Jumat, 5 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Menyingkap Bisnis Tepas Bambu dan Kurungan Ayam di Buket Teukuh

Saya berhenti di sebuah rumah untuk melihat langsung sembari berbincang-bincang dengan Alamsyah, salah seorang perajin kurungan ayam

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
M. ZUBAIR, S.H., M.H, pemerhati UMKM dan kearifan lokal Aceh, melaporkan dari Bireuen 

Meski demikian, para perajin di Desa Buket Teukuh tetap bertahan. Mereka percaya bahwa kerajinan tradisional memiliki nilai seni dan budaya yang tidak dapat digantikan oleh produk pabrikan. Bahkan, di era digital saat ini, beberapa perajin mulai coba memasarkan produknya melalui media sosial dan platform daring.

Anak-anak muda desa mulai membantu orang tua mereka memotret hasil kerajinan, lalu mengunggahnya ke internet untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Perubahan pola pemasaran ini diharapkan perlahan membuka peluang baru. Jika dahulu penjualan hanya mengandalkan pasar tradisional atau pembeli lokal, kini produk kerajinan bambu mulai dikenal hingga ke luar daerah.

Teknologi digital memberi ruang bagi usaha tradisional untuk tetap hidup di tengah persaingan zaman modern.

Pada tahap ini juga sangat dibutuhkan peran pemerintah untuk memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat menghadapi tantangan perkembangan zaman yang terus melesat.

Kelompok-kelompok informasi gampong yang sudah terbentuk hampir di setiap gampong dalam Kabupaten Bireuen hasil binaan Diskominsa juga diharapkan dapat mempromosikan usaha kerajinan bambu tersebut melalui ‘website’ gampong sehingga diketahui publik secara luas.

Selain memiliki nilai ekonomi, kerajinan tepas bambu dan kurungan ayam juga menyimpan nilai budaya yang penting untuk dijaga. Anyaman bambu mencerminkan ketelitian, kesabaran, dan kearifan lokal masyarakat Aceh dalam memanfaatkan alam secara berkelanjutan. Penggunaan bahan alami menjadikan produk ini lebih ramah lingkungan dibandingkan produk sintetis.

Oleh karena itu, perhatian pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan agar kerajinan tradisional ini tidak hilang ditelan zaman. Dukungan berupa pelatihan pemasaran digital, bantuan modal usaha, hingga program pelestarian tanaman bambu dapat menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha para perajin.

Di balik kesederhanaan anyaman bambu di Desa Buket Teukuh, tersimpan cerita perjuangan ekonomi masyarakat yang terus bertahan dan berkelindan dari generasi ke generasi. Mereka bukan hanya membuat tepas bambu dan kurungan ayam, melainkan juga menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah kemajuan teknologi digital dewasa ini.

Kerajinan itu menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas sebenarnya dapat berjalan beriringan. Selama masih ada tangan-tangan yang tekun menganyam bambu, selama itu pula identitas budaya masyarakat desa akan tetap lestari di Kabupaten Bireuen.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved