Ghazali dalam judul Merenungi Hikmah Ciptaan Allah.
Selain itu, kita juga menyaksikan lahirnya karya orisinal berbahasa Arab dari kalangan teungku dayah. Tgk. Mulyadi M. Jamil, pimpinan Dayah Sirajul Muna Kota Lhokseumawe, berhasil menulis sebuah kitab setebal 400 halaman berjudul Dhiya’ al-Hilalain ‘Ala Idhah Tafsir Jalalain. Karya ini menunjukkan kapasitas intelektual yang tinggi, serta keberanian untuk masuk ke dalam tradisi penulisan kitab berbahasa Arab. Hebatnya, kitab tersebut merujuk kepada 91 kitab, mengupas persoalan fiqih dari bab thaharah hingga fadhail shalat, sekaligus membahas i'rab, mufradat, balaghah, serta metode pendalilan dalam mazhab, dilengkapi dengan berbagai faedah dan tatimmah.
Di sisi lain, kontribusi Tgk. Erwin Syah dari Dayah Darussalam Labuhanhaji juga patut dicatat. Ia telah menerjemahkan Kitab Ghayah Wushul serta Kitab al-Mahalli dalam empat jilid. Karya-karya ini semakin memperkuat ekosistem literasi di lingkungan dayah di Aceh dan pesantren di Indonesia umumnya, sekaligus memperluas akses santri terhadap khazanah turats.
Lebih dari itu, terjemahan yang dilakukan oleh seorang teungku dayah memiliki kelebihan tersendiri, karena ia memahami konteks pengajaran, kebutuhan santri, serta nuansa metodologis yang berkembang di lingkungan dayah. Dengan demikian, terjemahan tersebut bukan sekadar alih bahasa, tetapi juga alih makna dan alih tradisi keilmuan.
Di sisi lain, kami di Badan Akreditasi Dayah Aceh (BADA) juga terus mendorong kebangkitan tradisi menulis di lingkungan dayah melalui instrumen akreditasi yang antara lain mendorong pengembangan dalam aspek karya tulis, penelitian, dan aktivitas ilmiah. Adanya karya tulis kini tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai indikator mutu yang kita nilai secara serius.
Dalam proses akreditasi yang dilakukan, terdapat penekanan yang jelas pada aspek kajian ilmiah, seminar, muzakarah, dan karya tulis sebagai bagian dari standar sumber daya manusia dan mutu kelembagaan. Bahkan, dalam standar penilaian pendidikan, penelitian, dan pengabdian, dayah didorong untuk tidak hanya aktif dalam bahtsul masail, tetapi juga melakukan inventarisasi persoalan hukum kontemporer serta menuangkannya dalam bentuk karya tulis. Ini Adalah upaya untuk menjadi tradisi menulis terinstitusionalisasikan sebagai bagian dari budaya akademik di dayah.
Jadi, sebagai bagian dari keterlibatan langsung dalam proses ini, kami di BADA berupaya mendorong lahirnya tradisi menulis melalui pendekatan insentif struktural. Setiap karya yang dihasilkan oleh teungku maupun santri, baik berupa buku, terjemahan, makalah, maupun karya ilmiah lainnya akan mendapatkan penilaian dalam akreditasi. Dengan demikian, menulis tidak lagi hanya menjadi aktivitas personal, tetapi juga menjadi bagian dari capaian institusional yang berdampak pada kualitas dan pengakuan dayah itu sendiri.
Implikasi luas
Pendekatan ini penting, karena seringkali tradisi menulis terhambat bukan karena ketiadaan kemampuan, tetapi karena kurangnya dorongan sistemik. Ketika karya tulis dihargai dan dinilai secara formal, maka akan muncul motivasi kolektif untuk menghasilkan karya. Dayah-dayah akan berlomba-lomba meningkatkan produktivitas intelektualnya dalam tradisi menulis yang akan menjadi warisan peradaban yang sangat bernilai. Apalagi, di era digital dan keterbukaan informasi seperti saat ini, otoritas keilmuan sangat sangat dinilai melalui tulisan yang dapat diakses secara luas. Dayah yang aktif menulis akan dirujuk sehingga berkontribusi dalam percakapan keilmuan global.
Secara singkat, kebangkitan tradisi teungku dayah ini menulis ini memiliki implikasi yang sangat luas. Pertama, memperkuat otoritas keilmuan dayah di tengah arus globalisasi. Kedua, mendorong lahirnya budaya berpikir kritis dan sistematis di kalangan santri. Ketiga, ia menciptakan warisan intelektual bagi generasi mendatang.
Namun demikian, upaya ini tetap membutuhkan dukungan yang lebih luas. Pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan perlu terus memperkuat ekosistem literasi di dayah, mulai dari penyediaan perpustakaan, akses kitab turats dan referensi modern, hingga pelatihan penulisan ilmiah. Tanpa ekosistem yang mendukung, tradisi ini akan sulit berkembang secara optimal.
Dalam proses akreditasi, kami di Badan Akreditasi Dayah Aceh (BADA) akan menilai karya-karya yang dihasilkan seperti dijelaskan di atas, tapi dayah tentu membutuhkan dukungan maksimal Pemerintah Aceh dan Kementerian Agama agar bisa menerbitkan buku-buku dan kitab yang telah ditulis, untuk melakukan kegiatan-kegiatan penelitian dan sebagainya dimana perkara penting ini selama ini sangat-sangat terabaikan dimana Pembangunan dayah lebih fokus ke fisik, padahal peradaban Islam dikenal dari karya-karya tulis.
Oleh sebab itu, kebangkitan tradisi menulis teungku dayah tidak diragukan lagi menjadi harapan besar bagi masa depan pendidikan Islam di Aceh. Sebab, ini adalah tentang kebangkitan peradaban. Ketika pena kembali diangkat oleh para teungku dayah, dan ketika lembaga seperti BADA turut mendorong serta mengapresiasinya secara sistemik, maka sejatinya kita sedang menyalakan kembali obor ilmu yang pernah menerangi dunia. Jika momentum ini dapat dijaga dan kita kembangkan, bukan tidak mungkin Aceh akan kembali dikenal sebagai pusat keilmuan Islam seperti di masa lalu. Insya Allah. Aamiin ya Rabb.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Teuku-Zulkhairi-MA-Sekjend-Ikatan-Sarjana-Alumni-Dayah-ISAD.jpg)