Sabtu, 6 Juni 2026

Pojok Budaya

Pintu yang Masih Ditanya-tanya, Qanun Sudah Berjalan Tanpa Mereka

Tapi seniman Aceh masih berdebat soal apakah kanal komunikasi dengan pemerintah perlu dibuat. Itu jarak yang perlu diukur dengan jujur

Tayang:
Editor: Subur Dani
Dok SERAMBINEWS.COM/HO
Moritza Thaher, musisi Aceh yang juga pendiri Sekolah Musik Moritza 

SUKAT datang ke proses Raqan 2024 justru untuk menunjukkan metode pelibatan yang bermakna — agar di masa depan cara-cara tertutup itu tidak terulang. Tapi qanun tetap disahkan dengan cara lama.

Selama seniman diperlakukan sebagai mitra undangan — padahal hak mereka sudah tertulis dalam undang-undang — mekanisme apapun yang dibuat akan bekerja atas dasar kebaikan hati, bukan kewajiban. 

Kebaikan hati bergantung pada siapa yang sedang menjabat. Kewajiban tidak bergantung pada siapapun.

Kanal Bukan Tujuan

Kanal komunikasi resmi — forum konsultasi triwulan, meja aspirasi di dinas, RDP khusus seni di DPRA — adalah alat. 

Ia hanya bekerja jika ada keyakinan bersama bahwa suara yang masuk akan diperlakukan sebagai masukan yang mengikat proses, atau sekadar dicatat lalu disimpan.

Baca juga: Demokrasi Aceh: Antara Kekhususan dan Penyeragaman

Kasus Qanun No. 5/2025 memberi ukuran yang lebih jelas. Komunitas seni sudah punya draft. Mereka sudah hadir. Mereka sudah bekerja. 

Hasilnya: draft mereka diabaikan, qanun disahkan, dan komunitas kini memilih diam — menunggu energi pulih untuk mengadvokasi ulang.

Draft sudah disiapkan. Forum sudah digelar. Argumen hukum sudah dibangun.

Baca juga: Seluruh Wilayah Subulussalam Diperkirakan Berawan, Cuaca Lembab, Kota Ini Terasa Gerah

Iskandar Tungang merumuskannya langsung: "Pemerintah Aceh melalui Disbudpar Aceh sudah seharusnya tidak bersikap eksklusif lagi dengan mengatasnamakan ekosistem kebudayaan Aceh hanya sebagai klaim untuk kepentingan mereka semata."

Aceh punya dua payung hukum untuk kebudayaan. Institusi yang memperlakukan hak itu sebagai kenyataan — setiap kali ada qanun baru yang hendak disahkan — masih perlu dibangun.(*)

*) Moritza Thaher adalah penulis dan musisi yang berbasis di Banda Aceh.

Tulisannya berfokus pada ekosistem seni, budaya, dan pendidikan — khususnya jarak antara cara sistem itu diklaim bekerja dan cara ia benar-benar bekerja. Ia mendirikan Sekolah Musik Moritza pada 1991 dan masih aktif mengajar hingga hari ini.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved