Senin, 8 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Tambang, Leuser, Perubahan Iklim: Undangan Tragedi Masa Depan Aceh

Ekosistem Leuser bukan sekadar bentang alam konservasi. Ia adalah infrastruktur alami yang menopang seluruh arsitektur kehidupan di Aceh bagian hilir

Tayang:
Editor: Subur Dani
for serambinews
Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Humam Hamid 

Jalan dibuka bukan hanya untuk alat berat, tetapi untuk logika ekonomi baru yang masuk ke dalam sistem ekologis yang sebelumnya tidak mengenal logika tersebut.

Dan begitu logika itu masuk, sejarah hampir selalu bergerak ke arah yang sama: ekspansi.

Dalam banyak kasus global, dari Amazon hingga Kalimantan, jalan akses adalah variabel paling penting dalam menentukan masa depan deforestasi. 

Bukan tambang itu sendiri pada tahap awal, tetapi infrastruktur yang menyertainya. 

Ini adalah detail yang sering diabaikan dalam kebijakan publik, tetapi sangat menentukan dalam sejarah ekologis jangka panjang.

Namun Aceh hari ini tidak hanya menghadapi persoalan klasik deforestasi. Ia menghadapi lapisan risiko tambahan: perubahan iklim.

Baca juga: Pengemudi Fortuner Salah Tekan Gas, 2 Nyawa Melayang dalam Hitungan Detik di Jantung Kota Palembang

Fenomena seperti Siklon “Senyar 25” (2025) bukan sekadar anomali meteorologis. Ia adalah bagian dari pola baru di mana sistem iklim menjadi lebih tidak stabil, lebih ekstrem, dan lebih sulit diprediksi. 

Dalam dunia seperti ini, setiap perubahan kecil di hulu tidak lagi memiliki dampak linear. Ia menjadi amplifikasi.

Apa yang dulu mungkin hanya menghasilkan banjir lokal, kini dapat berkembang menjadi gangguan sistemik lintas wilayah.

Aceh Tamiang menjadi ilustrasi yang sangat jelas. Wilayah ini tidak pernah benar-benar terpisah dari keputusan-keputusan ekologis di hulu. 

Setiap perubahan tutupan hutan di pegunungan Leuser pada akhirnya akan diuji di dataran rendah. Sungai tidak mengenal batas administrasi. Ia hanya mengenal gravitasi.

Baca juga: VIDEO Iran Pakai Rudal Qader dan Drone Shaded Hantam Aset Amerika

Dan di sinilah letak kegagalan paling mendasar dalam banyak kebijakan tata ruang modern: kita mengelola wilayah seolah-olah ia terfragmentasi, sementara alam bekerja sebagai satu sistem yang utuh.

Dalam logika risiko, kita menghadapi ketidakseimbangan yang sangat sederhana tetapi sering diabaikan. Potensi mineral di hulu masih bersifat probabilistik- belum pasti, masih eksploratif, masih tergantung hasil akhir. 

Sebaliknya, nilai ekologis Leuser bersifat deterministik: ia sudah bekerja, sudah terbukti, dan sudah menopang kehidupan selama generasi.

Dalam bahasa ekonomi, ini adalah pertaruhan asimetris. Dan sejarah jarang memihak pada pertaruhan asimetris yang merusak sistem dasar kehidupan.

Ketegangan di Banggalang Beutong Ateuh

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved