Jurnalisme Warga
Nasib Mahasiswa Rantau di Tengah Inflasi yang Merobek Kantong
Awal bulan selalu menjadi momen yang ditunggu oleh banyak mahasiswa. Saat notifikasi transfer dari orang tua masuk ke rekening
Reportae ini bukan hendak mengeluhkan keadaan. Saya memahami bahwa inflasi adalah persoalan ekonomi yang kompleks dan tidak dapat diselesaikan dengan mudah. Namun setidaknya, kita perlu menyadari bahwa dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, pekerja, atau ibu rumah tangga. Mahasiswa pun merasakan tekanan yang sama, meski dalam diam.
Perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan mahasiswa perlu menjadi bagian dari diskusi publik. Perluasan akses beasiswa, ketersediaan fasilitas pendidikan yang lebih terjangkau, serta upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dapat menjadi langkah yang membantu meringankan beban mahasiswa dan keluarga mereka.
Pada akhirnya, yang membuat banyak mahasiswa tetap bertahan bukan karena uang sakunya selalu cukup. Mereka bertahan karena memahami bahwa setiap rupiah yang dikirimkan orang tuanya adalah hasil kerja keras, pengorbanan, dan harapan yang dititipkan untuk masa depan sang anak. Namun, harapan saja tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap kenyataan. Sebab, hari ini, bagi sebagian mahasiswa, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan tugas atau menghadapi ujian. Tantangan itu juga hadir setiap kali mereka membuka dompet, melihat uang yang tersisa, lalu berharap jumlah itu masih cukup untuk bertahan hingga kiriman berikutnya datang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SYIFA-SAFIRA-Mahasiswi-Program-Studi-Ilmu-Hukum-UIN-Ar-Raniry.jpg)