Jumat, 5 Juni 2026

Kupi Beungoh

Mengapa Menonton Video Pendek Bisa Bikin Otak Susah Fokus? 

Di era teknologi seperti sekarang, excessive short-form video consumption atau dikenal menonton video pendek melalui platform seperti TikTok dan...

Tayang:
Editor: Eddy Fitriadi
SERAMBINEWS.COM/AI
VIDEO PENDEK - Ilustrasi mahasiswa sedang terdistraksi scrolling video pendek di media sosial saat waktu belajar. Foto dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) Gemini, Kamis (4/6/2026). 

Oleh:

Puteri Nadhilah Purwito, Mahasiswi Psikologi USK 

SERAMBINEWS.COM - Anda buka TikTok sebentar setelah makan siang. Lima menit kemudian masih scroll. Tahu-tahu satu jam berlalu dan tugas yang harusnya anda kerjakan masih belum disentuh. Kalau skenario ini terasa familiar, mungkin anda tidak sendirian.

Di era teknologi seperti sekarang, excessive short-form video consumption atau dikenal menonton video pendek melalui platform seperti TikTok dan Instagram Reels memang sudah menjadi bagian keseharian yang sulit dipisahkan, terutama di kalangan mahasiswa. Rata-rata durasi penggunaan bisa mencapai lebih dari dua jam per hari.

Setiap kali anda menonton video yang menarik, otak anda melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang memicu rasa senang dan puas secara instan. Kumar (2024) menjelaskan bahwa algoritmanya bekerja seperti mesin judi, anda tidak pernah tahu video menarik berikutnya akan muncul di scroll ke berapa dan justru ketidakpastian inilah yang membuat anda terus menggulir layar handphone anda. 

Fenomena ini dikenal dengan istilah intermittent reinforcement, sebuah prinsip psikologi yang pertama kali dipelajari pada perilaku penjudi, di mana hadiah yang datang secara tidak terduga justru lebih membuat ketagihan dibanding hadiah yang rutin. Ternyata, media sosial menggunakan prinsip yang sama persis. 

Masalahnya bukan sekadar waktu yang terbuang, paparan konten yang begitu cepat berganti secara terus-menerus perlahan mengubah cara otak anda memproses informasi. Penelitian Jana (2025) menemukan bahwa kelompok ini memiliki skor sustained attention yang jauh lebih rendah dibanding pengguna dengan menonton rendah. Mereka juga menjelaskan tingkat kecemasan yang lebih tinggi dan kesulitan menghentikan kebiasaan scrolling meski sudah menyadari dampaknya.

Otak yang terbiasa dengan paparan instan lama-kelamaan menjadi kurang sabar menghadapi aktivitas yang memerlukan konsentrasi panjang, seperti membaca materi kuliah, mengerjakan laporan, atau sekadar duduk fokus mengikuti perkuliahan. Penelitian Bairstow (2025) menyebut kondisi ini sebagai shallow processing, yaitu informasi ditangkap di permukaan, tapi tidak benar-benar diproses secara mendalam, sehingga mudah terlupakan. Salah satu dampak lain yang sering diabaikan adalah prokrastinasi.

Menonton video pendek menjadi pelarian yang sangat mudah dijangkau saat anda merasa bosan, stres, atau tidak ingin mengerjakan sesuatu yang berat. Dan karena otak sudah terlatih mencari kepuasan secara instan, aktivitas yang butuh usaha lebih seperti belajar terasa semakin berat untuk dimulai.

Baca juga: KPIA Mulai Take Down Konten Medsos, Sosialisasi dan Audiensi soal P3SPS ke Pemko Banda Aceh

Penelitian Pychyl (2015) menjelaskan bahwa semakin sering anda lari ke media sosial saat tidak nyaman, semakin kuat kebiasaan itu tertanam dan semakin sulit untuk memulai kembali aktivitas yang produktif. Namun, perlu diingat bahwa TikTok atau Instagram Reels bukan musuh anda. Konten edukatif, hiburan sehat, dan kreativitas lain yang lahir dari platform ini juga tidak bisa langsung diabaikan. Masalahnya adalah ketika aktivitas menonton anda sudah tidak terkontrol dan mulai mengganggu fungsi kognitif serta aktivitas akademik.

Langkah paling sederhana yang bisa dilakukan adalah mulai sadar dan jujur pada diri sendiri. Berapa lama anda benar-benar menghabiskan waktu di platform tersebut setiap harinya? Fitur screen time di ponsel bisa menjadi pengingat untuk anda. Dari sanalah langkah kecil bisa anda mulai, seperti set batas waktu harian, mematikan notifikasi saat belajar, atau sekadar meletakkan ponsel di laci saat mengerjakan tugas bisa membuat perbedaan yang nyata. Otak anda bukan rusak karena TikTok, tetapi otak anda juga bukan tidak terpengaruh.

Di tengah arus konten yang tidak ada habisnya, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memilih kapan anda membuka layar handphone anda adalah salah satu usaha paling berharga yang bisa anda latih hari ini. Karena fokus, seperti otot, butuh dilatih bukan terus-menerus dialihkan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved