Senin, 1 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak

Jika anak muda Aceh hari ini ingin mencari bentuk ideal saudagar modern, maka Habib Bugak adalah salah satu model yang paling menarik

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/Handover
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Ini bukan sedekah sesaat.

Ini adalah manfaat sosial yang lahir dari keputusan ekonomi jangka panjang.

Tetapi Habib Bugak penting bukan hanya sebagai individu. Ia penting karena merepresentasikan sesuatu yang lebih besar: tradisi saudagar Aceh yang selama ini terlalu sering berada di pinggir narasi sejarah.

Fondasi ekonomi 

Selama berabad-abad, Aceh tidak tumbuh di persimpangan dunia Islam dan dunia Asia hanya karena keberanian para panglimanya atau kedalaman ilmu para ulamanya. 

Aceh juga dibangun oleh para pedagang yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan Samudra Hindia, membaca perubahan pasar, membangun jaringan lintas negara, dan menciptakan kemakmuran yang menjadi fondasi bagi kekuatan politik maupun perkembangan intelektual.

Jika ditelusuri lebih jauh, tradisi ini memiliki akar yang panjang. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, Aceh muncul sebagai salah satu penerima terbesar arus perdagangan Muslim yang berpindah ke utara Selat Malaka. 

Pada abad ke-16, pelabuhan-pelabuhan Aceh berkembang menjadi simpul baru perdagangan internasional yang menghubungkan dunia Arab, India, dan Nusantara.

Baca juga: VIDEO Calhaj Bireuen Dipeusijuek dan Ziarahi Makam Habib Bugak

Pada masa Sultan Iskandar Muda, kekuatan politik dan ekonomi Aceh mencapai puncaknya. Pelabuhan Aceh menjadi tempat bertemunya pedagang dari berbagai bangsa. 

Inilah fase ketika Aceh tampil bukan hanya sebagai kerajaan yang kuat, tetapi juga sebagai salah satu pusat perdagangan terpenting di kawasan Samudra Hindia.

Tradisi itu tidak berhenti ketika kekuatan politik Aceh mulai melemah. Pada abad ke-18 muncul figur-figur saudagar kosmopolitan seperti Habib Bugak yang bergerak hingga ke Hijaz. 

Pada abad ke-19, jaringan saudagar Aceh tetap aktif di Penang, Singapura, dan berbagai kota pelabuhan di Selat Malaka. Ketika kekuatan negara melemah, jaringan saudagar tetap bergerak.

Jejaknya bahkan masih terlihat pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Ketika republik yang baru lahir menghadapi keterbatasan sumber daya, para saudagar dan masyarakat Aceh berhasil menghimpun dana untuk membantu pembelian pesawat Seulawah. 

Peristiwa itu menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi Aceh tidak hanya berfungsi untuk kepentingan pribadi atau daerah, tetapi juga dapat dikonversi menjadi modal sosial dan politik bagi bangsa yang lebih besar.

Karena itu, mungkin sudah saatnya sejarah Aceh dibaca melalui tiga lensa sekaligus: ulama yang membentuk intelektualitas, pejuang yang menjaga kedaulatan, dan saudagar yang menciptakan kemakmuran.

Perang memang menghasilkan kisah-kisah heroik yang mudah diingat. Ulama melahirkan warisan intelektual yang menjadi sumber identitas masyarakat. 

Tetapi perdaganganlah yang selama berabad-abad menyediakan sumber daya, membangun jaringan internasional, dan membuka ruang mobilitas yang memungkinkan keduanya berkembang.

Baca juga: Wagub Fadhlullah Undang Pengelola Wakaf Habib Bugak ke Aceh

Dengan kata lain, perang membentuk legenda Aceh. Ulama membentuk jiwanya. Tetapi saudagar menyediakan fondasi ekonomi yang membuat keduanya mungkin bertahan.

Habib Bugak adalah salah satu bukti paling jelas dari tradisi itu. Ia tidak sekadar mewariskan kekayaan. 

Ia mewariskan cara berpikir: bahwa modal harus dibaca secara strategis, bahwa masa depan harus dilihat jauh melampaui umur manusia, dan bahwa kekayaan mencapai makna tertingginya ketika berubah menjadi institusi yang terus memberi manfaat bagi generasi yang tidak pernah mengenal nama pendirinya.

Mungkin karena itulah, lebih dari dua abad setelah wafatnya, sejarah masih terus membayar keputusan yang pernah ia buat.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved