Senin, 1 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak

Jika anak muda Aceh hari ini ingin mencari bentuk ideal saudagar modern, maka Habib Bugak adalah salah satu model yang paling menarik

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Ia hanya menghormati satu tipe manusia: mereka yang mampu memahami arus zaman lebih cepat daripada orang lain.

Dan tipe manusia itu pernah hidup di Aceh.

Namanya Habib Bugak al-Asyi.

Jika anak muda Aceh hari ini ingin mencari bentuk ideal saudagar modern, maka Habib Bugak adalah salah satu model yang paling menarik. 

Bukan semata karena ia kaya. Banyak orang kaya dalam sejarah. Tetapi karena ia menunjukkan perpaduan yang sangat jarang: kemampuan ekonomi yang tajam sekaligus komitmen moral dan religius yang kuat.

Habib Bugak hidup dalam dunia yang brutal. Abad ke-18 bukan masa yang tenang. Jalur dagang berubah cepat.

Harga komoditas naik turun. Kapal tenggelam. Kekuasaan politik runtuh. Dalam dunia seperti itu hanya ada dua pilihan: belajar atau tersingkir. Dari tekanan sejarah seperti itulah watak saudagar Aceh dibentuk.

Ini penting dipahami. Tradisi ekonomi Aceh lama bukan tradisi yang lahir dari kenyamanan. 

Ia tumbuh dari tekanan laut, persaingan dagang internasional, dan kebutuhan untuk bertahan di tengah perubahan global. 

Saudagar Aceh harus berpikir lintas wilayah, memahami jaringan internasional, dan membaca momentum jauh sebelum istilah globalisasi dikenal.

Habib Bugak adalah produk paling matang dari ekosistem itu.

Ia memahami sesuatu yang bahkan banyak pebisnis modern gagal pahami: bahwa nilai terbesar tidak selalu terletak pada benda, tetapi pada posisi benda itu dalam arus manusia. 

Tanah biasa bisa kehilangan nilai ketika manusia berhenti datang. Tetapi lokasi yang berada di pusat pergerakan manusia akan terus hidup bahkan ketika kerajaan runtuh dan mata uang berubah.

Dan Habib Bugak menemukan titik itu di Mekah.

Di sinilah kecerdasannya menjadi sangat modern. Jika banyak investor masa kini dipuji karena kemampuan membaca aset jangka panjang yang tahan terhadap perubahan zaman, maka Habib Bugak telah melakukan hal yang serupa lebih dari dua abad sebelumnya. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved